Senin, 02 Maret 2020

Membidik Harari (Bagian 1)

Memposisikan Harari

Nama Yuval Noah Harari; seorang profesor di bidang sejarah dari Universitas Ibrani Yerusalem, melalui dua karya bukunya berjudul Homo Sapiens dan Homo Deus, selain itu melalui channel Youtube pribadi yang digunakan Harari untuk menyampaikan gagasan dan pandangannya, tengah menjadi buah bibir di kalangan intelektual di Indonesia. Kemunculan Harari tidak saja merupakan sebuah peristiwa intelektual yang sedang riuh dibaca, didiskusikan, maupun didebat pada masa kini. Jika ditelusuri sejarah intelektual Barat sejak masa Modern, setiap kali terjadi krisis peradaban yang menandai peralihan periode dalam Peradaban Barat, selalu muncul tokoh intelektual yang melalui karya-karyanya mengarahkan masyarakat untuk menyambut masa depan sekaligus memberikan gambaran yang mudah ditangkap oleh masyarakat perihal zaman baru yang akan datang. Melihat keberulangan peristiwa yang sama, dalam tulisan ini saya hendak menjelaskan kemunculan Harari sebagai bagian dari fenomena tersebut yang menandai peralihan periode dalam Peradaban Barat.

Gambar: Yuval Noah Harari

Kita sejenak mundur ke belakang untuk membaca fenomena ini. Ketika Modernisme dengan gerak liniernya memasuki fase Revolusi Industri 2.0 yang merubah manajemen pabrik menjadi lebih efisien dalam hal pengaturan peran tenaga kerja terkait proses produksi, muncul seorang intelektual berlatarbelakang keilmuan psikologi bernama Erich Fromm yang dalam serangkaian karya bukunya melihat efisiensi industrialisasi yang sedang dialami masyarakat Barat berpotensi besar, dan memang secara faktual pada zamannya telah membuktikan, terjadinya krisis kemanusiaan. Fromm mengkritik industrialisasi yang menyebabkan terjadinya dehumanisasi, sehingga mendegradasi kualitas kehidupan manusia. Perlu digarisbawahi kritik yang disampaikan Fromm bukan dalam rangka menentang industrialisasi. Melalui karya-karyanya, Fromm memberikan panduan bagi masyarakatnya yang pada masa itu sedang bergeliat memasuki fase Revolusi Industri 2.0 untuk mewujudkan industrialisasi yang manusiawi dengan memperhatikan aspek spiritualitas manusia dalam kegiatan produksi, distribusi, hingga konsumsi.

Kita tidak membicarakan apakah kritik dan arahan yang disampaikan Fromm berhasil merubah wajah industri di Dunia Barat. Yang patut diperhatikan ialah kemunculan Fromm sebagai intelektual di tengah krisis yang sedang dialami masyarakatnya. Tidak hanya sekali itu saja Fromm berperan. Ketika gerak Modernisme memasuki periode Modernisme-Lanjut atau High-Modernism melalui perkembangan industrialisasi memasuki fase Revolusi Industri 3.0 ditandai dengan ditemukannya teknologi komputer, Fromm sekali lagi melontarkan kritik teknologi teknologisasi kehidupan manusia melalui perangkat komputer sekaligus memberikan arahan kepada masyarakatnya untuk mengimbangi perkembangan teknologi komputerisasi dengan menumbuhkan spiritualitas dalam diri. Di sini pun kita tidak akan mempersoalkan spiritualitas yang dimaksud oleh Fromm yang diidentikkan olehnya dengan raca mencintai kepada sesama umat manusia.

Krisis kebudayaan yang memuncak pada tahun 1968 di Prancis yang menjadikan gerak Peradaban Barat bercabang menuju dua arah berbeda, yakni Modernisme-Lanjut (High-Modernism) dan Posmodernisme (Postmodernism), muncul tokoh intelektual selain Fromm. Ialah Alvin Toffler yang optimis dengan arah gerak menuju Posmodernisme melalui karyanya yang fenomenal berjudul Future Shock dan The Third Wave. Toffler alih-alih memprediksi, dalam karyanya memberikan panduan kepada masyarakatnya untuk beralih arah mengikuti gerak zaman yang tidak lagi linier ke depan. Dengan semangat keberagaman yang dilandasi pandangan Relativisme, untuk menyebutkan satu saja panduan yang diberikan Toffler, ia menyatakan pada masa depan terjadi perubahan model keluarga yang tidak saja terdiri dari dua orangtua dengan jenis kelamin berbeda, tetapi juga muncul model keluarga di mana orangtua terdiri dari sesama wanita maupun sesama pria yang mampu memiliki dan membesarkan anak-anaknya sebagaimana model keluarga tradisional. Toffler membicarakan ini pada awal tahun 1980an yang kini telah mewujud secara faktual dalam kehidupan masyarakat Barat dan tengah menjadi perdebatan sengit di kalangan masyarakat Muslim.

Nama lain yang patut dibicarakan adalah Arnold Toynbee yang berada dalam posisi yang sama dengan Erich Fromm. Toynbee dalam dialognya bersama Wakaizumi yang termuat dalam bukunya berjudul Surviving the Future, ia mengarahkan masyarakatnya agar berjalan jauh ke arah depan di atas lintasan gerak Modernisme-Lanjut untuk mewujudkan masyarakat internasional yang menyandang identitas tunggal dan menuturkan satu bahasa bersama. Bagi Toynbee gagasan kesatuan masyarakat merupakan gerak sejarah yang tidak terhindarkan bagi umat manusia. Menurutnya, krisis yang sedang dialami manusia di seluruh aspek kehidupannya akibat industrialisasi, mengarah pada penyatuan umat manusia untuk menghadapi bersama berbagai masalah tersebut. Secara politis, penyatuan masyarakat mengarah pada satu pemerintahan yang menaungi seluruh umat manusia, sehingga bagi Toynbee, umur negara bangsa tidak akan lama lagi akan mencapai ajal kematiannya untuk berganti dengan sistem pemerintahan global.

Kesatuan masyarakat yang disampaikan Toynbee tidaklah mengawang-awang jika kita merasakan semakin kaburnya batas antar masyarakat pada hari ini akibat teknologi informasi yang menjadikan aspek geografis, bahkan kultural, tidak lagi relevan sebagai pembeda antar komunitas manusia. Dalam kesempatan wawancara yang sama, dengan jelas Toynbee menyampaikan langkah teknis diwujudkannya kesatuan masyarakat yang menurutnya merupakan peran Persarikatan Bangsa-bangsa dengan cara mendirikan universitas di berbagai belahan dunia yang berada di bawah kepemilikan dan pengelolaan PBB untuk menanamkan nilai-nilai bersama sebagai umat manusia, identitas tunggal sebagai warga dunia, dan satu bahasa sebagai media bertutur bersama. Sehingga bagi Toynbee, berhasil atau tidaknya rencana masa depan ini sangat bergantung kepada PBB sebagai pihak yang melampaui pemerintahan negara bangsa.

Dalam posisi yang sama dengan Fromm dan Toynbee, yakni di atas gerak Peradaban Modenisme-Lanjut kita dapat memposisikan Harari. Ketiganya memiliki kesamaan, yakni memandang positif industrialisasi yang merupakan keniscayaan dari gerak linier sejarah bagi umat manusia untuk mencapai Pencerahan. Sementara itu Toffler, walaupun menyinggung industrialisasi, tetapi ia meyakini gerak siklus sejarah yang menjadikan yang kini dan yang akan datang berjalin kelindan dengan yang lalu. Akan sampai pada satu titik di mana gerak industrialisasi dengan kemajuan teknologinya akan berjalan bersamaan dengan gaya hidup tradisional yang kembali dipraktekkan oleh segenap masyarakat pada masa mendatang, demikian prediksi sekaligus panduan dari Toffler. 

Kembali kepada Harari, jika peran Fromm, Toffler, dan Toynbee berada pada peralihan Revolusi Industri 2.0 menuju Revolusi Industri 3.0, maka peran Harari berada pada peralihan Revolusi Industri 3.0 menju Revolusi Industri 4.0. Keempat tokoh intelektual Barat tersebut memiliki kesamaan dalam hal mengusung pandangan Humanisme. Perbedaannya, Harari berpandangan zaman baru yang telah berada di depan mata dengan kemajuan di bidang genetika, bioteknologi, dan kecerdasan buatan, ialah merupakan fase selanjutnya bagi umat manusia untuk menaiki tangga evolusi yang lebih tinggi. Dengan seperangkat teknologi yang dikembangkannya, manusia akhirnya menemukan jalan untuk melampaui kematian. Inilah tahap selanjutnya evolusi manusia, sebagaimana Janji Pencerahan di mana akan tiba suatu masa manusia menjadi tuhan bagi dirinya sendiri dan makhluk lainnya. Untuk mencapai tujuan itu, Harari menunjukkan dua jalan menuju masa depan, yakni Tekno-Humanisme dan Dataisme yang keduanya saling beriringan dan berpotongan.

Demikianlah seharusnya Harari diposisikan sebagai intelektual dalam gerak sejarah Peradaban Barat, yakni sebagai seorang Futuris yang menawarkan blueprint masa depan peradaban manusia, bukan sebagai seorang sejarahwan. Oleh karenanya, dalam magnum opus-nya bertajuk Homo Sapiens dan Homo Deus, tak penting bagi kita untuk memperhatikan, apalagi meributkan fakta-fakta sejarah yang ditampilkan Harari. Yang harus menjadi perhatian kita adalah menangkap narasi yang hendak dikonstruksi dan disampaikan oleh Harari melalui fakta-fakta sejarah yang dirangkai, dipilah dan dipilih untuk memberikan gambaran masa depan umat manusia di mana Homo Sapiens berevolusi menjadi Homo Deus, yakni manusia yang hidup bersama dan berbagi ruang kehidupan dengan mesin cerdas serta memiliki kemampuan fisik yang ditingkatkan melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan yang diintegrasikan dengan organ biologis manusia. Membayangkan Homo Deus sebagai masa depan umat manusia, semoga saja, sebagaimana pernyataan Harari, bukanlah jalan buntu bagi eksistensi manusia!

2 komentar: