Kamis, 07 Mei 2020

Menakar Kualitas Buku

Pergumulan saya sejak kecil dengan buku, dan dimulai sejak kelas menengah atas dengan buku-buku serius, sedikit banyak turut mengasah kepekaan saya dalam menakar kualitas buku. Tidak berarti selama ini penilaian saya terhadap kualitas buku selalu benar, bahkan saya teringat pada masa awal memasuki jenjang perguruan tinggi, penilaian saya dalam menakar kualitas buku lebih sering salah daripada benar. Pengalaman panjang inilah, yang tidak selalu menyenangkan karena buku-buku mahal yang saya beli tidak seluruhnya memiliki kualitas yang baik, menjadi bahan refleksi bagi saya untuk menakar kualitas suatu buku dengan mengenali faktor-faktornya. 

Berikut adalah faktor-faktor berdasarkan pengalaman pribadi yang saya gunakan untuk menakar kualitas suatu buku ketika hendak membeli buku maupun meminjam buku di perpustakaan, sehingga memudahkan saya dalam memilih dan memilah buku di antara sejumlah besar hamburan buru, yang saya bedakan antara faktor-utama dan faktor-pendukung. 

Faktor Utama 

Faktor-utama yang menentukan kualitas suatu buku terdiri dari aspek (1) kredibilitas penulis; (2) kedudukan suatu buku di antara buku-buku setema; dan (3) kebaharuan buku. Faktor pertama, kredibilitas seorang penulis merupakan faktor yang paling utama saya gunakan untuk menakar kualitas suatu buku. Lalu apa saja aspek yang harus diperhatikan untuk mengetahui sosok penulis memanglah memiliki otoritas, sehingga kredibilitasnya tidak perlu dipertanyakan? 

Idealnya tingkat pendidikan penulis akan menjadikannya memiliki kredibilitas dalam menulis buku sesuai bidang keilmuan yang digeluti. Seorang guru besar yang sudah sepatutnya menguasai bidang filsafat ilmu, seharusnya akan mampu melahirkan karya buku yang mumpuni di bidang tersebut. Namun saya memiliki beberapa buku dengan tema filsafat ilmu yang merupakan hasil karya guru besar, tetapi kualitasnya terbilang sangat mengecewakan karena tidak memiliki kebaharuan sama sekali, baik dari aspek sistematikan pembahasan, pendekatan dan metodologi, maupun substansinya yang hanya merupakan pengulangan dari buku-buku setema. Oleh karena pengalaman ini saya tidak menjadikan tingkat pendidikan penulis sebagai faktor mutlak untuk mengetahui tingkat kredibilitas penulis, walaupun tetap saja tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan untuk menilai buku-buku serius. 

Untuk mengetahui kredibilitas sosok penulis, saya lebih memperhatikan faktor kedudukan seorang penulis di dalam masyarakat ilmiah. Seseorang yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat ilmiah, yakni mendapatkan pengakuan otoritas dari sesama ahli dan pemikirannya secara masif dikutip dalam buku-buku setema untuk diapresiasi, diperbincangkan, diulas, dibedah, maupun dikritisi, merupakan tanda bahwasanya penulis merupakan sosok yang memiliki kredibilitas, sehingga buku hasil karyanya patut, bahkan wajib untuk dimiliki dan dipelajari. Sebut saja nama besar seorang pemikir Muslim kontemporer, yakni Syed Naquib Al-Attas yang otoritas beliau telah diakui di kalangan ahli hingga tingkat internasional, dan gagasan-gagasan beliau dalam waktu yang sangat panjang sejak tahun 1970-an hingga kini masih dikaji dengan intens, menandakan kualitas karya buku beliau tidak perlu lagi dipertanyakan untuk dimiliki dan dipelajari. Begitupula dengan sosok pemikir Muslim kontemporer lainnya, yakni Ismail Raji’ Faruqi, yang walaupun gagasannya tidak luput dari kritikan tajam di antara kalangan ahli; sebut saja dua tokoh yang terbilang sengit menyerang pemikiran Faruqi terkait Islamisasi Ilmu Pengetahuan yakni Ziauddin Sardar dan. Pervez Hoodboyz, namun kritikan tersebut justru menandakan bahwa karya buku Al-Faruqi memanglah memiliki kualitas yang baik, sehingga layak untuk ditanggapi oleh kalangan ahli. 

Nama lain dari kalangan non Muslim ialah Yuval Noah Harari dengan karya bukunya berjudul Homo Sapiens dan Homo Deus yang kini tengah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat ilmiah. Walaupun tidak lepas dari kritikan tajam, terutama dari kalangan umat beragama, nama Harari tidak diragukan lagi sebagai penulis yang memiliki kredibilitas karena pemikiran yang dilontarkannya mampu menyedot perhatian dalam lingkup internasional. Oleh karena itu karya-karyanya patut untuk dimiliki dan dipelajari, terlebih dalam dua karyanya Harari memaparkan prediksi kemungkinan masa depan manusia yang sangat dibutuhkan, terutama oleh umat Islam, untuk memahami cetak biru Peradaban Barat dan kecenderungan geraknya menuju masa depan. 

Berkebalikan dengan penjelasan saya di atas, buku yang ditulis oleh seorang guru besar sekalipun, tetapi tidak mendapatkan perhatian dari masyarakat ilmiah; tidak diapresiasi, diperbincangkan, diulas, dibedah, dan dikritisi, maka menandakan penulisnya tidak mendapatkan pengakuan dari kalangan ahli, sehingga kemungkinan besar bukunya tidak memiliki kualitas yang baik. Saya tidak akan bertaruh memprioritaskan anggaran untuk membeli buku seperti ini walaupun di cover tercantum dalam ukuran besar nama penulis dengan rentetan gelar akademiknya. Buku-buku filsafat ilmu sebagaimana saya kutip di atas merupakan sekian dari banyak buku yang saya sesali karena membelinya, sebab gelar yang tercantum di cover tidak selalu menjadi jaminan terhadap kualitas buku. 

Cara utama yang saya gunakan untuk mengetahui kredibilitas penulis adalah dari penjelasan secara langsung dari para guru maupun kutipan karya tulis para guru. Di sinilah pentingnya memiliki guru dan mempelajari karya tulisnya. Seorang guru yang memiliki otoritas ilmu hanya akan mengutip penulis lain yang dinilai memiliki kredibilitas, baik untuk diapresiasi maupun untuk dikritisi. Contoh saja, saya mencari dan mempelajari buku Samuel Huntington berjudul The Clash of Civilizations setelah membaca salah satu makalah karya Adian Husaini yang mengutip buku tersebut. Cara ini bagi saya merupakan cara yang paling mudah untuk mencari buku berkualitas baik. 

Selain di atas, cara yang saya lakukan untuk mengetahui kredibilitas penulis adalah dengan mengenali profil penulis dan rekam jejak ilmiahnya. Contoh yang dapat saya hadirkan adalah sosok Yasraf Amir Piling yang memiliki latarbelakang keilmuan studi kebudayaan kontemporer dan memiliki karya buku dengan tema tersebut dalam jumlah yang tidak sedikit, sebut saja di antaranya Dunia Yang Dilipat, Dunia Yang Berlari, Hipersemiotika, dan lain sebagainya. Latarbelakang dan rentetan karya tersebut menandakan bahwa penulis memanglah memiliki otoritas dalam bidang studi kebudayaan kontemporer, sehingga kredibilitasnya dalam menulis buku tema tersebut tidak perlu dipertanyakan. 

Cara lain yang seringkali saya gunakan adalah dengan memperhatikan pemberi kata pengantar maupun pemberi endorstment pada suatu buku. Cara ini saya gunakan ketika memutuskan untuk membeli buku karya Steven Pinker berjudul Enlightenment Now. Ketertarikan saya dengan buku ini karena tema pembahasannya seputar Peradaban Barat Kontemporer. Tetapi ketertarikan pada tema tidak lantas membuat saya merasa mantap untuk membeli buku ini, apalagi terhitung harganya tidak murah. Pencarian saya terhadap profil penulis pun belum mampu membulatkan keputusan saya untuk membelinya, padahal penulis merupakan guru besar di bidang psikologi dengan karya ilmiah dan penghargaan ilmiah tingkat internasional. Saya memutuskan untuk membeli buku ini setelah membaca endorstment dari Richard Dawkins yang nama besarnya tidak diragukan lagi di masyarakat ilmiah dalam tingkat internasional sebagai salah satu tokoh new-atheism. Contoh lain ialah buku karya Nidhal Guessoum dalam terjemah Bahasa Indonesia yang berjudul Memahami Sains Modern. Sebelumnya saya tidak mengetahui sedikitpun perihal profil penulis dan rekam jejak ilmiahnya, padahal buku penulis dengan jumlah halaman 4 kali lebih tebal telah saya miliki bertahun-tahun sebelumnya, namun belum sempat saya baca. Saya memutuskan membeli buku ini setelah membaca endorstment dari Prof. Alparslan Acikgenc yang merupakan filosof Muslim dengan otoritas yang diakui di tingkat internasional. Cara ini selain menunjukkan kualitas suatu buku; tidak mungkin seorang Richard Dawkins dan Alparslan memberikan endorsment untuk karya yang tidak layak karena akan mencoreng nama besarnya, juga membantu saya untuk memahami perspektif atau faham yang diusung oleh penulis; Richard Dawkins tidak mungkin memberikan endorsmet untuk karya buku seorang spiritualis yang meyakini hidup manusia telah ditentukan oleh Tuhan sejak azali.

Gambar: Endorsment dari Richard Dawkins untuk buku Enlighenment karya Steven Pinker

Gambar: Endorsment dari Alparslan Acikgenc untuk buku Memahami Sains Modern karya Nidhal Guessoum

Dari pembahasan faktor pertama ini, perlu saya tegaskan, bahwa buku berkualitas baik tidak selalu buku yang menyandang predikat best-seller, karena persoalan penjualan berkaitan dengan ceruk dan luas pasar yang tidak selalu memiliki korelasi dengan tingkat kualitas suatu buku. Bagi saya buku berkualitas baik ialah buku yang menyandang predikat best-writer dikarenakan buku yang bagus hanya mampu dilahirkan oleh seorang penulis dengan kualitas intelektual yang mumpuni, singkatnya penulis yang memiliki kredibilitas. 

Faktor kedua yang menentukan kualitas buku adalah kedudukan suatu buku. Faktor ini berkaitan erat dengan faktor pertama, karena sosok penulis yang memiliki kredibilitas di tengah masyarakat ilmiah pastilah karya bukunya menempati kedudukan yang penting. Lingkup faktor ini meliputi (1) kedudukan suatu buku di antara buku-buku karya seorang penulis, seperti kedudukan buku Risalah untuk Kaum Muslimin di antara buku-buku lain karya Syed Naquib Al-Aattas; dan (2) kedudukan suatu buku di antara buku-buku setema, seperti buku berjudul Diabolisme Pemikiran karya Syamsuddin Arif di antara buku-buku lain dengan tema Pemikiran Islam. 

Dalam lingkup pertama, kedudukan tertinggi suatu buku ialah merupakan buku kunci untuk memahami pemikiran penulis. Contohnya adalah buku Muqaddimah karya Ibnu Khaldun yang merupakan buku kunci untuk memahami pemikiran penulis mengenai filsafat peradaban manusia. Tanpa dipahaminya terlebih dahulu buku ini, pembaca tidak akan dapat menangkap pemikiran Ibnu Khaldun yang tertuang dalam buku Al-I’bar yang merupakan buku sejarah umat manusia. Sementara itu, untuk dapat memahami buku Muqaddimah sesuai dengan perspektif Ibnu Khaldun sebagai penulis, pembaca harus membaca buku otobiografi penulis berjudul At-Ta’rif, sehingga pemikiran Ibnu Khaldun yang dirumuskannya berdasarkan refleksi terhadap perjalanan kehidupannya yang berliku di dunia politik dapat dipahami dengan benar sesuai maksud penulis. Sedangkan dalam lingkup kedua, kedudukan tertinggi suatu buku merupakan buku induk di antara buku-buku setema. Tanda suatu buku merupakan buku induk ialah dijadikan rujukan bagi buku-buku lain yang setema. Sebut saja buku-buku dengan tema Poskolonial, Orientalisme, maupun Eurosentrisme tidaklah dikatakan berbobot dan berkualitas tanpa mengutip karya Edward Said berjudul Orientalism maupun karya Syed Farid Alatas berjudul Diskursus Alternatif Dalam Ilmu Sosial Asia. 

Kedudukan suatu buku sebagai buku kunci maupun buku induk menandakan bahwa buku tersebut memiliki kualitas yang tinggi, sehingga mendapatkan pengakuan di kalangan masyarakat ilmiah dengan dijadikannya sebagai rujukan utama untuk memahami pemikiran suatu tokoh maupun bagi buku-buku setema. Sementara buku-buku lain yang mengacu pada buku kunci dan buku induk, baik kedudukannya sebagai buku penjelas maupun buku pengantar, memiliki kedudukan di bawah buku kunci dan buku induk dengan kualitas yang tidak akan menyamai keduanya. Tetapi tidak berarti buku-buku tersebut tidak penting untuk dimiliki dan dipelajari. Persoalan ini berkaitan dengan prioritas membaca buku, bukan berkaitan dengan kualitas buku, karenanya di luar lingkup pembahasan tulisan ini dan tidak akan dibahas lebih lanjut pada kesempatan ini. 

Permasalahannya, bagaimana cara untuk mengenali bahwa suatu buku merupakan buku kunci atau buku induk? Sebagaimana faktor pertama sebelumnya, untuk mengetahui kedudukan suatu buku adalah melalui pengajaran dari para guru yang akan menyampaikan buku-buku kunci untuk memahami pemikiran suatu tokoh dan buku-buku induk untuk menguasai pembahasan suatu tema. Inilah cara yang paling mudah dan paling cepat untuk mengetahui kedudukan suatu buku. Bahkan untuk lingkup pertama, tanpa bimbingan guru dibutuhkan waktu yang panjang untuk mengetahui kedudukan suatu buku sebagai buku kunci untuk memahami pemikiran seorang tokoh karena harus membaca seluruh buku karya penulis yang kemudian dipetakan untuk mengetahui kedudukan setiap buku penulis. Cara pembelajaran mandiri ini pun tidak lepas dari kesalahan karena mengandalkan pembacaan pribadi untuk mereka-reka buku mana dari sekian banyak karya penulis yang berkedudukan sebagai buku kunci. 

Untuk lingkup kedua, selain dengan bimbingan guru, untuk mengetahui kedudukan suatu buku sebagai buku induk adalah dengan melakukan survei kepusatakaan. Cara ini memang terbilang rumit dan secara khusus hanya saya gunakan ketika melakukan penelitian kepusatakaan. Survei kepusatakaan yang saya lakukan adalah dengan mengumpulkan buku-buku setema, kemudian saya cek daftar pustaka masing-masing buku. Buku yang menjadi rujukan dari sekian banyak buku yang saya kumpulkan, kemungkinan besar merupakan buku induk pada tema yang hendak saya teliti. Di luar penelitian, cara ini juga saya gunakan dengan lebih longgar. Semisal ketika saya mempelajari tema Islamisasi Ilmu, buku-buku yang saya baca dan pelajari membawa saya pada dua buku, yakni Islam and Secularism karya Syed Naquib Al-Attas dan Islamization of Knowledge karya Ismail Raji’ Faruqi yang menandakan kedua buku tersebut merupakan buku induk pada tema Islamisasi Ilmu. 

Survei kepusatakaan dengan cara yang lebih sederhana juga selalu saya gunakan ketika hendak membeli buku. Saya akan memeriksa bagian daftar pustaka buku yang hendak saya beli untuk mengetahui buku-buku yang dirujuk. Jika buku yang dirujuk adalah buku-buku penulis ternama atau merupakan buku induk pada tema pembahasannya, maka saya menilai buku tersebut memiliki kualitas yang baik, sehingga sudah hampir pasti saya akan membeli buku ini. Berbeda keputusan saya jika suatu buku hanya merujuk pada buku-buku sekunder; bukan buku induk maupun buku kunci, sudah pasti saya tidak akan membelinya karena selain kedudukannya rendah, juga sudah dipastikan tidak akan memiliki kebaharuan dibandingkan dengan buku-buku setema. 

Faktor ketiga untuk menakar kualitas suatu buku, selain berkaitan dengan aspek kedudukan suatu buku pada buku-buku setema, juga berkaitan dengan kebaharuan buku pada aspek substansi, sistematika, serta metode maupun pendekatan pembahasan dibandingkan buku-buku setema. Buku yang memiliki kebaharuan merupakan buku pendorong wacana, diskusi, dan pengkajian ilmu pengetahuan untuk terus berkembang, sehingga menjadikannya memiliki kualitas yang baik. Contoh yang dapat saya sebutkan adalah dua buku karya Nangkula Utaberta berjudul Pemikiran Seni Bina Islam Modern di Dunia dan Malaysia, dan Arsitektur Islam: Pemikiran, Diskusi, dan Pencarian Bentuk yang memiliki kebaharuan dalam aspek pendekatan yang digunakan di antara buku-buku bertema Arsitektur Islam arus utama. Begitupula dengan buku bertema Arsitektur Islam karya Pudji Wismantara yang berjudul Eksistensi dan Rekontekstualisasi Arsitektur Masjid Nusantara yang memiliki kebaharuan dalam aspek pendekatan pembahasan. 

Untuk mengetahui kebaharuan suatu buku, cara yang saya gunakan adalah dengan membaca sinopsis, kata pengantar, dan sistematika daftar isi. Mengetahui kebaharuan buku dengan membaca sinopsis dan kata pengantar jauh lebih mudah, apalagi jika bagian tersebut dengan gamblang ditujukan oleh penulis untuk menjelaskan aspek kebaharuan karya bukunya dibandingkan dengan buku-buku setema, dibandingkan dengan mengamati sistematika pembahasan suatu buku yang tercermin dari sistematika daftar isi karena mensyaratkan kita sebagai pembaca telah mengetahui sistematika buku-buku setema pada umumnya untuk dapat membandingkan dan mengetahui letak kebaharuan suatu buku. 

Jika suatu buku memenuhi faktor-utama ini; kredibilitas penulis, kedudukannya sebagai buku kunci atau buku induk, dan kebaharuannya dibandingkan buku-buku setema, maka buku tersebut memiliki kualitas yang baik, sehingga layak, bahkan sudah seharusnya menjadi prioritas untuk dimiliki dan dipelajari oleh setiap diri yang mengaku pecinta ilmu. Dengan mengetahui faktor-utama ini saya dapat menentukan prioritas untuk memilih buku-buku apa saja yang harus saya beli, terutama ketika dahulu masih berstatus sebagai mahasiswa dengan keterbatasan ekonomi untuk membeli buku, sehingga saya dapat mengalokasikan uang yang saya miliki untuk membeli buku yang tepat. 

Faktor Pendukung 

Selain faktor-utama, terdapat pula faktor-pendukung yang mempengaruhi kualitas suatu buku. Jika faktor-utama berkaitan dengan kualitas substansi buku, maka faktor-pendukung berkaitan dengan kualitas cetak buku, meliputi (1) tata layout; (2) pemilihan jenis dan ukuran huruf; (3) jenis kertas; (4) desain cover; (5) jenis dan kekuatan jilid; dan yang paling utama adalah (6) kualitas terjemah jika merupakan buku terjemahan dari bahasa sing ke Bahasa Indonesia. Seluruh faktor-pendukung ini berkaitan dengan kredibilitas penerbit yang dapat diketahui dari rekam jejaknya di dunia penerbitan buku. Penerbit yang telah memiliki nama besar kecenderungannya dapat memenuhi 6 poin tadi, sehingga buku-buku yang diterbitkannya memiliki kualitas cetak yang baik. 

Faktor-pendukung ini sangat menentukan kenyamanan dalam membawa, membaca dan mempelajari suatu buku. Buku dengan tata layout yang baik, pemilihan huruf yang tepat, tinta yang tercetak jelas, dan kualitas penerjemahan yang tinggi akan memberikan kenyamanan dalam membacanya dalam jangka waktu yang panjang. Saya dapat membaca berjam-jam dengan nyaman suatu buku yang memiliki kualitas substansi dan kualitas cetak yang baik, dibandingkan buku serupa dengan kualias cetak yang buruk akan mudah membuat mata saya lelah padahal baru terbilang sebentar bergumul dengannya. Selain itu buku dengan desain cover yang baik juga penting karena mampu memberikan kewibawaan pada buku, maupun dapat mencerminkan isi buku sehingga memudahkan saya sebagai pembeli untuk mengetahui sekilas tema pembahasan suatu buku. Sedangkan faktor jenis kertas dan jenis jilid berkaitan dengan masa pakai dan ketahanan buku. Buku dengan kualitas substansi yang baik, tidak saja akan tampil berwibawa jika dicetak dengan menggunakan jenis kertas bookpaper 80 gram dan jenis jilid hardcover rajut benang, tetapi juga akan memiliki ketahanan yang kuat dan masa pakai yang panjang karena tidak mudah rusak, sehingga kemungkinannya untuk diwariskan ke generasi penerus akan lebih besar. 

Selain mempertimbangkan kenyamanan membaca dan mempelajarinya, dalam memilih buku dikaitkan dengan kualitas cetaknya, saya juga seringkali mempertimbangkan kemudahan buku untuk dibawa dalam beraktivitas. Saya lebih memilih buku berukuran A5 dengan kertas bookpaper dan jilid softcover karena menjadikan buku lebih ringan untuk di bawa kemana pun saya bepergian dengan memasukkannya ke dalam tas kecil, sehingga dapat saya baca ketika sedang menunggu, mengantri, maupun di sela kesibukan. Buku jenis ini akan lebih cepat saya selesaikan dibandingkan buku berukuran besar dengan jilid hardcover yang mengharuskan saya membacanya dengan duduk, bahkan harus dengan dudukan buku karena buku yang berat akan mudah membuat tangan lelah yang menjadi hambatan untuk mempelajarinya dalam waktu yang panjang. 

Dikaitkan dengan kualitas substansi buku, terdapat dua jenis penerbit. Pertama, penerbit yang dikenal menerbitkan buku-buku berkualitas baik, yakni memenuhi faktor-utama, sekaligus memenuhi faktor-pendukung, sehingga buku terbitannya memiliki kualitas yang baik dari aspek substansi dan cetakannya. Tentu saja buku-buku penerbit jenis pertama ini layak diprioritaskan untuk dibeli, walaupun kecenderungannya memiliki harga yang tinggi. Kedua, penerbit yang dikenal menerbitkan buku-buku berkualitas baik, tetapi memiliki kualitas cetak yang buruk. Pengalaman saya untuk penerbit jenis ini, saya akan membeli buku-buku berkualitas baik yang diterbitkannya minimal 2 buku untuk judul yang sama karena dengan kualitas cetak yang buruk, buku tidak akan berumur lama akibat mudah rusak, seperti jilidan yang mudah lepas, kertas yang terlalu tipis sehingga mudah robek, maupun kualitas tinta yang tidak bertahan lama. Jika masalah terletak pada kualitas penerjemahan, sedangkan penerbit jenis pertama tidak menerbitkan buku tersebut, maka saya akan membeli minimal 2 buku untuk judul yang sama dari penerbit yang berbeda dari jenis kedua sebagai pembanding terjemahan. 

Demikianlah faktor-faktor yang saya gunakan untuk menakar kualitas suatu buku berdasarkan pengalaman saya, meliputi (1) faktor-utama berkaitan dengan kredibilitas sosok penulis, kedudukan suatu buku, dan kebaharuannya di antara buku-buku setema; serta (2) faktor-pendukung berkaitan dengan kredibilitas penerbit yang mempengaruhi kualitas cetak buku. Kemampuan untuk menakar kualitas buku sudah seharusnya dimiliki oleh setiap pecinta ilmu, termasuk dari kalangan penuntut ilmu. Karena bukan saja berkaitan dengan persoalan ekonomi, kemampuan memilih buku berkualitas berkaitan dengan upaya untuk memberikan asupan gizi yang baik bagi akal agar senantiasa tajam dan bagi jiwa agar mendapatkan kepuasan dan ketenangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar