Sabtu, 22 Februari 2020

Arsitektur Masjid Yang Tidak Islam

Pada sesi pengantar perkuliahan Arsitektur Masjid semester ini, saya menyampaikan kedudukan arsitektur masjid secara konseptual agar mahasiswa memahami relevansi mempelajari arsitektur masjid dikaitkan dengan identitas dirinya sebagai Muslim dan tujuan pendidikan tinggi yang sedang ditempuhnya untuk menjadi seorang arsitek yang berparadigma Arsitektur Islam. Salah satu pokok fikiran yang saya tekankan ialah tidak ada Arsitektur Islam tanpa arsitektur masjid, sehingga setiap perbincangan dan pengkajian Arsitektur Islam harus melibatkan atau paling tidak mengkaitkan objek arsitektur yang dikaji dengan arsitektur masjid. Pernyataan ini dilandasi pandangan Prof. Tajuddin Rasdi yang menilai bahwasanya arsitektur masjid dari aspek fungsinya merupakan objek arsitektur yang paling penting bagi umat Islam, sehingga menduduki peringkat paling tinggi dalam kehidupan umat Islam. Oleh karena itu Arsitektur Islam sebagai idealitas bagi umat Islam dalam bidang kehidupan arsitekturnya, menjadi tidak dapat dipisahkan dengan arsitektur masjid.

Di akhir sesi perkuliahan, seorang mahasiswa melontarkan pertanyaan terkait pernyataan saya tadi. Ia sampaikan, adakah arsitektur masjid yang tidak merupakan bagian dari Arsitektur Islam? Saya sederhanakan pertanyaan mahasiswa itu dengan kalimat, adakah arsitektur masjid yang tidak Islam?

Saya menjawab, tentu saja ada arsitektur masjid yang tidak Islam, sehingga tidak menjadi bagian dari Arsitektur Islam. Saya menyampaikan dua argumentasi yang melandasi jawaban tersebut. Pertama, di dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah: 107, Allah menyampaikan sebagai berikut:
Dan di antara orang-orang munafik itu ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan pada orang-orang mukmin, untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin, serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka bersumpah, "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta dalam sumpahnya.
Masjid dhirar untuk menyebut masjid yang dibangun oleh kalangan munafik dengan tujuan memecah belah kesatuan umat Islam dan untuk memberikan kemudharatan kepada umat Islam, tidaklah berkesesuaian dengan Islam, karenanya Allah melarang umat Islam beribadah di dalamnya dan memerintahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk merobohkan masjid tersebut. Dengan demikian masjid dhirar, walaupun memiliki bentukan arsitektur yang memukau, tidak dapat dinyatakan sebagai bagian dari Arsitektur Islam.

Masjid dhirar sebagai fenomena keberagamaan yang berdimensi arsitektural, tidak hanya terjadi secara faktual pada masa kehidupan Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Pada masa kini pun fenomena masjid dhirar masih terjadi di mana sekalangan umat Islam memisahkan diri dari jama’ah suatu masjid disebabkan perbedaan pemahaman keagamaan maupun identitas keorganisasian dengan membangun masjid baru yang memiliki kualitas arsitektural lebih tinggi untuk menarik ketertarikan kalangan awam, yang bahkan dari segi jarak masih terbilang sangat dekat dengan masjid lama, sehingga perpecahan di kalangan umat Islam di wilayah tersebut pun tidak terhindarkan.

Kedua, arsitektur masjid tidak dapat dinyatakan sebagai bagian dari Arsitektur Islam jika dalam memahami hakikat arsitektur masjid tidak sesuai dengan perspektif Islam. Persoalan ini didapati asal muasalnya dari referensi arsitektur masjid yang ditulis oleh kalangan ahli Orientalisme, yakni kalangan non Muslim pengkaji Islam, Peradaban Islam dan umat Islam dengan menggunakan perspektif yang bias nilai-nilai Barat, salah satunya pendekatan kesejarahan yang bersifat evolutif. Satu referensi yang dapat saya sebutkan karena menjadi rujukan utama dalam bidang arsitektur masjid di kalangan umat Islam ialah karya Prof. Robert Hillenbrand berjudul Islamic Architecture.

Dalam buku tersebut, Prof. Hillenbrand mengakui kedudukan arsitektur masjid yang sangat penting bagi umat Islam dan peradabannya. Namun demikian, pendekatan kesejarahan yang digunakan untuk mengamati dan mengkaji perkembangan arsitektur masjid di berbagai wilayah Dunia Islam dari berbagai periode waktu yang berbeda sampai pada kesimpulan bahwasanya hakikat masjid ialah perwujudan fisiknya yang terus mengalami perkembangan secara evolutif, meliputi tata ruang masjid dan unsur arsitektural yang melekat pada perwujudan fisik masjid.

Pendekatan kesejarahan untuk memahami hakikat arsitektur masjid, sebagaimana lazim digunakan oleh kalangan Orientalis, menghasilkan dua kesimpulan, yakni (1) perkembangan tata ruang dan unsur arsitektural masjid yang menghasilkan ragam tipologi; dan (2) ciri khas arsitektur masjid dari aspek tata ruang dan unsur arsitekturalnya yang membedakan masjid dengan arsitektur tempat peribadatan umat lain, di antaranya meliputi kubah, minaret, mihrab, dan portal pelengkung pada masjid. Kesimpulan yang dicapai kalangan Orientalis berbeda jika dibandingkan dengan perspektif Islam yang bersumber dari Al-Qur’an untuk memahami hakikat masjid, sebagaimana termuat dalam Surah At-Taubah: 17-18 berikut,
Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada siapapun selain Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
Dan yang termuat pula dalam Surah At-Taubah: 108 berikut,
Janganlah kamu beribadah dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa [Masjid Quba] sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.
Dari tiga ayat Al-Qur’an di atas, hakikat arsitektur masjid menurut perspektif Islam ialah fungsi, perilaku, dan pelaku. Sementara tata ruang dan unsur arsitektural masjid merupakan unsur pendukung yang dapat terus menerus mengalami perubahan maupun perkembangan agar masjid dapat merealisasikan fungsinya, sebagaimana dapat diketahui dengan memahami fungsi-fungsi yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam beserta para Sahabat pada Masjid Nabawi masa awal yang menjadikan Masjid Nabawi masa awal sebagai tolak ukur idealitas arsitektur masjid dalam perspektif Islam. Dengan demikian tidak tepat perspektif kalangan Orientalis yang menetapkan tata ruang dan unsur arsitektural sebagai hakikat arsitektur masjid.

Salah pandang kalangan Orientalis telah terdifusi ke dalam kalangan umat Islam secara luas pada masa kini melalui Kolonialisme fisik, dan terlebih lagi melalui Imperialisme epistemologi. Bukti dari pernyataan ini ialah persepsi kolektif umat Islam dari tingkat awam hingga berpendidikan bahwa kubah, minaret, mihrab, dan portal pelengkung identik dengan masjid, karenanya merupakan ciri khas arsitektur masjid yang tidak dapat ditanggalkan. Pada titik ekstrim kita mendapati sekalangan umat Islam yang berpandangan bahwa unsur-unsur arsitektural tadi hanya diperuntukkan untuk arsitektur masjid, sehingga tidak dapat dinyatakan sebagai masjid, atau tidak sah sebagai arsitektur masjid jika tidak menerapkan salah satu unsur arsitektural yang menjadi ciri khas masjid.

Dampak dari salah memahami hakikat arsitektur masjid bagi umat Islam ialah tidak mampu berperannya masjid untuk mencapai tujuan pembangunannya, yakni memberikan keselamatan bagi umat Islam dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, disebabkan umat Islam terfokus pada peluasan ruang dan peningkatan kualitas arsitektural masjid, bukan pada fungsi, perilaku, dan pelaku. Sampai di sini kita patut bertanya dalam rangka refleksi dan muhasabah. Pada masa kini umat Islam telah memiliki masjid yang dari aspek spasialnya sangat luas hingga mampu mewadahi ribuan jama’ah, serta dari aspek unsur arsitekturalnya tak terhingga megah dan monumental, tetapi mengapa kondisi umat Islam tidak mengalami perbaikan di seluruh aspek kehidupan? Dalam lingkup yang lebih luas lagi, mengapa Peradaban Islam tidak kunjung terwujud? Masjid yang mandul karena tidak mampu mewujudkan tujuan pembangunannya disebabkan salah memahami hakikat arsitektur masjid, menjadikannya tidak dapat dinyatakan sebagai bagian dari Arsitektur Islam.

Demikianlah dua jenis masjid yang tidak Islam dan karenanya tidak merupakan bagian dari Arsitektur Islam disebabkan tidak sesuai dengan perspektif Islam terkait tujuan pembangunan masjid dan hakikat arsitektur masjid, yakni masjid dhirar dan masjid mandul, yang oleh Kuntowijoyo disebutnya dengan masjid stanplat bus. 

1 komentar:

  1. Assalamualaikum bapak Andika, terimakasih untuk tulisannya.

    dari yang saya tangkap di tulisan tersebut adalah bahwa hakikat arsitektur masjid terdapat pada esensi yang tercermin pada fungsi, perilaku, dan pelaku. bukan pada eksistensi bentuk arsitektural yang berperan pada estetika.

    pertanyaan saya adalah jika esensi masjid bukan dilihat pada bentuk fisiknya, apakah eksistensi gubahan massa dan corak estetika pada masjid masih penting bagi keberlangsungan masjid itu sendiri? dan bagaimana tanggapan bapak terhadap fenomena viralnya masjid karya ridwan kamil yang dianggap memiliki gubahan massa menyerupai logo iluminati? apakah hanya worldview kita yang harus diubah atau memang masjidnya juga memiliki pengaruh terhadap keberlangsungan menjalankan fungsinya?

    trimakasih, wassalamualaikum wr. wb

    BalasHapus