Rabu, 06 Mei 2020

Budaya Literasi Islam

Literasi: Antara Barat dan Islam 

Dalam sejarah Peradaban Barat, kaum literati merujuk pada sekalangan cerdik pandai dan ilmuwan pada masa Renaisans yang secara sosiologis bukan tergolong atau merupakan bagian dari kalangan agamawan, dan secara kultural maupun religi tidak terikat dengan institusi gereja dan tradisi keagamaan yang berlangsung di lingkungan gereja. Kalangan inilah, dikarenakan aktivitas keilmuan yang dilakukannya, terlibat konflik dengan kalangan agamawan disebabkan temuan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh kaum literati bertentangan dengan doktrin keagamaan resmi yang diusung institusi gereja. Tiga nama dapat disebutkan yang merupakan bagian dari kaum ini adalah Copernicus, Bruno, dan Leonardo da Vinci yang pertentangannya dengan kalangan agamawan berakhir dengan tekanan, siksaan hingga kematian. 

Dalam melakukan aktivitas keilmuan, kaum literati disokong secara finansial oleh kaum borjuis yang merupakan kalangan pedagang besar lintas negara. Kepentingan kaum borjuis yang dikenal pula sebagai kaum pemodal dalam membiayai penelitian yang dilakukan oleh kalangan cerdik pandai dan ilmuwan literati berkaitan dengan pelayaran antar benua yang dilakukannya dalam rangka mencari bahan mentah, pekerja, maupun pasar bagi produk dagangannya. Kolaborasi kedua kaum inilah; literati dan borjuis mendorong gerak sejarah Peradaban Barat memasuki zaman modern dengan direbutnya otoritas ilmu pengetahuan oleh kaum literati dari institusi gereja, dan direbutnya otoritas politik dan ekonomi oleh kaum borjuis dari tangan seorang raja. 

Dari tinjauan kesejarahan di atas, semangat yang diusung kaum literati dalam Peradaban Barat adalah (1) mencari kebenaran melalui pengamatan; dan (2) kehendak untuk lepas dengan melawan otoritas palsu, walaupun harus mendapatkan penentangan keras dari institusi keagamaan hingga masyarakat luas. Dari sinilah istilah literasi secara konseptual dikenal, yakni aktivitas berfikir kritis melalui membaca dan menulis untuk mengetahui kebenaran dan menyampaikannya kepada masyarakat. Dengan dimilikinya budaya literasi dalam perspektif tersebut, seseorang akan mampu membebaskan dirinya dari segala kungkungan otoritas palsu, tidak terkecuali dari struktur keagamaan. 

Beralih pada Islam, semangat literasi dapat ditemukan pada ayat pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, yakni Iqra, sehingga pembentukan budaya literasi Islam telah dimulai sejak fase pewahyuan paling awal. Terdapat dua versi terjemahan ayat tersebut ke dalam Bahasa Indonesia, yakni (1) perintah untuk membaca; bacalah!; dan (2) perintah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mengulangi Wahyu yang disampaikan oleh Allah melalui Malaikat Jibril; ulangilah! Merujuk pada versi terjemahan pertama, Iqra bermakna perintah untuk tidak saja membaca kitab suci dan teks-teks lainnya, tetapi juga diri manusia dan seluruh alam semesta melalui pengamatan yang dilandasi keimanan, sebagaimana ayat tersebut dilanjutkan dengan kalimat bismi rabbika l-ladzi kholaq. Sementara merujuk pada versi terjemahan kedua, Iqra bermakna perintah untuk mengulangi dalam rangka memahami ilmu yang datangnya dari Allah. Dalam pandangan-alam Islam, ilmu yang berasal dari Allah tidak saja meliputi ilmu-ilmu keagamaan sebagaimana termuat di dalam Wahyu yang merupakan ayat qauliyah, tetapi meliputi pula ilmu pengetahuan dalam pengertian sains yang menjadikan alam semesta yang merupakan ayat kauniyah sebagai objek pengamatannya. Dengan pemahaman ini tidak terdapat perbedaan konseptual antara versi terjemahan pertama dan kedua, karena keduanya menegaskan tiga hal, yakni (1) Allah sebagai sumber ilmu; (2) perintah untuk menguasai dan memahami ilmu; dan (3) ilmu merupakan kebenaran yang datangnya dari Allah, sehingga dalam budaya literasi Islam tidak terdapat pemisahan antara ilmu dan iman, antara agama dan ilmu pengetahuan. 

Gambar: Gua Hira di Jabal Nur, Mekah, yang merupakan tempat di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menerima Wahyu pertama dari Allah yang sekaligus menandai lahirnya budaya literasi Islam

Wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dari Allah, yang kemudian dilanjutkan dengan perintah untuk berdakwah sebagaimana termuat dalam Surah Al-Mudatstsir merupakan kesatuan prinsip dalam Islam, bahwasanya sebelum dakwah dilakukan, sebelum transformasi realitas direalisasikan, sebelum perubahan disegerakan, haruslah dilandasi dengan ilmu yang dilandasi keimanan kepada Allah. Oleh karenanya, dalam budaya literasi Islam, ilmu ialah landasan bagi gerak yang bersifat teleologis, yakni untuk merealisasikan kehendak Allah dalam kehidupan dunia yang lebih dikenal dengan menebar rahmat bagi alam semestar. Dengan demikian dalam budaya literasi Islam tidak dikenal semangat pengkajian ilmu sebatas untuk kesenangan intelektual (intellectual game) yang tidak berdampak pada peningkatan kualitas diri seseorang, apalagi dengan tujuan meraup kekayaan hingga bergelimang harta yang justru menyebabkan terpuruknya diri seseorang menjadi hamba bagi syahwatnya. 

Dari akar teologisnya, semangat budaya literasi Islam adalah (1) pembebasan manusia dari struktur yang zhalim, terutama struktur keyakinan yang menyekutukan Allah, dengan kepemilikan ilmu yang benar, yakni ilmu yang bermuatan keimanan melalui aktivitas membaca, mengamati, maupun mengulangi perkataan; dan (2) dikaitkan dengan perintah untuk berdakwah, semangat budaya literasi Islam ialah membumikan ilmu untuk merubah realitas kehidupan agar mewujud cita Islam di muka bumi. Perbedaannya dengan semangat budaya literasi Barat ialah, keimanan dan struktur keagamaan menjadi pondasi untuk menemukan kebenaran melalui aktivitas keilmuan. Ilmu tidak dipertentangkan dengan iman, justru merupakan rajutan sepasang. Karenanya praktik budaya literasi Islam sepanjang sejarahnya tidak berujung pada Sekularisme, sebagaimana dialami masyarakat Barat yang untuk mencapai kemajuan mengharuskannya melepaskan diri dari kungkungan agama, sebab dalam sejarahnya iman tak mampu sejalan dengan pengetahuan. 

Tingkatan Literasi Islam 

Seorang Muslim dikatakan memiliki budaya literasi Islam jika menguasai ilmu yang benar, yakni ilmu yang berjalin erat dengan keimanan yang didapatkan melalui kegiatan keilmuan meliputi membaca, mengamati, dan mengulangi perkataan, maupun melalui limpahan ilmu yang secara langsung diberikan oleh Allah kepada seorang hamba yang memiliki kedekatan dengan-Nya, sebagaimana Wahyu yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya maupun ilmu-ilmu tertentu yang diberikan Allah kepada Wali-Nya. Di antara kedua golongan tersebut, tulisan ini hanya akan menyoroti golongan pertama yang merupakan keumuman di kalangan umat Islam. 

Membatasi hanya pada upaya manusia untuk mencapai ilmu melalui kegiatan membaca buku, budaya literasi Islam memiliki tiga tingkatan. Tingkat pertama ialah sebatas mengetahui apa yang sedang atau telah dibacanya, tanpa pemahaman yang baik dan benar. Seorang Muslim yang mengetahui bahwasanya si A dalam bukunya menyatakan 1,2,3,4,5 tanpa memahami apa yang dimaksud dengan 1,2,3,4,5 dan tanpa memahami mengapa si A menyebutkan 1,2,3,4,5, maka orang ini hanya mendapatkan informasi dari buku yang dibacanya yang menempatkannya pada tingkatan terendah dari budaya literasi Islam. Inilah kedudukan kalangan mayoritas umat Islam, terlebih di tengah zaman informasi pada masa kini dengan luapan terus menerus informasi menjadikan seseorang dapat memiliki informasi yang banyak tanpa mampu memahami dengan baik dan memilahnya dengan benar. 

Tingkatan kedua ialah seorang Muslim yang memahami buku yang sedang atau telah dibacanya berdasarkan perspektif yang digunakan oleh penulis. Ketika ia membaca buku Das Kapital karya Karl Marx, ia memahami isi buku tersebut berdasarkan perspektif yang digunakan oleh penulisnya, sehingga ia mampu menangkap pengetahuan Marxisme dari buku yang dibacanya dengan tepat, yakni sebagaimana dipahami oleh tokoh-tokohnya. Pada tingkatan kedua ini, seorang Muslim juga mampu menyampaikan hasil pembacaannya kepada khalayak sesuai dengan perspektif penulis, baik secara lisan maupun melalui media tulis. Di mulai dari tingkat kedua inilah kemampuan membaca dan menulis berjalan beriringan dalam budaya literasi Islam, sebagaimana dahulu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyampaikan dan menjelaskan Wahyu secara lisan yang diterima dari Allah kepada para Sahabat, dan kemudian beliau Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan untuk menuliskannya ke dalam berbagai media tulis. 

Sementara itu tingkatan ketiga yang merupakan tingkatan tertinggi dalam budaya literasi Islam ialah seorang Muslim mampu melakukan kritik terhadap pengetahuan yang didapatkannya dari suatu buku meliputi dua aspek. Pertama, mampu menilai pengetahuan yang didapatkannya dari suatu buku berdasarkan berdasarkan perspektif Islam atau pandangan-alam Islam. Kedua, mampu menemukan kekurangan dari buku yang sedang atau telah dibacanya, meliputi aspek argumentasi, sistematika, kejelasan bahasa, dan lain sebagainya. Masih menggunakan contoh yang sama, pada tingkatan ketiga ini, setelah seorang Muslim memiliki pengetahuan Marxisme dari buku-buku Karl Marx yang dipelajarinya berdasarkan perspektif penulis, ia mampu untuk memilah bagian yang benar dan bagian yang salah dari pengetahuan tersebut berdasarkan pandangan-alam Islam, selain melakukan evaluasi terhadap buku tersebut secara argumentatif, sehingga dari pengetahuan mewujud menjadi ilmu yang berlandaskan keimanan karena dilibatkannya iman Islam untuk memahami dan menilai pengetahuan yang didapatkan dari proses membaca buku. 

Tingkatan ketiga ini merupakan kedudukan yang tidak seluruhnya dapat dicapai oleh kalangan cerdik pandai dan ilmuwan Muslim. Tidak sedikit kita dapati kalangan umat Islam yang tidak mampu menilai hasil pembacaannya berdasarkan pandangan-alam Islam, sehingga hanya mampu menjelaskan suatu pengetahuan tanpa mampu menilainya, hingga kalangan yang meyakini benar seluruh pengetahuan yang didapatkannya atau meyakini pengetahuan sebagai ilmu. Oleh karenanya pada masa kini, sebagaimana pada masa-masa sebelumnya, kita mendapati dari umat Islam sekalangan cerdik pandai dan ilmuwan yang menganut faham Kapitalisme, Marxisme, Liberalisme, dan ideologi-ideologi selain Islam. Pertanyaannya, mengapa tingkatan ketiga tidak mudah dicapai oleh kebanyakan kalangan umat Islam? 

Merenungi diutuskan Jibril Alaihissalam oleh Allah untuk menyampaikan Wahyu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam didapatkan pemahaman bahwa dalam budaya literasi Islam, untuk mencapai ilmu di tingkatan teratas budaya literasi Islam mutlak membutuhkan bimbingan dan pengajaran dari guru, sebagaimana Jibril Alaihissallam menuntun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mengucapkan dan memahami dengan benar Wahyu dari Allah. Sehingga dalam budaya literasi Islam, aktivitas keilmuan, di antaranya membaca buku, tidak dapat dipisahkan dengan pengajaran dan bimbingan dari guru yang memiliki otoritas ilmu, terutama pada proses pembentukan pandangan-alam Islam dalam diri setiap Muslim dan penerapannya dalam aktivitas keilmuan. Dalam budaya literasi Islam, memisahkan buku dari guru adalah jalan yang salah. Inilah fenomena kebingungan intelektual yang pada hari ini banyak diidap oleh kalangan cerdik pandai dan ilmuwan Muslim. 

Dari penjelasan di atas didapati kembali perbedaan antara budaya literasi Islam dengan Barat. Pertama, kaum literati di Dunia Barat menjalani proses belajar secara individual, tanpa sosok guru yang senantiasa mendampingi dan membimbing. Komunikasi dan pewarisan pengetahuan dari satu orang ke orang lain sebatas melalui buku maupun dokumen tertulis lainnya, tanpa harus melalui sosok guru sebagai otoritas pemilik dan penyampai ilmu. Oleh karenanya dalam budaya literasi Barat tidak dikenal konsep sanad dalam pewarisan ilmu yang merupakan salah satu konsep penting dalam budaya literasi Islam. Kedua, budaya literasi Islam mencapai puncaknya pada kemampuan berfikir kritis yang berlandaskan adab, yakni pengakuan dan kemampuan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang benar sebagai hasil dilibatkannya keimanan dalam proses pembacaan. Dengan demikian perbedaan pendapat dapat terjadi dalam koridor ilmu, salah satunya bentuknya ialah diterimanya kritik yang benar dan diakuinya kesalahan. Tidak sebagaimana kemampuan berfikir kritis dalam budaya literasi Barat yang berujung pada ideologisasi pengetahuan dan menyebabkan terjadinya terus menerus pembongkaran paradigma ilmu pengetahuan sebagai hasil pertentangan terus menerus antar penganut ideologi yang beragam akibat ditempatkannya pengetahuan sebagai bagian dari struktur ideologi tertentu. 

Terakhir, yang menjadi penting bagi umat Islam adalah pengamalan budaya literasi Islam bagi setiap diri Muslim hingga mencapai puncak tertingginya merupakan pemenuhan terhadap perintah Allah kepada seluruh hamba untuk membaca dengan menyebut nama-Nya melalui bimbingan kalangan pemilik otoritas agar ilmu yang serajut dengan iman dapat dicapai, sehingga meningkatkan kualitas diri umat Islam untuk bergerak melawan segala kezhaliman. Bagi seorang Muslim, membaca buku sudah seharusnya menjadi bagian dari kehidupan keseharian yang tak terlepaskan, bagaikan bernafas!

2 komentar:

  1. Sebagai seorang muslim kita harus patuh pada yang di anjurkan Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk menunjukkan kebenaran dan jalan keselamatan kepada manusia, Tuhan perintahkan, "Bacalah!"

      Hapus