Sabtu, 07 Maret 2020

Membidik Harari (Bagian 2-Selesai)

Menguliti Pemikiran Harari

Yuval Noah Harari melalui dua magnum opus-nya berjudul Homo Sapiens dan Homo Deus, dikenal dan tengah menjadi buah bibir di kalangan intelektual hingga pembelajar di Indonesia. Sebagiannya menyambut positif pemikiran Harari, sebagian yang lainnya melakukan penolakan. Penolakan terhadap Harari didasari beragam argumentasi. Sebagiannya didasari latarbelakang Harari sebagai seorang Yahudi, penganut Atheisme, dan pelaku homo seksual, sementara sebagian yang lain melakukan penolakan terhadap karya Harari disebabkan ketidaksetujuan terhadap penafsiran sejarah yang disuguhkan Harari di dalam dua bukunya. Pihak pertama yang menolak Harari menilainya sebagai ilmuwan yang tidak beradab, sehingga gagasannya tidak pantas untuk dipelajari apalagi didiskusikan, sedangkan pihak kedua menilai Harari sebagai sejarahwan yang liar dalam penafsiran yang menjadikan karyanya bernilai janggal.

Saya hendak menyoroti lebih jauh kalangan yang mengapresiasi, bahkan mengamini pandangan Harari. Dua hal yang dinilai menarik dari Harari oleh kalangan ini ialah (1) kapasitasnya sebagai sejarahwan yang mampu menarasikan sejarah panjang umat manusia hingga prediksi masa depan eksistensi manusia dengan bahasa populer, sehingga mudah dipahami oleh kalangan awam sekalipun; dan (2) analisa Harari yang mengungkap kemampuan fundamental Homo Sapiens untuk bertahan hidup, yakni berbahasa yang menjadikan manusia mampu berkomunikasi dengan sesamanya, sehingga meniscayaakan terbentuknya komunitas sebagai wadah bagi manusia untuk bekerjasama dalam rangka mempertahankan hidup dan kehidupannya. Dengan kekuatan komunal ini, Harari menyatakan, memampukan Homo Sapiens mempertahankan eksistensinya dengan cara menyingkirkan sesama manusia dari jenis berbeda yang dianggap sebagai pesaing dalam hal penguasaan ruang kehidupan dan sumber daya makanan.

Di tengah pro dan kontra terhadap sosok Harari dan pemikirannya, dalam bagian kedua tulisan ini saya hendak menguliti pemikiran Harari untuk menjadi perhatian dan ditanggapi, terutama oleh kalangan cerdik pandai umat Islam mengingat pemikiran Harari yang disampaikannya dengan bahasa populer telah terdifusi ke dalam lingkungan pemuda Muslim yang menyebabkan goncangan keimanan dan perubahan cara pandang terhadap realitas kehidupan. Kita mulai dengan pemikiran pertama yang harus diwaspadai dari Harari ialah pandangannya terhadap gerak sejarah ke depan dalam lintasan garis linier. Pandangan demikian merupakan khas kalangan evolusionis yang meyakini manusia dan peradabannya senantiasa mengalami proses evolusi yang tidak terhindarkan untuk mencapai tingkatan lebih tinggi, yang berarti lebih baik. 

Dalam lingkup individu manusia, Harari berpandangan Homo Sapiens akan menapaki tangga evolusi yang lebih tinggi dengan memanfaatkan kemajuan ilmu genetika dan bioteknologi. Dengan kecerdasan buatan (Artificial Intellegent) yang dikonfigurasikan dengan sistem biologis tubuhnya, meniscayakan manusia melampaui kematian untuk menapaki tangga Homo Deus, yakni manusia yang menjadi tuhan bagi dirinya sendiri dan makhluk selainnya. Sementara dalam lingkup peradaban, Harari berpandangan gerak linier peradaban manusia menempatkan teknologi sebagai indikator kemajuan suatu peradaban, sehingga peradaban masa kini dengan perangkat teknologi yang memampukan manusia menapaki tingkat evolusi lebih tinggi dinilai lebih baik dan lebih maju dibandingkan peradaban-peradaban lainnya maupun peradaban manusia sebelumnya.

Dengan cara pandang evolusionis, Harari mengungkap kemampuan berbahasa manusia untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Dengan bahasa, manusia mencipta realitas intersubjektif yang diyakini kebenarannya secara kolektif dalam lingkup suatu komunitas. Salah satunya ialah agama yang merupakan bukti dari kemampuan manusia mencipta realitas intersubjektif. Sebagai bagian dari peradaban manusia, agama tak luput dari gerak sejarah yang mengarah ke depan dalam lintasan garis linier. Bemula dari sistem keyakinan tradisional seperti anismisme dan dinamisme, agama manusia berevolusi menjadi politeisme dan monoteisme. Dalam narasi Harari, dengan meningkatnya evolusi manusia menjadi Homo Deus, agama tidak lagi dibutuhkan karena pada tingkat ini manusia tidak lagi membutuhkan agama yang merupakan hal lain di luar dirinya untuk menopang eksistensi atau keberlanjutan hidupnya. Dengan kata lain, Atheisme adalah kondisi manusia yang tidak terhindarkan sebagai konsekuensi dari gerak sejarah.

Pertanyaannya, benarkan kualitas manusia masa kini yang dalam kehidupan kesehariannya ditopang perangkat teknologi tinggi lebih baik dibandingkan manusia dan peradabannya pada masa lalu? Secara faktual, kualitas manusia dari aspek moralnya terus mengalami degenerasi karena manusia semakin lekat dengan hasrat dan semakin jauh dari spiritualitas, salah satunya ditandai dengan fenomena LGBT yang merebak di negeri Barat. Sementara itu peradaban kontemporer yang ditandai dengan teknologisasi dalam seluruh aspek kehidupan manusia justru menyebabkan krisis, dari lingkup individu manusia, masyarakat, hingga lingkungan. Apakah krisis yang bersifat multi-dimensional tersebut akan teratasi dengan disingkirkannya agama dalam ruang kehidupan manusia, ataukah berbagai permasalahan pelik yang diderita manusia pada hari ini disebabkan semakin jauhnya manusia dari panduan agama?

Pemikiran kedua ialah faham materialisme yang melandasi pemikiran Harari mengenai gerak sejarah yang bersifat evolutif. Dalam lingkup individu Harari berkeyakinan dengan kemajuan di bidang genetika dan bioteknologi meniscayakan manusia melampaui kematian karena baginya persoalan kematian ialah persoalan kegagalan sistem biologis manusia untuk berkerja. Jika jantung dapat dibuat oleh manusia di laboratorium dengan kinerja yang jauh lebih baik dan masa pakai yang jauh lebih panjang, maka manusia dapat hidup untuk jangka waktu yang sangat panjang hingga tak berbatas. Begitupula dengan organ lainnya yang menopang sistem biologis tubuh manusia. Sementara dalam lingkup peradaban, Harari menjadikan aspek material atau aspek artefak hasil karya manusia sebagai indikator kemajuan suatu peradaban, yang menjadi khas pandangan penganut faham serba materi. Demikian pula dalam memahami manusia, faham materialisme membawa Harari pada pandangan menilai kualitas manusia berdasarkan atribut yang melekat pada dirinya, yakni tingkat ekonomi yang dimiliki, bukan berdasarkan kualitas internal diri manusia yang bersifat spiritual. Narasi ini disampaikan Harari dalam penjelasannya mengenai halaman rumput yang begitu luas dan terawat dengan baik di dalam lingkungan hunian kalangan ekonomi atas yang merepresentasikan kemampuan finansialnya mempekerjakan orang untuk merawat hamparan taman.
Gambar: Homo Deus sebagai tingkatan evolusi manusia yang tak terhindarkan dari gerak sejarah

Pandangan materialis Harari membawa konsekuensi determinisme biologis, bahwa manusia dalam berkehidupan dan membangun peradaban dipengaruhi secara mutlak oleh sistem biologisnya. Kita mendapati dua bagian dalam karya Harari yang menegaskan ini. Pertama, Harari di bagian awal buku Homo Sapiens menjelaskan evolusi sistem biologis tubuh manusia yang mendorong manusia mengembangkan kebudayaannya. Seiring membesarnya volume otak, manusia membutuhkan jumlah kalori yang semakin besar untuk asupan bagi otaknya agar dapat bekerja dengan baik. Jumlah kalori tersebut tidak mampu dipenuhi manusia dengan budaya berburu dan meramu (hunting and food gathering) yang mendorong manusia memasuki revolusi pertama dalam sejarah umat manusia menurut Toffler, yakni revolusi pertanian. Jadi perubahan budaya manusia didorong upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan sistem biologisnya.

Kedua, di bagian awal buku Homo Deus, Harari mengindentifikasi 3 masalah utama umat manusia sepanjang zaman, meliputi (1) pangan; (2) kesehatan; dan (3) peperangan untuk memperebutkan ruang kehidupan dan sumber daya pangan. Tiga masalah utama tersebut tidak terlepas dari kebutuhan sistem biologis manusia untuk keberlanjutan fungsinya. Harari tidak mengidentifikasi masalah di luar persoalan biologis, sehingga persoalan spiritual yang bersifat metafisika dalam sejarah umat manusia tidak menjadi narasi utama dalam evolusi manusia yang diperagakannya. Agama sebagai realitas intersubjektif oleh Harari diakui kebermanfaatannya sebatas fungsional-sosiologis sebagai pengikat komunitas bagi manusia mengatasi tiga masalah tadi. Dalam narasi Harari, teknologilah dan bukan agama, yang membawa manusia memasuki fase kehidupan industrialisasi di mana tiga masalah umat manusia terselesaikan. Dengan diselesaikannya masalah tersebut orientasi kehidupan manusia mengarah pada permasalahan keabadian diri yang telah sejak lama menjadi impian manusia. Di sinilah pewujudan Homo Deus mendapati pijakannya.

Mekanisme evolusi dalam ranah biologis yang berwatak sekular dan berujung pada Atheisme telah dikompromikan oleh Pierre Teilhard de Chardin, seorang pemuka Katolik dari Sarekat Jesuit sekaligus guru besar di bidang paleoantropologi yang berupaya mensintesakan iman Katolik yang dianutnya dengan pandangan evolusionisme. De Chardin berpandangan puncak evolusi biologis manusia telah selesai pada tahap Homo Sapiens. Tangga evolusi selanjutnya yang lebih tinggi tidak lagi terjadi dalam ranah biologis, tetapi dalam ranah psikologis terkait peningkatan kesadaran diri manusia menuju dimensi spiritualitas. Untuk menghilangkan watak dan tujuan evolusi yang berasaskan materialisme, de Chardin menyatakan mekanisme evolusi sepenuhnya diarahkan oleh Tuhan untuk memenuhi kehendak-Nya terkait pewujudan kerajaan Tuhan di muka bumi. Sehingga berbeda dengan Harari, de Chardin justru menjadikan mekanisme evolusi sebagai jalan bagi manusia untuk menemukan Tuhan, bukan justru menyingkirkan Tuhan dalam kehidupannya.

Pemikiran ketiga yang menjadi narasi utama Harari dalam dua karyanya yang menempatkan dirinya sebagai seorang Futuris adalah prediksi masa depan umat manusia. Harari menyatakan, masa depan yang merupakan hasil evolusi manusia menapaki tingkat evolusi yang lebih tinggi membuka dua jalan bagi eksistensi manusia, meliputi (1) tekno-humanisme, yakni manusia yang sistem biologisnya telah ditingkatkan dengan menerapkan kecerdasan buatan; dan (2) dataisme, yakni kondisi kehidupan di mana manusia hidup bersama mesin cerdas sebagai entitas yang hidup. Gambaran masa depan demikian merupakan konsekuensi yang tidak terhindarkan dari perkembangan teknologi sebagai hasil gerak sejarah umat manusia dan peradabannya dalam garis linier yang besifat evolutif.

Harari memang tidak sepenuhnya optimis kondisi masa depan yang diprediksinya akan terwujud dengan mudah dan tanpa hambatan. Tersimpan kekhawatiran Harari dalam buku Homo Deus bahwa gambarannya perihal masa depan manusia akan berbeda sepenuhnya jika manusia melakukan kesalahan dalam mengembangkan mesin kecerdasan buatan, yang menjadikan perangkat teknologi justru menjadi ancaman bagi eksistensi manusia. Inilah jalan buntu bagi keberlanjutan kehidupan manusia, kata Harari, jika saja manusia tidak mampu mengontrol mesin cerdas yang dicipta olehnya. Ironis memang gambaran masa depan manusia yang ditawarkan Harari karena di satu sisi mesin cerdas adalah anak tangga bagi manusia untuk mencapai tingkatan evolusi yang lebih tinggi, tetapi di sisi lain merupakan jurang eksistensi yang mengancam keberlangsungan umat manusia. Memang manusia tidak sekali ini bermain dadu, sebagaimana dahulu bertaruh meningalkan agama untuk mencapai kemajuan peradaban. 

Pemikiran keempat, kemungkinan masa depan umat manusia sebagaimana digambarkan oleh Harari sarat dengan bias kelas. Dalam pernyataan Harari, masa depan manusia sebagai Homo Deus hanya diperuntukkan bagi segelintir saja manusia dengan kepemilikan ekonomi atas sebagai syarat mengakses perangkat teknologi yang dibutuhkan untuk menaiki tingkat evolusi yang lebih tinggi. Sementara kalangan manusia selainnya, bagi Harari akan tetap hidup sebagaimana kondisinya pada masa kini yang penuh dengan kesulitan hampir di seluruh aspek kehidupan. Dengan kata lain, kalangan manusia yang tidak berkecukupan secara ekonomi tidak memiliki kesempatan untuk menapaki tangga evolusi yang lebih tinggi. Pandangan Harari tersebut menelanjangi prediksi masa depan dan narasi evolusi yang disampaikannya, bahwa masa depan dan tangga evolusi manusia melalui perangkat kecerdasan buatan dilandasi faham Kapitalisme yang hanya diperuntukkan dan bertujuan mengakumulasi modal segelintir kecil kalangan manusia.

Dari empat pemikiran Harari di atas, kita dapat membayangkan sosok Homo Deus ialah manusia yang tak bertuhan, terpikat pada segala hal serba materi, mendambakan hidup abadi, dan berwatak homo homini lupus, yakni pemakan sesama manusia yang lebih lemah dalam aspek kepemilikan ekonomi, status sosial dan kedudukan politik. Manusia-manusia lemah ini dikorbankan dan disingkirkan agar segelintir manusia dapat menapaki tangga evolusi mencapai tingkatan Homo Deus. Benarkah masa depan demikian yang kita impikan dan sosok manusia demikian yang kita dambakan sebagai manusia yang terlahir suci dan menyandang status sebagai hamba sekaligus wakil Tuhan dalam kehidupan dunia ini?! Tentu saja Harari tidak mempertanyakan hal ini. 

Demikianlah empat pemikiran Harari sebagai Futuris dalam dua karya bukunya yang harus mendapatkan perhatian untuk dipahami, dikaji, dan ditanggapi, meliputi (1) gerak sejarah linier; (2) faham materialisme yang melandasi mekanisme evolusi manusia; (3) tekno-humanisme dan dataisme sebagai kemungkinan masa depan manusia; dan (4) Kapitalisme sebagai daya dorong mewujudkan masa depan manusia, yang keseluruhannya berkaitan dengan konsep agama, konsep manusia, dan konsep kehidupan. Agar pemikiran Harari tidak terdifusi ke dalam kalangan umat Islam, terutama di kalangan pemuda Muslim, dibutuhkan tanggapan dari perspektif Islam terhadap empat poin pemikiran Harari tersebut. Selain itu, dan ini menjadi penekanan saya, setelah menguliti pemikiran Harari, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menyajikan agenda Islam terhadap masa depan umat manusia. Dengan blueprint ini, umat Islam tidak perlu lagi kepada Harari dan tidak dibutuhkan lagi pemikirannya untuk menjadi panduan bagi manusia menyambut masa depan. 

1 komentar:

  1. Narasi Harari persis sama dengan yang disampaikan oleh tukang-tukang sihir Firaun 6000 tahun yang lalu, ya Pak. Tukang-tukang sihir Firaun itu menciptakan narasi mengamini keinginan tuannya untuk bisa hidup kekal sebagai tuhan, menjadi raja ummat manusia, dan berkuasa terhadap materi. Sayangnya sejarah membuktikan narasi-narasi tukang sihir itu hanya isapan jempol belaka. Sejarah ini nampaknya sengaja dilewatkan Harari untuk disampaikan kepada pembacanya.

    BalasHapus