Sabtu, 28 Maret 2020

Orientasi Sains Islam

Tiga Model Sains Barat

Pada masa kini dalam dunia intelektual yang masih saja didominasi Peradaban Barat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptanya, kita mendapati tiga model sains yang tengah berkembang dan mempengaruhi aktivitas ilmiah dalam skala global, tidak terkecuali di tengah komunitas umat Islam. Tiga model sains Barat Kontemporer yang saya maksud ialah (1) sains berparadigma Positivisme; (2) sains sosial humaniora berparadigma Relativisme; dan (3) sains alam berparadigma Spiritualisme. Dalam tulisan ini secara singkat saya akan menjelaskan masing-masing orientasi tiga model sains tersebut kemudian membandingkannya dengan Sains Islam dalam aspek yang sama.

Positivisme sejak pertama kali diperkenalkan oleh Auguste Comte pada pertengahan abad 19 masehi silam yang sempat menjadi paradigma arus utama dalam rumpun ilmu sosial humaniora, hingga masa kini masih tetap menjadi paradigma yang hampir tidak tergeserkan dalam ilmu alam. Sains berparadigma Positivisme memiliki orientasi melakukan kontrol terhadap objek ilmu, sebagaimana ditunjukkan oleh Comte dalam proyeknya yang bertujuan untuk merubah masyarakat Barat dari masyarakat metafisik yang berlandaskan pemikiran filsafat yang spekulatif dan abstrak menjadi masyarakat positf, yakni masyarakat yang hanya mengakui sains modern yang bersifat empiris dan rasional sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang sah untuk menjelaskan realitas dan satu-satunya solusi atas seluruh permasalahan kehidupan manusia. 

Sebab pandangan Dualisme dan obsesi untuk mencapai Objektivisme, paradigma Positivisme menyingkirkan agama sebagai sumber kebenaran dalam kehidupan manusia yang dinilai merupakan bias subjektivitas dan karenanya tidak sesuai kaidah ilmu pengetahuan, sehingga menjadikan Positivisme berujung pada Atheisme akibat tidak mengakui agama dan spiritulitas. Dalam ranah penerapan ilmu pengetahuan berparadigma Positivisme yang berorientasi melakukan kontrol melalui perangkat teknologi menyebabkan berbagai masalah, dari lingkup kehidupan manusia individual, meliputi anonomitas dan mekanisasi; lingkup komunitas manusia, meliputi kesenjangan sosial-ekonomi akibat menempatkan kedudukan manusia berdasarkan ras dan kepemilikan ekonomi; dan lingkup lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem secara menyeluruh. Dari berbagai dampak buruk tersebut dapat dipahami bahwasanya orientasi kontrol yang dimiliki paradigma Positivisme bermakna eksploitasi terhadap objek ilmu. 

Berbagai dampak buruk yang diakibatkan ilmu pengetahuan berparadigma Positivisme, memunculkan kesadaran di kalangan ilmuwan sosial humaniora untuk melepaskan diri dari dominasi Positivisme dengan merumuskan paradigma khas ilmu sosial humaniora kontemporer, yakni paradigma Relativisme. Dengan paradigma barunya, ilmu sosial humaniora berorientasi memahami diri manusia dan komunitasnya berdasarkan perspektif orang-dalam dengan mengusung kebenaran jamak sebagai penolakan terhadap kebenaran tunggal Positivisme yang menempatkan peneliti sebagai orang-luar sekaligus pemegang otoritas. Oleh karenanya dalam ilmu pengetahuan sosial humaniora berparadigma Relativisme, seperti apa diri manusia dan komunitasnya, hanya diketahui dengan benar oleh mereka sendiri selaku subjek berkesadaran yang menganut pandangan serta nilai-nilai tertentu. Dengan demikian tidak ada manusia dan komunitasnya yang lebih unggul dibandingkan diri manusia dan komunitas lainnya. Seluruhnya memiliki versi kebenaran masing-masing yang oleh Relativisme ditempatkan dalam kedudukan sederajat serta diberi ruang dan diakui keberadaannya.

Sebagai antitesis Positivisme, paradigma Relativisme memiliki watak universal untuk menjadikan dominan pandangan dan nilai Relativisme dalam kehidupan manusia, dengan menolak pandangan dan nilai kebenaran tunggal Positivisme yang dianggap sebagai ancaman bagi kebenaran jamak. Di antara yang menjadi fokus ilmu sosial humaniora berparadigma Relativisme ialah persoalan terorisme yang dipahami sebagai pemaksaan untuk menganut kebenaran tunggal dengan melakukan kekerasan fisik terhadap pihak lain yang menganut kebenaran berbeda. Dari sinilah ilmu pengetahuan berparadigma Relativisme memiliki orientasi melakukan kontrol terhadap manusia untuk mewujudkan individu yang memiliki kesadaran terhadap kebenaran plural sebagai landasan mewujudkan komunitas masyarakat yang menghargai serta menerapkan nilai-nilai pluralitas untuk dicapainya kebermaknaan hidup bersama sebagai manusia, dengan cara-cara yang eksploitatif sekalipun, seperti deradikalisasi dengan melakukan serangkaian program brain-washing. Dari sisi ini, antara Positivisme dan Relativisme tidak berbeda. 

Paradigma lain yang merupakan antitesis Positivisme ialah paradigma Spiritualisme dalam rumpun ilmu alam, yang termuat di dalamnya filsafat Perenialisme dan filsafat Proses. Paradigma ini merupakan tanggapan terhadap faham Objektivisme yang menyebabkan terjadinya eksploitasi pada manusia dan lingkungan hidupnya, meliputi dunia mineral, flora, dan fauna, dengan menghubungkan realitas pada sumber spiritualitas yang bersifat perenial sebagai struktur penyangga dunia beserta kehidupan di dalamnya. Dalam kegiatan ilmu pengetahuan yang berorientasi memahami alam, sebagaimana dilakukan Fritjof Capra yang mencari akar spiritualitas dalam fisika kuantum dengan menggunakan perspektif agama Timur, ilmu alam berparadigma Spiritualisme bertujuan menumbuhkan kesadaran baru bagi manusia untuk hidup dan berkehidupaan di tengah alam. Salah satu capaian paradigma Spiritualisme dalam rangka memahami alam ialah meta-teori Deep-Ecology yang menempatkan seluruh entitas kehidupan, meliputi manusia, fauna, flora, dan mineral dalam kedudukan ontologi yang sederajat sebagai bagian dari ekosistem kehidupan.

Dalam penciptaan teknologi, paradigma Spiritualisme yang menganut konsep teknologi tepat-guna sebagai penolakan terhadap penerapan teknologi-tinggi (high-technology) yang bersifat eksploitatif oleh paradigma Positivisme memberi arahan untuk mempelajari dan menerapkan teknologi tradisional yang dinilai memiliki ikatan kuat dengan sumber spiritualitas, sebagaimana disampaikan oleh Hossein Nasr, sehingga penerapannya dalam kehidupan tidak akan membahayakan bagi manusia dan entitas kehidupan lainnya. Dalam penciptaan teknologi memang tidak dapat dihindari orientasi untuk melakukan kontrol, tetapi dalam paradigma Spiritualisme, kontrol dilakukan seminimal mungkin terhadap alam yang dalam penerapannya berlandaskan pada kesadaran spiritual diri individual manusia untuk meniadakan sifat eksploitatif ilmu pengetahuan dan teknologi.

Demikianlah tiga model sains yang pada zaman kontemporer saat ini menggerakkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Dunia Barat, yang tidak dapat dipungkiri pengaruhnya terhadap kegiatan keilmuan yang dilakukan umat Islam, bahkan yang ditujukan untuk membina peradabannya yang berasaskan Tauhid. Pertanyaanya lalu, adakah perbedaan antara Sains Islam dibandingkan tiga model Sains Barat dalam aspek orientasinya? Seberapa jauh perbedaan antara Sains Islam dengan paradigma Positivisme, Relativisme, dan Spiritualisme? Bagian selanjutnya dari tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut.

Dua Orientasi Sains Islam

Orientasi Sains Islam sebagai perwujudan Tauhid yang merupakan inti dari Islam sebagai dien merujuk pada status diri manusia yang telah ditetapkan oleh Allah, yakni sebagai hamba dengan tujuan hidup hanya untuk beribadah kepada Allah sekaligus sebagai wakil-Nya di muka bumi, sebagaimana termuat dalam Surah Adz-Dzariyat: 56, Surah Al-Baqarah: 30, dan Surah Al-Fathir: 39 berikut:
Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi.
Merujuk pada status diri manusia sebagai hamba Allah, Sains Islam meliputi rumpun ilmu alam dan sosial humaniora memiliki orientasi untuk memahami alam semesta, termasuk diri manusia dalam lingkup individual maupun sosial, sebagai ayat-ayat Allah yang akan membawa manusia pada kesadaran terhadap kehadiran dan kekuasaan Allah. Inilah dimensi spiritualitas Sains Islam yang menjadikan kegiatan ilmiah bernilai ibadah karena berorientasi menumbuhkan dan memperkuat iman dengan membawa diri seorang hamba untuk mengenal dan mendekat kepada Allah; Tuhan seluruh alam, sebagaimana termuat dalam Surah Ali-Imran: 190-191 berikut:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.
Dilihat dari satu sisi, Sains Islam dari aspek orientasi yang pertama ini memiliki kesamaan dengan paradigma Spiritualisme dalam Sains Barat, yakni berorientasi mencapai spiritualitas. Namun demikian, di lihat dari sisi yang lain perbedaan di antara keduanya bersifat fundamental karena Sains Islam yang mengamati dan memahami alam semesta sebagai ayat Kauniyah menempatkan Al-Qur’an yang merupakan ayat Qauliyah sebagai landasannya. Kedua ayat tersebut, yakni Kauniyah dan Qauliyah, berasal dari Allah sehingga tidak dapat dipisahkan sebagai kesatuan sumber ilmu dalam perspektif Islam, di mana untuk memahami dengan benar ayat Kauniyah mengharuskan umat Islam merujuk pada ayat Qauliyah, pun begitu untuk memahami ayat Qauliyah yang merujuk pada alam semesta mengharuskan umat Islam memahami, meneliti, dan mengkaji ayat Kauniyah. Sedangkan paradigma Spiritualisme berorientasi mencapai spiritualitas tanpa panduan agama maupun Wahyu, sehingga refleksi yang dilakukan bersifat spekulatif dan intuitif semata tanpa memiliki korelasi terhadap pertumbuhan iman. Dengan begitu spiritualitas yang dicapai sepenuhnya merupakan kondisi emosional yang subjektif tanpa jangkar objektivitas yang bersifat teologis, sementara Tuhan sebagai sumber spiritualitas hanya mampu dipahami dan dicapai melalui khabar yang diwahyukan oleh-Nya.

Merujuk pada status kedua diri mausia sebagai wakil Allah di muka bumi, yang dalam tradisi intelektual Islam disebut dengan istilah khalifah Allah, Sains Islam meliputi pula rumpun ilmu terapan yang merupakan wilayah penciptaan teknologi memiliki orientasi melakukan kontrol terhadap alam dan diri manusia. Kontrol pertama ialah memanfaatkan sumber daya alam untuk keberlangsungan hidup manusia di muka bumi sekaligus menjaga kelestarian alam untuk keberlangsungan hidup seluruh makhluk dan generasi mendatang dalam koridor memakmurkan dunia sebagai amanat yang dibebankan Allah kepada wakil-Nya, sebagaimana termuat dalam Surah Al-Baqarah: 22 dan Surah Al-Jatsiyah: 13, 
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.
Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi sebagai rahmat dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.
Kontrol kedua melakukan transformasi terhadap diri individual manusia agar mencapai kesempurnaan, yang disebut insan kamil, dan terhadap komunitas manusia agar menjadi umat terbaik (khairun ummah), yakni umat yang bertakwa kepada Allah yang senantiasa memerintahkan pada kebaikan dan melarang pada keburukan, sebagaimana termuat dalam Surah Ali-Imran: 110 berikut,
Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
Pembahasan mengenai dua orientasi Sains Islam di atas dapat disimpulkan dalam diagram di bawah ini:


Dibandingkan dengan paradigma Positivisme, orientasi kontrol Sains Islam terhadap alam semesta berbeda secara konseptual-filosofis maupun praktis-metodologis karena secara ontologi menempatkan alam sebagai makhluk ciptaan Allah yang diamanahkan kepada manusia untuk dilestarikan, dan secara aksiologi kontrol dilakukan berlandaskan tata nilai Islam untuk mewujudkan kehidupan yang penuh rahmat bagi seluruh alam. Sedangkan kontrol terhadap objek ilmu dalam paradigma Positivisme menempatkan manusia yang merupakan makhluk ekonomi (homo economicus) sebagai pusat alam semesta dan timbangan nilai yang menihilkan agama sebagai sumber kebenaran, sehingga meniscayakan terjadinya kerusakan dan penguasaan oleh segelintir manusia terhadap alam dan sekelompok manusia lainnya. Dampak buruk akibat penerapan ilmu pengetahuan berparadigma Positivisme tidak dapat diafirmasi Islam karena bertentangan dengan kedudukan, status, dan tujuan hidup manusia di dunia. 

Sementara itu dibandingkan dengan paradigma Relativisme, transformasi manusia yang hendak dicapai Sains Islam meliputi tujuan dan cara-caranya, ialah sebagaimana ditetapkan oleh Allah dalam perintah dakwah yang pada hakikatnya mengajak manusia untuk mendekat kepada Allah yang menjadikan Sains Islam bersifat profetik. Berbeda dengan paradigma Relativisme yang tujuan dan cara-cara untuk mencapainya bersifat spekulatif berdimensi sosial-politik, sehingga pada ranah filosofis hingga metodologisnya bertentangan dengan Islam, sebagai contoh ialah pandangan Relativisme bahwasanya seluruh keyakinan yang dianut oleh manusia dinyatakan sebagai kebenaran.

Demikianlah ciri khas Sains Islam dalam aspek orientasinya yang menjadikannya berbeda secara diametral dengan tiga model Sains Barat. Sains Islam yang berasaskan Tauhid mutlak dibutuhkan umat Islam untuk memenuhi tujuan hidupnya sebagai hamba Allah sekaligus wakil-Nya di muka bumi. Tanpa Sains Islam, umat Islam tidak akan mampu memenuhi amanah dari Allah, bahkan akan salah jalan akibat menganut paradigma Sains Barat untuk berhubungan dengan realitas dunia yang justru menjadikan umat Islam turut terlibat melakukan pengerusakan di muka bumi dalam lingkup diri individual, komunitas manusia, hingga lingkungan hidup, sebagaimana jamak terjadi pada masa kini. Oleh karena itu, pengkajian Sains Islam dan pengamalannya dalam seluruh dimensi kehidupan manusia dan terhadap seluruh makhluk ciptaan Allah mendesak untuk direalisasikan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar