Rabu, 26 Februari 2020

Berislam Secara Fungsional

Akhir-akhir ini -perasaan ini bisa jadi merupakan akumulasi dari bertahun-tahun yang lalu- saya jemu mendapati perdebatan seputar teologi di kalangan umat Islam, terutama di media sosial. Misal saja, beranda media sosial saya hampir tidak pernah sepi dengan perdebatan mengenai “Di mana Allah?” “Apakah Allah beristiwa’ di atas Arsy?” “Bagaimana cara Allah beristiwa’ di atas Arys?” Pun untuk beberapa persoalan fikih, saya juga mengalami rasa jemu terkait perdebatan mengenai persoalan hukum mengenakan cadar dan jilbab bagi Muslimah, dan lafadz salam bagi umat Islam. 

Saya mencoba mengambil waktu jeda sejenak untuk mengenali perasaan saya dan apa yang menyebabkan munculnya perasaan demikian. Saya sampai pada dua kesimpulan. Pertama, perdebatan mengenai topik teologi dan fikih yang menjadi khusus persoalan umat Islam, tidak tepat dan tidak pantas dilakukan dan ditampilkan di ruang media sosial yang bersifat terbuka dan plural, sehingga siapa pun, termasuk non Muslim dapat mengetahui kekisruhan yang terjadi di tengah umat Islam. Sementara bagi umat Islam yang berstatus awam dan mulai mempelajari agamanya, perdebatan masalah teologi dan fikih yang sangat spesifik dan rumit justru menyebabkan kebingungan, alih-alih memberikan pencerahan. Kedua, di tengah kondisi kehidupan umat Islam dan peradabannya pada masa kontemporer yang diliputi berbagai masalah di seluruh dimensi kehidupan, perdebatan seputar teologi dan fikih yang tidak berpijak pada realitas kehidupan umat Islam dan tidak berpengaruh pada peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, bagi saya tidaklah tepat untuk tidak mengatakannya tidak memiliki daya guna.

Salah satu permasalahan pelik yang sedang dialami umat Islam di seluruh penjuru dunia pada masa kini ialah ketimpangan ekonomi. Sekarang mari kita periksa, apakah pertanyaan teologis sebagaimana sudah saya kutipkan di awal tulisan ini memang berkaitan dengan permasalahan tersebut dan apakah jawabannya dibutuhkan untuk menanggulangi permasalahan tadi? Berbeda jika persoalan teologi yang diperdebatkan mengenai kausalitas yang dikenal dengan istilah sunnatullah dalam khazanah keilmuan Islam yang sangat dibutuhkan oleh pemikir dan ilmuwan Muslim untuk melakukan rekonstruksi ilmu pengetahuan yang berasaskan Tauhid dalam rangka menghadapi faham Sekularisme yang menjadi permasalahan utama aktivitas IPTEK pada masa kini. Walaupun demikian, perdebatan mengenai persoalan kausalitas tidak harus terjadi pada masa kini mengingat kalangan ulama terdahulu telah membahasnya panjang lebar. Kita sebagai generasi penerus hanya tinggal memanfaatkan hasil jerih payah kerja keilmuan generasi pendahulu untuk menghadapi tantangan zaman kini.

Saya mengamati dan mengalami perdebatan teologi dan fikih yang terjadi sangat kuat dipengaruhi motif pengerasan identitas kelompok, sehingga mengorbankan kesatuan sosial umat Islam yang justru dibutuhkan dan merupakan syarat utama untuk menghadapi berbagai persoalan pelik pada zaman kini. Jalan keluar dari permasalahan ini, bagi saya, untuk persoalan teologi yang menjadi perdebatan berabad-abad lamanya di kalangan umat Islam, alangkah baiknya jika diterima sebagai kekayaan khazanah pemikiran umat Islam sejauh dalam batas-batas yang diterima dan diberi keleluasaan bagi umat Islam untuk menganut salah satu pendapat dari kalangan ulama yang berwibawa sesuai dengan pemahaman dan kebermaknaan keimanan bagi dirinya untuk mengamalkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Begitupula untuk persoalan fikih yang sejak berabad-abad lalu telah selesai dibahas agar beragam pendapat dari kalangan ulama dapat diterima dan diberi keleluasaan bagi umat Islam untuk menerapkan salah satu pendapat sesuai dengan pemahaman keberagamaan dan kondisi kehidupannya masing-masing.

Saya hendak meruncingkan pembahasan mengenai cadar yang tidak saja diperdebatkan status hukumnya menurut fikih oleh umat Islam dengan melontarkan pendapat keempat mazhab fikih dan selainnya, tetapi juga diperdebatkan secara semiotik sebagai penanda khas kalangan fundamentalis yang kerapkali melakukan perbuatan terorisme atas nama Islam. Bagi saya perdebatan fikih dan stereotip mengenai cadar dapat selesai jika menerima cadar sebagai tradisi berpakaian umat Islam karena secara faktual-historis, penggunaan cadar di kalangan Muslimah telah diwariskan antar generasi dan telah dikenakan dalam jangka waktu yang sangat panjang. Diterimanya pandangan ini; cadar sebagai tradisi berpakaian umat Islam, menjadikan perdebatan masalah hukum selesai karena sebagai tradisi paling tidak status hukumnya menjadi mubah, sekaligus menjadi landasan bagi konsensus umat Islam untuk melawan stereotip buruk yang dilekatkan pada cadar. Begitupula untuk persoalan bendera bertuliskan kalimat Tauhid yang juga distereotipkan sebagai penanda khas kalangan fundamentalis.

Saya menamakan sikap beragama sebagaimana di atas dengan sebutan berislam secara fungsional, yakni memahami, membincangkan, dan mengamalkan Islam yang mengakar dengan realitas kehidupan sehari-hari dan konteks tantangan kehidupan yang sedang dihadapi umat Islam. Oleh karenanya, perbincangan perihal teologi tidak bisa tidak harus dikaitkan dengan peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, paling tidak beragam pendapat teologi yang disampaikan harus mampu memberi makna bagi umat Islam untuk menjalani kehidupannya sehari-hari. Misal saja, tidak lagi relevan membahas panjang lebar kelemahan argumentasi Qadariyah yang secara faktual menjadi pegangan bagi Prof. Jeffrey Lang dan kalangan ilmuwan di Amerika Serikat untuk menemukan kebenaran Islam dan menjalani kehidupan sehari-hari yang bermakna sebagai seorang Muslim. Begitupula dengan persoalan fikih yang menjadi pintu pertama bagi umat Islam untuk bersentuhan dengan realitas sehari-hari agar pembahasannya secara substansial konteks dengan kebutuhan umat Islam sehingga umat Islam memiliki panduan untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Syariat. Contoh saja masalah pemanfaatan jalur pedestrian untuk berdagang yang menjadikannya tidak dapat digunakan oleh pejalan kaki dan peseda merupakaan persoalan dalam kehidupan urban modern yang seharusnya dibahas oleh kalangan ahli di bidang fikih sebagai panduan perencanaan dan pemanfaatan jalur pedestrian.

Dengan sikap berislam secara fungsional, pertanyaan teologis seperti di awal tulisan ini tidak mendesak untuk diperbincangkan, selain karena telah dibahas dalam waktu yang sangat panjang dalam hitungan abad, juga karena tidak dibutuhkan oleh umat Islam untuk menjalani kehidupannya pada masa kini. Terkecuali jika jawaban atas pertanyaan tersebut mempengaruhi tingkat keimanan umat Islam yang dibutuhkannya secara psikologis untuk menghadapai tantangan zaman pada masa kini atau secara langsung dapat membentuk cara pandang dan tata perilaku umat Islam untuk menjalani kehidupan sehari-hari, maka deretan pertanyaan tadi dapat kembali dibahas untuk dicarikan jawabannya dengan merujuk pada khazanah keilmuan Islam pada masa lalu maupun dengan merumuskan jawaban baru dalam batas-batas yang diperbolehkan dan dapat diterima. 

Gambar: Abul A'la Maududi; pemikir Islam yang cemerlang dari Pakistan

Secara konseptual, sikap berislam secara fungsional memiliki benihnya dalam pemikiran Abul A’la Maududi, seorang pemikir Islam yang cemerlang dari Pakistan. Maududi menyatakan, dalam konteks kehidupan masa kini pengujian terhadap paham keagamaan di kalangan umat Islam tidak lagi cukup dengan timbangan koherensi di mana setiap premis yang disampaikan saling berhubungan dan saling menguatkan, sehingga tidak terdapat kontradiksi antar premis, tetapi harus diuji dengan timbangan korespondensi, bahwa paham keberislaman yang dianut dapat merubah realitas kehidupan umat Islam menjadi sesuai dengan idealitas Islam. Tanpa pengujian korespondensi, umat Islam hanya akan sibuk dengan perdebatan tanpa aksi nyata untuk mengamalkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu dalam konteks di Indonesia menyoal Islam Berkemajuan dan Islam Nusantara, saya pun menggunakan perspektif ini. Manakah di antara keduanya yang dapat menjayakan Peradaban Islam, itulah yang dibutuhkan oleh umat Islam pada masa kini.

Dengan sikap ini, yakni berislam secara fungsional, umat Islam akan terhindarkan dari perdebatan yang menyebabkan disintegrasi sosial umat Islam, dan lebih penting lagi, Islam sebagai kebenaran tunggal dan mutlak yang diyakini oleh umat Islam dapat mewujud dalam seluruh aspek kehidupan. Berislam secara fungsional mendorong Islam tidak terhenti pada konsep yang disampaikan secara verbal, tetapi menghendaki Islam direalisasikan di seluruh aspek kehidupan untuk merubahnya sesuai idealitas Islam. Dengan begitu, teologi bukanlah realitas abstrak yang mengawang-awang, tetapi senantiasa terjalin, berkelindan, dan terhubung dengan realitas kehidupan umat Islam. Pun demikian dengan fikih yang secara fungsional menjadi dibutuhkan oleh umat Islam sebagai jalan mencapai keselamatan di dunia. Sekiranya demikianlah Islam, menurut Sidi Gazalba, yang menjadikan kehidupan dunia sebagai jalan satu-satunya menuju alam akhirat. Siapa yang beruntung di akhirat, ialah yang telah berupaya menjadikan kehidupan dunia selayaknya surga bagi seluruh makhluk ciptaan Tuhan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar