Senin, 24 Februari 2020

Pragmatisme Sains

Sains Sebagai Jalan Kebangkitan

Prof. Abdus Salam, seorang ilmuwan fisika berkebangsaan Pakistan dan peraih penghargaan Nobel fisika pada tahun 1979, mengungkapkan pandangan pragmatisnya terhadap sains dalam kata pengantar buku Islam and Science Religions Orthodoxy and the Battle for Rationality karya Prof. Pervez Hoodbhoy. Buku ini telah diterjemah ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Pustaka berangka tahun terbit 1997. 



Abdus Salam membuka pembahasannya dengan menegaskan bahwasanya hanya terdapat satu jenis sains di dunia pada masa kini, yakni sains yang lingkup problem dan paradigmanya bersifat universal. Tidak lain yang dimaksud oleh Abdus Salam adalah sains berparadigma Positivisme yang pada masa kini merupakan paradigma arus utama dalam pengkajian sains, terutama dalam rumpun ilmu alam. Berdasarkan pernyataannya ini, Abdus Salam menolak penisbatan sains kepada agama dan pengaruh sikap keberagamaan seorang ilmuwan terhadap aktivitas sains yang dilakukannya, sebagaimana merupakan watak paradigma Positivisme yang menyatakan bahwasanya sains bebas nilai dan terpisah dari agam. Dengan pandangan yang dianutnya, Abdus Salam mengambil posisi yang jelas untuk tidak menerima sains Islam, Hindu, Yahudi, Konfusian, maupun sains Kristiani. Baginya, tidak saja secara konseptual epistemologi, secara kebahasaan pun rangkaian istilah tersebut merupakan kesalahan.

Untuk mensahkan pandangannya, bahwasanya sains ialah bebas nilai sehingga bersifat universal untuk seluruh umat manusia tanpa sekat agama maupun keyakinan lainnya, Abdus Salam menyinggung Steven Weinberg yang juga peraih Nobel fisika pada tahun 1979, bersamaan dengan penghargaan Nobel yang diraih olehnya. Abdus Salam menyatakan, perbedaan antara dirinya dan Weinberg terletak pada latarbelakang identitas di mana dirinya merupakan seorang beriman dan Weinberg seorang penganut atheisme. Namun demikian, perbedaan identitas tidak berpengaruh terhadap aktivitas sains yang dilakukan oleh Abdus Salam dan Weinberg, bahwa hasil penelitian yang dilakukan oleh keduanya yang terpisah jauh secara geografis dan waktu mencapai kesimpulan yang sama dan saling menguatkan. 

Setelah menegaskan universalitas sains, yang berarti sains berpardigma Positivisme, Abdus Salam melihat realitas Dunia Muslim kontemporer yang dinilainya dalam kondisi sangat lemah dalam aspek perwujudan sains, yang karena kondisi tersebut menjadikan peradaban umat Islam pada masa kini merupakan peradaban yang paling lemah di antara peradaban-peradaban lain di muka bumi. Kondisi demikian mengkhawatirkan Abdus Salam, karena lemahnya penguasaan sains mengancam kelangsungan hidup umat Islam. Hal ini dikarenakan pada zaman kini, bagi Abdus Salam, untuk suatu masyarakat dapat bertahan hidup mutlak membutuhkan penguasaan sains dan penerapannya dalam bentuk teknologi dalam kehidupan manusia, tidak terkecuali umat Islam.

Setelah menjelaskan realitas kehidupan umat Islam, Abdus Salam menyatakan agar umat Islam dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, bahkan mencapai kejayaan peradabannya, yang harus dilakukan adalah memperkuat penguasaan terhadap sains dan teknologi yang bernilai universal. Dengan kata lain, bagi Abdus Salam, satu-satunya jalan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas kehidupannya adalah penguasaan terhadap sains dan teknologi berparadigma Positivisme. Inilah pandangan pragmatisme Abdus Salam terkait sains dan teknologi yang dibutuhkan umat manusia sebab kegunaan praktisnya untuk kelangsungan kehidupan. Abdus Salam dengan tegas menyatakan (1997: vi),
“Saya setuju bahwa pragmatisme mungkin menyuguhkan satu cara yang melaluinya sains dapat tumbuh di negeri-negeri Muslim”
Dengan pandangan pragmatis, sains berparadigma Positivisme yang memampukan manusia untuk memprediksi dan mengontrol alam, menurut Abdus Salam dibutuhkan umat Islam untuk meningkatkan kehidupan perekonomiannya. Pandangan pragmatis yang digunakan oleh Abdus Salam berarti kebergunaan sains untuk mendulang kekayaan bagi Dunia Muslim. Jika cara ini direalisasikan dan tujuannya tercapai, Abdus Salam berkeyakinan sains dan ilmuwan akan diterima, bahkan dipandang dengan penuh kehormatan oleh umat Islam, terkhusus kalangan ulama ortodoks yang dinilai oleh Abdus Salam turut melemahkan aktivitas sains di Dunia Muslim dengan melakukan perlawanan terhadap pemikiran rasional yang telah berlangsung berabad-abad lamanya.

Untuk mencapai kejayaan peradaban melalui sains, lebih spesifik lagi kejayaan di bidang perekonomian, Abdus Salam mensyaratkan diberikannya kebebasan kepada kalangan ilmuwan di Dunia Muslim untuk membentuk komunitas keilmuan dalam skala internsional dan mengadakan aktivitas sains tanpa campur tangan pihak pemerintah. Sementara itu dalam rangka memajukan sains, pihak pemerintah berperan menyediakan infrastruktur dan pendanaan yang dibutuhkan untuk melangsungkan dan keberlanjutan aktivitas sains. Di bidang pendidikan, Abdus Salam memberi arahan kepada pemerintah untuk merancang sistem pendidikan yang mampu menghasilkan ilmuwan dengan kualitas sebanding dengan dunia internasional, terutama ilmuwan di bidang ilmu terapan yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan teknologi di Dunia Muslim dalam rangka meningkatkan kehidupan ekonomi, sehingga aktivitas sains di Dunia Muslim dalam jangka waktu dekat dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat Islam. 

Demikianlah pragmatisme sains dalam pandangan Abdus Salam yang bertujuan ekonomis untuk digunakan umat Islam menjayakan kembali peradabannya dengan ciri khas, (1) sains bebas nilai dari bias keagamaan dan bersifat universal; dan (2) sains digunakan untuk melakukan kontrol terhadap alam melalui perwujudannya dalam bentuk teknologi, dengan tujuan bernilai ekonomi. Pertanyaannya, adakah masalah dalam pandangan ini?

Menolak Pragmatisme Sains

Nilai pragmatis sains untuk meningkatkan kehidupan ekonomi tidaklah salah, bahkan secara faktual memang dibutuhkan oleh Dunia Muslim yang hingga hari ini masih berkutat dengan permasalahan ekonomi yang pelik. Oleh karenanya pembangunan sains di Dunia Muslim untuk tujuan ekonomi memang dibutuhkan. Namun demikian, perlu dicatat dua hal terkait tujuan ini. Pertama, realisasi paradigma Positivisme dalam sains hingga hari ini berkelindan dengan kepentingan dan kekuasaan kalangan pemodal, sehingga tujuan sains untuk memajukan kehidupan ekonomi sebagaimana dikehendaki Abdus Salam, pada kenyataannya ialah digunakannya sains oleh kalangan pemodal untuk melakukan akumulasi kapital. Dampak yang terjadi dalam bidang ekonomi adalah tumbuh suburnya kesenjangan di tengah masyarakat dan terjadinya disintegrasi sosial kelas masyarakat berdasarkan tingkat kepemilikan ekonomi.

Dalam iklim di mana sains tunduk pada tujuan ekonomi kalangan pemodal, kebebasan kalangan ilmuwan sebagaimana didambakan dan disyaratkan Abdus Salam pun hanyalah sekedar impian di siang bolong, karena pada kenyataannya ilmuwan hanyalah salah satu skrup industri di antara skrup-skrup lainnya yang bekerja pada kalangan pemodal. Dengan bahasa yang lebih jelas, ilmuwan tak ubahnya buruh yang melakukan eksplorasi ilmiah demi keuntungan ekonomi atas apresiasi kinerjanya oleh pemilik industri. Walaupun kondisi ini tidak menampik kepuasan ilmiah yang didapatkan seorang ilmuwan setiap kali mencapai hasil penelitian yang memuaskan rasa ingin tahunya. Namun kepuasan ini bersifat minor dan sekunder di tengah sistem kapitalistik yang menjadikan kepuasan ekonomi sebagai orientasi utama. 

Kedua, penerapan paradigma Positivisme untuk mengontrol alam melalui teknologi menyebabkan berbagai kerusakan di muka bumi, meliputi kerusakan lingkungan, manusia individual hingga lingkup sosial, hewan, dan tumbuhan. Tidak terkecuali wilayah Dunia Muslim di mana sains dikatakan oleh Abdus Salam dalam kondisi sangat lemah, terjadi pula dampak kerusakan di berbagai dimensi kehidupan umat Islam akibat intervensi dunia maju untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dari sumber daya yang dimiliki umat Islam di wilayah kehidupannya. Di sinilah kerusakan konseptual sains yang bebas nilai, sekaligus menampakkan ironi dan kontradiksi bahwasanya sains yang dinyatakan dan diyakini bebas nilai oleh Abdus Salam, pada prakteknya tidaklah benar-benar bebas nilai karena dilandasi dan diarahkan oleh nilai ekonomi untuk kepentingan kalangan pemodal.

Untuk menghindarkan umat Islam dari dampak buruk sains sekaligus untuk menyelesaikan berbagai dampak buruk realisasi sains berparadigma Positivisme dalam kehidupan manusia, satu-satunya jalan yang harus dilalui ialah meletakkan sains dan aktivitasnya di atas nilai-nilai luhur. Bagi umat Islam, nilai-nilai itu tidak lain ialah Islam. Sains yang berasaskan Islam akan menjadikan muatannya, arah tujunya, dan panduannya terwarnai Islam, sehingga dinamakan Sains Islam. Jalan inilah yang ditolak Abdus Salam dengan anggapannya hanya ada satu jenis sains yang bersifat universal. 

Pembangunan Sains Islam, yakni sains yang bermuatan nilai-nilai luhur dari Allah, tidak saja ditujukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan ekonomi di Dunia Islam, tetapi juga yang jauh lebih penting adalah terjadinya pemerataan atau keadilan ekonomi bagi seluruh masyarakat, sehingga menghindarkan umat Islam dari terjadi kesenjangan yang memicu disintegrasi sosial. Realisasi sains yang dilandasi nilai-nilai Islam akan meningkatkan kualitas kehidupan manusia di seluruh aspek kehidupannya, dan terjaganya kelangsungan kehidupan seluruh makhluk meliputi hewan, tumbuhan, hingga mineral. Dengan begitu tidak terjadi eksploitasi yang berdampak pada kerusakan ekosistem. Di sinilah sains menjadi alat bagi manusia untuk mencapai tujuan hidupnya sebagai khalifatullah di muka bumi. Di atas itu, Sains yang berasaskan keyakinan Islam bertujuan untuk mendekatkan seorang hamba kepada Allah sebagai Pencipta seluruh alam. 

Dua tujuan Sains Islam sebagaimana di atas, yakni sains yang bersepadu dengan status manusia sebagai hamba sekaligus wakil Allah di muka bumi, ialah satu-satunya jalan kebangkitan Peradaban Islam dan merupakan hakikat pembinaan peradaban dalam perspektif Islam. Dengan begitu, pandangan pragmatisme terhadap sains yang dianut oleh Abdus Salam tidak dapat diterima dan karenanya tidak memiliki ruang di dalam Peradaban Islam untuk direalisasikan, sebab sains dalam perspektif Islam tidak sekedar alat untuk menumpuk kekayaan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar