Selasa, 14 April 2020

Lagu Aisyah: Karya Seni Atau Sampah?


Belakangan ini sedang dibicarakan, diributkan, dan dikaji secara intens di media sosial sebuah lagu berjudul Aisyah Istri Rasulullah. Sebagaimana persoalan yang lain, umat Islam pun berbeda pendapat terkait penilaian lagu ini. Sebagian umat Islam yang pada umumnya merupakan kalangan awam agama atau bukan dari kalangan ahli di bidang agama menilainya dengan positif karena secara emosional dirasakan lagu tersebut dapat membangkitkan dorongan untuk lebih menengenal sosok ibu bagi kaum Muslimin, dan bagi kalangan yang telah menikah dapat membangkitkan perasaan untuk menjalin hubungan yang lebih intim sebagai suami-istri berkaca dari hubungan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan Bunda Aisyah sebagaimana digambarkan dalam lirik lagu tersebut. Sementara sebagian umat Islam yang lain berdasarkan pandangan keagamaan menilai lagu tersebut dengan negatif terkait liriknya yang dinilai tidak berkesesuaian dengan nilai-nilai Islam. Kalangan ulama pun berbeda pendapat menyikapi lagu ini antara ajakan untuk meninggalkan sepenuhnya maupun melakukan penyesuian terhadap bagian lirik yang dinilai negatif, sehingga lagu Aisyah Istri Rasulullah tetap dapat dinikmati umat Islam dengan muatan pesan yang sesuai dengan pandangan Islam.

Lagu Aisyah sebagai produk budaya menempatkannya sebagai unsur seni dalam struktur budaya umat Islam. Permasalahannya ialah terkait tingkatan kualitas lagu Aisyah sebagai unsur seni, apakah termasuk karya seni dengan menempatkannya sebagai produk seni-tinggi atau tidak? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tulisan ini terdiri dari dua bagian. Pada bagian pertama, tulisan ini menempatkan lagu Aisyah dalam persoalan abadi filsafat seni terkait nilai seni yang berada pada dua tegangan kutub ekstrim, yakni objektif dan subjektif. Dan pada bagian kedua, melanjutkan bagian sebelumnya, tulisan ini mempersoalkan estetika lagu Aisyah sebagai unsur seni dalam struktur budaya Posmodern yang merupakan perluasan sekaligus perwujudan dari pandangan subjektif terhadap nilai seni yang mendasari penerimaan sekalangan umat Islam terhadap lagu ini. Sebelum itu, perlu saya sampaikan di antara ragam lirik lagu Aisyah yang telah beredar di dunia maya, tulisan ini hanya mempersoalkan versi lirik yang mengundang pro dan kontra di kalangan umat Islam, yang dikenal dengan versi lirik kedua. 

Nilai Seni

Dalam filsafat seni, sebagaimana disampaikan Sumardjo (2000) dalam bukunya berjudul Filsafat Seni, salah satu persoalan abadi dikarenakan hingga hari ini belum juga disepekati kalangan ahli di bidang seni maupun seniman ialah perihal letak nilai seni dari suatu objek, apakah inheren berada di dalam objek seni ataukah di dalam diri manusia sebagai subjek seni? Persoalan ini membawa filsafat seni pada persoalan abadi yang lainnya berkaitan dengan sifat kebenaran seni, apakah bersifat objektif atau subjektif? Kalangan yang berpandangan nilai seni terdapat di dalam objek seni, berkeyakinan kebenaran seni bersifat objektif, tunggal, dan universal. Sedangkan kalangan yang berpandangan sebaliknya, bahwasanya nilai seni terdapat di dalam subjek seni, berkeyakinan kebenaran seni bersifat subjektif. Pada titik ekstrimnya, kalangan kedua ini sampai pada faham Relativisme radikal dengan mengakui kebenaran jamak dalam seni, bahwa seluruh penilaian dan penafsiran yang dilakukan oleh manusia sebagai subjek seni terhadap suatu objek adalah benar dan menempati kedudukan kebenaran yang sederajat; tidak terdapat satu pun penilaian dan penafsiran yang salah maupun lebih benar dibanding selainnya.

Sampai di sini, kita dapat mempersoalkan nilai seni lagu Aisyah, apakah secara inheren terdapat di dalamnya sebagai objek seni, meliputi aspek lirik dan nadanya, ataukah nilainya berada dalam manusia sebagai subjek seni, meliputi pencipta dan pendengarnya? Sekalangan umat Islam yang pada umumnya berasal dari kalangan ulama menggunakan pendekatan pertama untuk menilai lagu Aisyah. Dipahaminya nilai seni di dalam objek menjadikannya dapat dinilai berdasarkan suatu timbangan nilai yang bersifat objektif, dalam arti di luar diri manusia dan melampaui manusia dengan muatan kebenaran tunggal yang universal. Dengan menempatkan Wahyu sebagai timbangan nilai yang objektif dan melampaui diri manusia karena merupakan Kalamullah, kalangan ulama menyimpulkan lagu Aisyah dari aspek liriknya tidaklah dapat dibenarkan berdasarkan perspektif Islam karena dapat membangkitkan imagi yang bermuatan syahwat dalam diri pendengarnya, sekaligus bertentangan dengan adab dikarenakan menggambarkan Bunda Aisyah yang merupakan istri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan teladan bagi seluruh Muslimah dengan penggambaran yang tidak pantas. 

Di posisi yang berbeda, kalangan umat Islam yang berpandangan subjektif dalam menilai lagu Aisyah, bahwasanya nilai seni terdapat di dalam diri subjek, menjadikan kebermaknaan lagu Aisyah terhadap kondisi psikologis pencipta, penyanyi, dan pendengarnya sebagai timbangan untuk menilai. Oleh kalangan ini dikarenakan lagu Aisyah memberikan kebermaknaan yang berkesan secara psikologis terkait sosok Bunda Aisyah dan relevansinya terhadap identitas dirinya sebagai seorang Muslim, maka lagu tersebut dinilai positif. Pengaruh psikologis yang digunakan sebagai timbangan nilai menjadikan ragam kebenaran dapat dihasilkan sekaligus diakui. Siapapun yang merasakan efek positif secara psikologis setelah mendengar lagu Aisyah, maka dapat dijadikannya sebagai landasan untuk mengambil penilaian, sekaligus penilaiannya dinyatakan sebagai benar. 

Terkait dua kutub ekstrim persoalan filsafat seni di atas, saya memahami perspektif Islam dalam persoalan nilai seni tidak memisahkan aspek objektivitas merujuk pada otoritas Wahyu dan aspek subjektivitas merujuk pada diri manusia yang diberi fakulti akal dan hati oleh Allah. Dengan pandangan ini, perspektif Islam terhadap produk budaya yang dicipta umat Islam, termasuk lagu Aisyah, untuk dapat dinyatakan sebagai bagian dari budaya Islam harus melalui dua tingkatan penilaian. Pertama, penilaian yang bersifat objektif dan universal dengan menempatkan Wahyu sebagai timbangan yang memuat cita ideal Islam, termasuk dalam unsur budaya Seni Islam. Kedua, jika pada tingkat pertama dinilai positif yang berarti lagu Aisyah dari aspek lirik dan nadanya diafirmasi Islam, maka tingkatan selanjutnya ialah penilaian yang bersifat subjektif dengan memperhatikan efek lagu tersebut pada diri umat Islam sebagai pencipta, penyanyi, dan pendengarnya. Jika mendorong umat Islam untuk menjadi pribadi yang lebih baik, paling tidak memberikan efek yang baik terhadap kondisi psikologis pendengarnya, maka pada tingkat kedua ini lagu Aisyah pun dinilai positif. Dengan dua tingkatan penilaian ini, maka pandangan dikotomi objektif-subjektif dapat dijembatani dengan mengedepankan yang pertama, sekaligus menegaskan untuk dapat dinyatakan sebagai bagian dari budaya Islam, tidak bisa tidak seluruh produk budaya yang dicipta umat Islam harus diafirmasi, berdasarkan, maupun berkesesuaian dengan Wahyu.

Saya berada dalam posisi menyetujui penilaian negatif kalangan ulama sebagai pemilik otoritas untuk menilai lirik lagu Aisyah, yang merupakan penilaian tingkat pertama. Dengan demikian penilaian tingkat kedua tidak perlu dilakukan, sehingga beragam penilaian subjektif para pendengar lagu Aisyah tidak dapat diafirmasi. Pertanyaannya lalu, sebagai karya seni yang dicipta dan dinyanyikan umat Islam serta didengarkan oleh begitu banyak umat Islam di Indonesia hingga menjadi trend di media sosial, sejauh mana kualitas lagu Aisyah dikaitkan dengan pandangan subjektif yang mendasari penilaiannya oleh para penikmat dan pendukungnya? 

Seni Sampah

Pandangan filosofis bahwasanya nilai seni berada di dalam diri manusia sebagai subyek yang mencipta dan menikmati pada masa kontemporer ini dianut faham Posmodernisme dan diwujudkan dalam alam budaya Posmodern yang menghendaki dirayakannya kebenaran jamak dalam menilai dan menafsir seni. Oleh karena itu untuk menilai tingkat kualitas lagu Aisyah yang oleh sekalangan umat Islam dinilai berdasarkan kebermaknaannya secara psikologis, mengharuskan lagu tersebut dipahami dalam struktur budaya Posmodern, selain dikarenakan lagu Aisyah merupakan seni populer atau seni massa yang merupakan salah satu ciri khas produk budaya Posmodern.

Dalam budaya Posmodern dikenal konsep estetika Kitsch yang mendasari penciptaan seni populer. Kitsch berasal dari bahasa Jerman verkitschen yang berarti membuat murah dan kitschen yang berarti memungut sampah dari jalan. Prof. Yasraf Amir Piliang (2012: 186) dalam bukunya berjudul Semiotika dan Hipersemiotika menyatakan, konsep estetika Kitsch sering dipahami sebagai sampah artistik atau estetika selera rendah (bad taste). Mengutip Umberto Eco, Piliang (2012: 186) menjelaskan yang dimaksud selera rendah dalam konsep estetika Kitsch ialah lemahnya ukuran atau kriteria estetik pada suatu karya. Kriteria ini diakui oleh Eco sangat sulit untuk didefinisikan karena bisa bersifat relatif antar masyarakat, tempat, maupun zaman. Sebab hal inilah Prof. Yasraf (2012: 187) menyatakan konsep estetika Kitsch sangat bergantung pada keberadaan objek, konsep, atau kriteria yang bersifat eksternal, seperti seni-tinggi, objek sehari-hari, mitos, agama, tokoh, dan sebagainya. Dari sini dapat ditetapkan, suatu karya yang bertentangan atau berkebalikan secara artistik dengan objek, konsep, dan kriteria tersebut, maka digolongkan sebagai Kitsch. 

Dengan menempatkan Wahyu sebagai sumber agama yang memuat konsep dan kriteria dalam penciptaan karya Seni Islam yang berkedudukan sebagai seni-tinggi dalam struktur budaya Islam, serta berdasarkan penilaian yang telah dibahas pada bagian pertama tulisan ini, maka lagu Aisyah sebagai seni populer dalam struktur budaya Posmodern menempatkannya sebagai Kitsch berdasarkan dua argumentasi. Pertama, salah satu ciri Kitsch, menurut Prof. Yasraf (2012: 188) ialah semangat memassakan seni-tinggi melalui produksi massal dan proses demistifikasi nilai-nilai seni-tinggi. Kitsch bersemangat dalam memassakan objek langka, precious, dan unik, sehingga Kitsch dinilai oleh Prof. Yasraf merupakan sebentuk representasi palsu. Dalam konteks lagu Aisyah, penggambaran sosok Bunda Aisyah yang dalam Islam menempati kedudukan yang tinggi dan mulia sebagai teladan bagi seluruh Muslimah merupakan bagian dari seni-tinggi atau Seni Islam sebagaimana tertuang dalam karya para ulama yang berwibawa, dalam budaya Posmodern dimassalkan melalui proses demistifikasi dengan menggambarkan sosok Bunda Aisyah layaknya wanita pada umumnya. Proses ini dapat diketahui pada bagian lirik mulia indah cantik berseri; kulit putih bersih merahnya pipimu; dengan baginda kau pernah main lari-lari; selalu bersama hingga ujung nyawa; kau istri tercinta ya Aisyah ya Humairah; Rasul sayang Rasul kasih cintamu.

Dengan memassalkan sosok Bunda Aisyah menjadikan massa Muslim yang pada umumnya awam agama, secara psikologis merasakan kesederajatan kedudukan Bunda Aisyah dengan dirinya sebagai wanita, maupun sebagai manusia pada umumnya, dengan mengimajikan sosok dan perilakunya secara detail sebagaimana tergambarkan dalam lirik lagu, sehingga menempatkan sosok Bunda Aisyah sebagai bagian dari kerumunan massa yang tidak memiliki perbedaan fundamental dengan wanita lainnya di satu sisi, dan mampu dicapainya kedudukan Bunda Aisyah oleh wanita-wanita lainnya dengan meniru penggambaran sosoknya di sisi yang lain. Inilah yang dinamakan representasi palsu dalam konsep estetika Kitsch terkait sosok Bunda Aisyah, yakni dengan mereduksi kualitas diri Bunda Aisyah agar dapat diturunkan dalam tataran massa dan mampu ditiru oleh massa. Sehingga sebagai produk budaya populer, penggambaran sosok Bunda Aisyah dalam lagu Aisyah kosong dari muatan kualitas spiritualitas dan kualitas-kualitas lain yang hanya dimiliki oleh diri Bunda Aisyah yang menempatkan dirinya pada kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan wanita-wanita Muslim seluruhnya.

Kedua, sebagai tindakan memassalkan budaya-tinggi, menurut Prof. Yasraf (2012: 188), estetika Kitsch merupakan satu bentuk komunikasi untuk dikonsumsi secara massal, sebagaimana dinyatakan oleh Umberto Eco dalam Piliang (2012: 188) yang ditujukan untuk menghasilkan efek yang segera (immediate effect) yang merupakan ciri khas budaya massa. Sebagai produk budaya populer khas Posmodern agar lagu Aisyah dapat memberikan efek yang sesegera mungkin sebagai komunikasi yang ditujukan kepada massa, maka muatan yang terkandung di dalam rangkaian liriknya ialah hasrat dengan penggambaran sosok Bunda Aisyah yang mampu secara langsung mempengaruhi emosi pendengarnya. Ini pula –muatan hasrat- merupakan daya dorong diproduksinya budaya Posmodern menurut Felix Guattari dan Gilles Deleuze yang menjadikan capaian budaya Posmodern lekat dengan nuansa dan muatan hasrat, serta ditujukan untuk melepaskan hasrat. 

Nuansa dan muatan hasrat dalam lagu Aisyah dapat ditemukan pada bagian lirik; sungguh sweet nabi mencintaimu; hingga nabi minum di bekas bibirmu; bila marah nabi kan memanja; mencubit hidungnya; romantisnya cintamu dengan nabi; bila lelah nabi baring di jilbabmu; seketika kau pula bermanja; menyikat rambutnya. Penggambaran bermuatan hasrat dimungkinkan secara metodologis setelah dilakukannya proses demistifikasi pada sosok Bunda Aisyah, sehingga kualitas bermuatan hasrat dapat dilekatnya pada Bunda Aisyah. 

Dua argumentasi di atas menegaskan kedudukan lagu Aisyah sebagai produk budaya populer Posmodern. Dimassalkannya sosok Bunda Aisyah untuk digambarkan dengan lirik yang lekat dengan nuansa dan muatan hasrat, menjadikan sosok Bunda Aisyah tidak lagi bermuatan spiritualitas. Tidak hanya terjadi pada Islam, demistifikasi terhadap objek, sosok, dan ajaran agama untuk dikonsumsi massa sebagai jalan pelepasan hasrat juga terjadi pada agama-agama lain, sehingga konsep estetika  Kitsch yang mewujud pada budaya populer merupakan tantangan bagi seluruh agama pada masa kini di tengah dominasi alam budaya Posmodern yang disebut dengan fenomena religious Kitsch.

Berdasarkan analisa di atas dengan menempatkan lagu Aisyah sebagai produk budaya populer dalam struktur budaya Posmodern, serta penilaian terhadapnya berdasarkan timbangan yang bersifat objektif dan universal, yakni Wahyu, dapat disimpulkan lagu Aisyah tidak dapat dinyatakan sebagai bagian dari budaya Islam dan bukan merupakan karya Seni Islam, walaupun dicipta, dinyanyikan, dan didengarkan oleh umat Islam. Sebagai produk budaya yang menerapkan estetika Kitsch, lagu Aisyah memiliki kualitas sebatas seni sampah; sampah artistik yang ditujukan untuk memompa hasrat umat Islam dengan cara mempermainkan sisi emosionalnya, tidak lebih dari itu. Sehingga popularitasnya di media sosial menandakan selera rendah umat Islam dalam unsur budaya seni dan terperosoknya umat Islam ke dalam alam budaya Posmodern yang banal, vulgar dan kosong dari spiritualitas Islam. Inilah tugas rumah umat Islam di bidang seni di antara tugas-tugas lainnya yang telah menumpuk!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar