Rabu, 01 April 2020

Menghadapi Covid-19 Dengan Sains Islam

Enam Tanggapan Muslim

Virus Corona yang dalam dunia medis dikenal dengan Covid-19, hingga hari ini masih menjadi pandemi di hampir seluruh belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia, sejak pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan di negeri Cina daratan. Dapat disaksikan melalui berbagai media sosial, Dunia Barat dan negara-negara di wilayah Timur yang berafiliasi secara ideologis dengan Peradaban Barat Modern, mengandalkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran untuk merawat pasien positif Covid-19 dan kemajuan di bidang virologi untuk mengidentifikasi virus Corona sebagai dasar melakukan eksperimen di laboratorium untuk menemukan vaksinnya. Sementara itu, melalui media sosial pula kita dapat menyaksikan berbagai tanggapan umat Islam di Indonesia terkait pandemi Covid-19. Sejauh ini saya mendapati enam tanggapan umat Islam di lini masa media sosial yang saya gunakan. 

Tanggapan pertama ialah sekalangan umat Islam yang berpandangan tidak sepantasnya Covid-19 ditakuti karena sebagai umat Islam, hanya Allah semata yang pantas untuk ditakuti. Sekalangan umat Islam ini membawa persoalan takut kepada virus Corona dengan bersikap waspada dan menghindari penyebarannya ke dalam ranah aqidah yang memiliki konsekuensi terhadap keimanan seorang Muslim. Takut kepada Covid-19 merupakan tanda lemahnya iman, sementara menguhkan hati agar takut hanya kepada Allah merupakan satu-satunya solusi untuk mengakhiri pandemi Corona dengan argumentasi bahwasanya virus merupakan makhluk Allah yang taat hanya kepada Allah. Dengan umat Islam memperkuat aqidah untuk takut hanya kepada Allah, maka Allah akan menghilangkan pandemi Corona dari muka bumi.

Tanggapan kedua, sikap apologetik sekalangan umat Islam yang mencari kecocokan penamaan Corona dengan huruf maupun bunyi yang terdapat di dalam Al-Qur’an untuk menyimpulkan bahwasanya tersebarnya virus Corona di muka bumi telah diberitakan Allah di dalam Al-Qur’an. Kalangan ini kecenderungannya berpandangan bahwasanya pandemi Covid-19 merupakan peringatan dari Allah karena manusia telah lalai dan ingkar kepada-Nya. Tanggapan ketiga, ialah sikap yang bersifat konspiratif dengan meyakini penyebaran virus Corona di hampir seluruh belahan dunia merupakan proyek senjata biologis milik Amerika Serikat dan sekutunya yang bertujuan untuk mewujudkan the new world order dengan melakukan penguarangan jumlah populasi dunia agar mencapai keseimbangan dengan jumlah sumber daya yang tersedia, sehingga dengan demikian Amerika Serikat dapat meneguhkan dirinya sebagai penguasa dunia. Dengan pandangan ini, kalangan penganut tanggapan ketiga meyakini Pandemi Covid-19 merupakan tipu muslihat musuh-musuh Islam untuk menghancurkan umat manusia secara keseluruhan, dan umat Islam secara khusus. 

Sekalangan umat Islam yang menganut salah satu atau lebih ketiga tanggapan di atas, kecenderungan yang saya amati di media sosial tidak berupaya melakukan ikhtiar untuk menghentikan penyebarluasan virus Corona dengan tetap berkumpul di ruang publik untuk menyelenggarakan kegiatan sosial hingga peribadatan. Kalangan inilah yang melakukan penolakan keras terhadap ditutupnya masjid dan ditiadakannya ibadah jama’ah di masjid karena berpandangan satu-satunya cara untuk menghadapi dan menghentikan pandemi Corona ialah dengan beribadah kepada Allah. Kalaulah terinfeksi virus Corona saat beribadah di masjid, maka oleh kalangan ini dinilai merupakan takdir Allah yang tidak terhindarkan dan jika meninggal, maka dinilai oleh kalangan ini meninggal dalam ketaatan kepada Allah.

Tanggapan keempat sekalangan umat Islam ialah menyerukan sikap isolasi diri hingga isolasi wilayah kepada sesama serta mendesak pihak pemerintah agar mengeluarkan kebijakan resmi untuk menghadapi pandemi Corona berlandaskan Hadits Nabi yang memerintahkan umat Islam untuk tidak keluar maupun masuk ke dalam wilayah yang sedang terkena wabah, maupun berdasarkan riwayat kehidupan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab yang mengurungkan niat untuk memasuki suatu negeri yang pada masanya tengah diserang wabah Tha’un, serta melarang penduduknya untuk keluar dari negeri tersebut agar tidak memperluas wabah penyakit.

Tanggapan kelima, ajakan oleh sekalangan umat Islam untuk mengkonsumsi jenis makanan tertentu, seperti bawang merah, yang diyakini dapat meningkatkan imunitas tubuh dari serangan virus Corona, meskipun tanpa didasari pembuktian ilmiah maupun pengalaman medis. Tanggapan keenam, himbauan untuk melakukan amalan dzikir dan bacaan tertentu sebanyak hitungan tertentu yang dilakukan sekalangan umat Islam dengan keyakinan mendapatkan perlindungan dari Allah agar terhindarkan dari terinfeksi virus Covid-19. Argumentasi kalangan ini ialah dalam menghadapi pandemi Corona harus mengedepankan kekuatan ruhani, yakni sebaik-baik perlindungan hanya milik Allah, terlebih mengingat sikap pemerintah yang dinilai lamban dalam menanggapi penyebaran virus Corona di Indonesia. 

Sekalangan umat Islam yang menganut tanggapan ketiga menyeimbangkan antara ikhtiar dengan merujuk pada pendapat kalangan ahli medis dan tawakkal dengan merujuk pada tokoh agama. Sementara itu sekalangan umat Islam yang menganut tanggapan kelima yang merupakan ikhtiar, kecenderungannya juga menganut tanggapan keenam yang merupakan sikap tawakkal kepada Allah. Kalangan ini pun menyeimbangkan ikhtiar dan tawakkal dalam menghadapi pandemi Covid-19 walaupun terbilang tradisional jika dibandingkan sekalangan umat Islam yang menganut tanggapan ketiga, apalagi jika dibandingkan dengan Negara Barat yang meniadakan peran Tuhan dalam upaya menghentikan penyebaran virus Corona. 

Analisa yang saya lakukan di atas memang menyederhanakan realitas sosial yang sedang terjadi, tetapi paling tidak dapat memberi gambaran kasar terkait peta tanggapan umat Islam di tengah Pandemi Covid-19. Pertanyaan yang sebenarnya hendak saya ajukan dengan menggelar secara singkat ragam tanggapan umat Islam di atas ialah, seperti apa nalar ilmiah Sains Islam yang berasaskan Tauhid dan merujuk pada status diri manusia yang seharusnya digunakan umat Islam untuk menghadapi Pandemi Covid-19? Apakah enam tanggapan umat Islam terhadap Pandemi Covid-19 selaras dengan nalar Sains Islam, ataukah bertentangan?

Nalar Sains Islam

Sains Islam memiliki dua orientasi merujuk pada status diri manusia sebagaimana ditetapkan oleh Allah. Merujuk pada status manusia sebagai hamba Allah, orientasi Sains Islam ialah menggugah dan membangun kesadaran spiritual seorang Muslim untuk mengenali dan mendekat kepada Allah dengan memahami alam yang merupakan ayat Kauniyah sebagai penanda atas keberadaan dan kekuasaan Allah. Sementara merujuk pada status manusia sebagai wakil Allah, orientasi Sains Islam ialah untuk memakmurkan bumi dan menjaga keberlangsungan hidup seluruh makhluk Allah di muka bumi, serta melakakukan transformasi diri manusia dalam lingkup individu agar mencapai tingkatan insan kamil dan dalam lingkup masyarakat agar terwujud khairan ummah. 

Dalam konteks menghadapi Pandemi Covid-19, orientasi Sains Islam untuk menumbuhkan kesadaran spiritual tidak hanya terbatas pada kalangan ilmuwan, tetapi meliputi pula seluruh umat Islam. Sekalangan ilmuwan di bidang virologi dan bidang ilmu terkait yang melakukan penelitian laboratorium untuk mengidentifikasi virus Corona dan memahami unsur-unsur penyusunnya dengan menempatkannya sebagai ayat-ayat Allah, akan membawanya pada kesadaran spiritual bahwasanya keberadaan virus Corona dan penyebarannya menandakan ke-Maha Kuasa-an Allah sebagai Dzat Yang Maha Pencipta yang telah menciptakan makhluk yang tidak dapat dilihat secara kasat mata manusia namun memiliki susunan yang kompleks dan berdampak fatal bagi tubuh dan kehidupan manusia. 

Hasil observasi di laboratorium oleh kalangan ilmuwan yang telah dibahasakan ulang dengan memuat pesan spiritualitas untuk disampaikan kepada umat Islam secara luas sehingga dapat dengan mudah dipahami akan dapat pula menumbuhkan kesadaran spiritual yang sama. Kesadaran spiritual ini mendorong seorang Muslim untuk merendahkan dirinya di hadapan Allah karena Allah telah menunjukkan melalui makhluk-Nya yang teramat kecil yang kini tengah mewabah di berbagai wilayah dunia bahwasanya diri manusia begitu lemah. Sebab Covid-19 ribuan jiwa manusia tidak tertolong dan sekalangan manusia lainnya yang tidak terinfeksi harus merubah cara hidupnya secara fundamental dan drastis, seperti senantiasa menjaga kebersihan tubuh, menghindari kerumunan di ruang publik, dan beralih menggunakan jaringan daring untuk melakukan komunikasi. Belum lagi dampak penyebarluasan Covid-19 terhadap ekonomi masyarakat semakin menyadarkan manusia betapa rapuhnya peradaban yang tengah dibinanya pada masa kini. 

Orientasi kedua Sains Islam, setelah mampu diidentifikasi dan dipahaminya Covid-19 ialah melakukan prediksi terhadap penyebarannya berkaitan wilayah yang berpotensi terkena pandemi dan jumlah manusia yang berpotensi terinfeksi, serta melakukan kontrol untuk menghentikaan penyebaran virus Corona dan menyembuhkan pasien yang terinfeksi. Prediksi dibutuhkan untuk mempersiapkan diri dan menyusun rencana yang dimungkinkan untuk menuntaskan Pandemi Covid-19. Sementara itu kontrol untuk menghentikan penyebarluasan Covid-19 dilakukan dengan membuka seluruh opsi yang diafirmasi oleh Islam serta mengkajinya dengan seksama melalui pendekatan berbagai bidang keilmuan untuk mendapatkan opsi yang paling mungkin dilakukan berdasarkan pertimbangan sejumlah faktor. Oleh karena itu tanggapan ketiga untuk melakukan isolasi wilayah, berdasarkan nalar Sains Islam haruslah dikaji dengan pendekatan multidisiplin keilmuan agar dapat diterapkan dengan kesiapan yang cukup, sehingga dampak buruk dari kebijakan ini dapat dihindari, seperti kepanikan massa dan tidak berdayanya masyarakat dengan tingkat ekonomi bawah. Dalam nalar Sains Islam, isolasi wilayah tidak serta merta dapat diterapkan begitu saja hanya karena bersumberkan dari Hadits maupun pernah dilakukan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khaththab secara historis dikarenakan setiap tempat, waktu, dan peristiwa memiliki konteksnya masing-masing.

Sementara itu, kontrol untuk menyembuhkan pasien yang terinfeksi dilakukan dengan menerapkan berbagai pengobatan dan perawatan yang diafirmasi oleh Islam serta memungkinkan untuk dilakukan menurut ilmu kedokteran hingga melakukan serangkaian eksperimen laboratorium dan medis untuk menemukan vaksin Covid-19 serta ujicobanya pada manusia berlandaskan bioetika Islam. Yang tidak kalah penting dari orientasi kontrol Sains Islam ialah langkah-langkah preventif untuk melindungi diri manusia dari terinfeksi virus Covid-19 yang sesuai dengan kaidah Islam dan telah terbukti melalui penelitian yang benar menurut kaidah ilmu kesehatan. Di sinilah tanggapan kelima harus diuji melalui otoritas ilmu kesehatan, apakah berbagai resep yang disampaikan kepada masyarakat untuk meminum maupun memakan sesuatu memang terbukti dapat menghindarkan diri manusia dari terinfeksi virus Covid-19, seperti menaikkan imunitas tubuh, bahkan mampu membunuh virus yang telah memasuki tubuh; bukan bersifat psikosomatik maupun placebo effect, atau ternyata tidak bermanfaat sedikitpun, bahkan bisa jadi berbahaya bagi tubuh manusia dalam kondisi tersebarluasnya virus Covid-19.

Orientasi prediksi dan kontrol untuk menghadapi Pandemi Covid-19 berdasarkan nalar Sains Islam ini merupakan dimensi ikhtiar yang merupakan keniscayaan untuk dilakukan manusia sebagai makhluk yang diberi Allah fakulti akal agar mampu memenuhi amanahnya sebagai wakil-Nya di muka bumi. Sementara itu tumbuhnya kesadaran spiritual melalui kegiatan ilmiah memahami virus Corona sebagai ayat-ayat Allah yang memperkuat iman dalam hati seorang Muslim, baik dari kalangan ilmuwan dan kalangan awam, mendorong untuk ditingkatkannya peribadatan kepada Allah. Di sinilah posisi tanggapan keenam yang mengajak umat Islam untuk melakukan dzikir, shalawatan, maupun meningkatkan pelaksanaan shalat sunnah dan puasa sunnah yang merupakan dimensi tawakkal berdasarkan nalar Sains Islam, yakni menyandarkan diri kepada kehendak Allah dan berdoa kepada Allah dengan wasilah ibadah serta amal shalih yang telah dilakukan agar Allah berkehendak mengangkat wabah virus Covid-19 dengan segera.

Nalar Sains Islam merujuk pada dua orientasinya untuk menghadapi Pandemi Covid-19 sebagaimana pembahasan di atas dapat ditampilkan dalam diagram di bawah ini:


Berdasarkan nalar Sains Islam yang menyatukan dimensi ikhtiar dan tawakkal, maka tanggapan pertama, kedua, dan ketiga tidak dapat dibenarkan karena meniadakan ikhtiar yang berlandaskan ilmu pengetahuan, sehingga bertentangan dengan hakikat dan status diri manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Secara metodologis ditimbang dengan nalar Sains Islam, tanggapan kedua dinyatakan salah karena tidak berorientasi memahami wabah yang sedang dialami umat manusia, sehingga dapat dilakukan ikhtiar untuk menghadapinya. Begitupula tanggapan ketiga yang dinyatakan salah karena cara berfikir konspiratif bertentangan dengan nalar Sains Islam yang menuntut pembuktian berdasar data yang shahih terkait pandangan bahwasanya Covid-19 merupakan senjata pemusnah massal yang sengaja disebarluaskan Amerika Serikat dan sekutunya. 

Sudah seharusnya dengan nalar Sains Islam umat Islam berjuang menghadapi Pandemi Covid-19 karena dengan nalar tersebut di satu sisi akan membawa umat Islam untuk mendekat kepada Allah sebagai Dzat yang memiliki segala sesuatu di bumi, di langit, dan di antara keduanya, serta di sisi yang lain mendorong umat Islam melakukan ikhtiar berbekal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasaskan Tauhid dan berpandukan Syariat untuk menuntaskan wabah Covid-19 di seluruh permukaan bumi. Inilah kesempatan yang diberikan Allah kepada segenap umat Islam untuk menjadi umat bernalar ilmiah yang menyatukan antara aqidah dan ilmu pengetahuan, serta antara ikhtiar dan tawakkal. Dapat dikatakan inilah takdir yang telah ditetapkan Allah atas umat Islam dan untuk itulah Sains Islam diupayakan untuk diwujudkan dan direalisasikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar