Selasa, 26 Mei 2020

New-Normal (Islamic) Architecture

Pandemi Covid-19 yang diprediksi tidak akan berakhir dalam waktu dekat, bahkan virus Covid-19 dinilai oleh kalangan ahli tidak akan hilang dalam lingkungan hidup manusia, menuntut manusia melakukan perubahan gaya hidup secara fundamental agar tidak terinfeksi virus yang bertolak dari kaidah (1) menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan; dan (2) menjaga jarak fisik (physical distancing). Inilah yang disebut dengan kehidupan normal-baru (new-normal) karena sepanjang dan pasca pandemi Covid-19 kehidupan manusia tidak akan sama dengan masa sebelumnya hingga ditemukan vaksin yang dapat diakses oleh seluruh umat manusia agar memiliki kekebalan tubuh terhadap virus Covid-19. Tentu saja narasi the new-normal masih bersifat hipotesis dan prediktif, serta merupakan salah satu narasi yang logis dan relevan, selain narasi kembalinya kehidupan manusia pasca pandemi seperti sedia kala bagaikan tidak pernah terjadi pandemi sebelumnya jika saja virus Covid-19 dapat benar-benar hilang dari lingkungan hidup manusia. 

Salah satu bidang yang sangat dituntut untuk menyesuaikan dengan narasi kehidupan normal-baru adalah arsitektur dikarenakan lingkup arsitektur yang merupakan lingkungan buatan meliputi ruang kehidupan manusia, selain dikarenakan ketergantungan manusia dengan lingkungan binaan atau lingkungan terbangun dalam kehidupan urban kontemporer akibat dalam kehidupan kesehariannya berjarak dari alam dengan melangsungkan kegiatan di dalam ruang tertutup yang diperlengkapi dengan teknologi untuk memberikan kenyamanan dan keamanan. Kedua hal tersebut; lingkup arsitektur dan ketergantungan manusia pada arsiektur, menjadikan bidang arsitektur memegang peranan penting untuk keberlangsungan kehidupan normal-baru, selain bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. 

Ditinjau dari perspektif Arsitektur Islam, yakni arsitektur yang bersumberkan dari Wahyu, narasi kehidupan normal-baru menekankan pada aspek penjagaan jiwa manusia dilandasi kaidah hifzhul nafs yang merupakan salah satu tujuan ditetapkannya Syariat Islam. Permasalahan ini menuntut kalangan ahli Arsitektur Islam untuk melakukan reorientasi pada dua aspek. Pertama, Arsitektur Islam harus berfokus pada aspek manusia sebagai subyek, tidak lagi pada perwujudan arsitektur sebagai objek dengan berkutat pada unsur arsitektural yang diidentifikasi sebagai khas Islam, seperti kubah, minaret, pelengkung, hingga ornamentasi. Kedua, berfokus pada penjagaan jiwa manusia yang merujuk pada aspek basyar diri manusia, yakni unsur tubuhnya yang bersifat fisik, mendorong orientasi pengkajian dan perancangan Arsitektur Islam untuk bersinergi dengan kalangan ahli dari arsitektur selainnya dalam rangka memberikan perlindungan terhadap diri manusia dari penularan virus Covid-19. Permasalahan ini merupakan kesempatan bagi kalangan ahli Arsitektur Islam dari umat Islam untuk membuktikan bahwasanya Islam bersifat universal, dan arsitektur yang bersumberkan dari Islam memiliki aspek universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia tanpa sekat agama, dengan syarat pewacanaan, pengkajian, dan praktik Arsitektur Islam tidak lagi terbatas berkutat pada aspek-aspek khusus Arsitektur Islam yang menjadi pembeda dengan arsitektur selainnya, seperti persoalan simbolisasi dan identitas. 

Pertanyaannya, aspek apa saja dari arsitektur yang harus mengalami perubahan maupun penyesuaian dalam rangka kehidupan normal-baru? Tulisan ini hendak menanggapi pertanyaan tersebut dalam ranah konseptual arsitektur dari aspek konsep spasial dan konsep teknologi yang merupakan dua unsur utama arsitektur sebagai ilmu pengetahuan. Mengikuti dua aspek tersebut tulisan ini terdiri dari dua bagian, bagian pertama akan membahas konsep spasial, sementara bagian kedua akan membahas konsep teknologi dalam konteks kehidupan normal-baru. 

Konsep Spasial 

Dalam ranah konsep spasial, aspek arsitektur yang dituntut untuk mengalami perubahan dan penyesuaian berdasarkan narasi kehidupan normal-baru terdiri dari (1) konsep spasial ruang publik; dan derivasinya dalam ranah (2) programatik spasial. Pertama, terjadinya penularan virus Covid-19 antar manusia yang sedang berkegiatan secara komunal atau di dalam kerumunan massa menuntut dilakukannya perubahan secara konseptual mengenai ruang publik, baik merupakan ruang terbuka seperti alun-alun, city walk, plaza, taman kota, car free day, maupun ruang tertutup seperti pasar, mall, sekolah dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Dr. Hans Henri P. Kluge yang merupakan Direktur Regional WHO untuk wilayah Eropa sebagaimana dikutip oleh Tempo.co, bahwasanya fasilitas yang harus mendapatkan pengaturan ketat pada pelaksanaan kehidupan normal-baru dikarenakan memiliki tingkat ketentanan yang tinggi ialah ruang publik, selain hunian yang ditempati oleh kalangan lanjut usia dan permukiman padat. 

Selama ini ruang publik, merujuk pada Altman (1975), dipahami secara psikologis dan sosiologis sebagai ruang bersama yang dapat diakses dan digunakan oleh seluruh orang sebagai bagian dari suatu komunitas untuk berkegiatan bersama dengan membuka ruang personal agar dapat menerima kehadiran pihak lain melalui mekanisme toleransi spasial. Dalam lingkup kehidupan kota, peran ruang publik sebagai ruang bertemu dan berkumpul terbilang sentral untuk membentuk ikatan sosial di antara sesama warga kota dengan saling mengenal dan berkegiatan bersama. Aspek politis inilah yang ditekankan oleh Habermas (2003) dengan menyatakan ruang publik sebagai ruang komunikasi bagi warga kota untuk saling memahami dalam rangka mencapai kesepakatan-kesepakatan bersama untuk menjalani kehidupan di ruang kehidupan yang sama. 

Dengan pemahaman demikian, ruang publik menjadi erat dengan perilaku berkerumun, bercengkerama, bersentuhan, tatap muka, yang hampir-hampir meniadakan jarak antar pengguna. Kita mengenal pasar senggol di mana pengunjung pasar saling berdesak-desakan dalam melakukan transaksi jual beli hingga untuk dapat sekedar melewati jalanan pasar. Perilaku tersebut ditoleransi oleh pengguna karena pasar yang merupakan ruang publik dipahami sebagai ruang bersama yang dapat diakses dan digunakan oleh siapa pun, karenanya hampir tidak pernah kita mendapati konflik terjadi antar pengunjung pasar akibat saling bersentuhan. Lebih-lebih lagi dalam kehidupan urban kontemporer, ruang publik berperan sebagai denyut nadi kehidupan kota dengan mengupayakannya mencapai vitalitas kegiatan yang tinggi melalui penyelenggaraan berbagai event untuk menarik warga kota berkumpul dalam kerumunan, sebut saja konser musik, pameran kebudayaan, hingga lomba lari berbalut hiburan, yang menjadikan pengaturan jarak untuk menegaskan ruang personal oleh masing-masing pengguna ruang hampir tidak dapat dipertahankan. 

Dengan aturan physical distancing untuk menghindari penularan virus Covid-19 yang menuntut antar manusia menjaga jarak 1-2 meter dari sesamanya akan merubah pemahaman ruang publik secara konseptual karena ruang publik sebagai ruang berkerumunnya massa justru akan meningkatkan potensi terjadinya penularan virus. Dalam kehidupan normal-baru, perilaku saling senggol di pasar tidak lagi dapat ditoleransi, dan perilaku goyang bersama hingga saling bersentuhan dalam acara konser musik tidak lagi dapat dibenarkan karena di ruang publik justru setiap pengguna harus mampu mempertahankan ruang personalnya dengan menjaga jarak dengan sesama. Dengan demikian dalam masa kehidupan normal-baru ruang publik dengan karakternya sebagai ruang toleransi dengan keterbukaan ruang personal tidak lagi dapat dibenarkan berdasarkan protokol kesehatan. Di sinilah ruang publik dalam kehidupan normal-baru menjadi paradoks karena pertemuan dan perkumpulan di ruang publik oleh masyarakat harus dilakukan dengan membatasi jumlah pengguna ruang dan dengan menjaga jarak antar pengguna ruang.


Gambar 1: Demonstrasi di Tel Aviv pada masa pandemi Covid-19 dengan menerapkan protokol physical distancing antar demonstran


 Gambar 2: Kegiatan jual-beli di Pasar Baru Pulau Punjung (atas) dan di Pasar Pagi Salatiga (tengah dan bawah) dengan menerapkan protokol physical distancing antar pedagang pasar

Perubahan konseptual ruang publik dapat terjadi jika diawali dengan perubahan konseptual ruang personal manusia sebagai pengguna ruang. Jarak ruang personal yang digunakan dalam berkegiatan di ruang publik sebelum masa pandemi salah satunya dipengaruhi faktor kedekatan hubungan dengan sesama pengguna ruang, namun pada masa kehidupan normal-baru dominan dipengaruhi faktor standar berkegiatan di ruang publik berdasarkan protokol kesehatan, sehingga walaupun antar pengguna ruang saling mengenal dengan baik, menjaga jarak harus tetap dilakukan. Untuk terjadinya perubahan ruang personal ini, mutlak dibutuhkan pemahaman masyarakat terhadap bahaya virus Covid-19 terhadap kesehatan dan protokol kesehatan yang harus dipatuhi untuk memutus penularan virus. Tidak dimiliki pemahaman yang benar dan cukup akan menyebabkan terjadinya kerumunan massa di ruang publik pada masa pandemi, sebagaimana tetap terjadi pada periode pemberlakukan PSBB dan baru-baru ini pada fase akhir Bulan Ramadhan di pusat perbelanjaan untuk membeli baju baru dalam rangka menyambut lebaran. 

Kedua, perubahan konseptual ruang publik mendorong dilakukannya penyesuaian programatik spasial ruang publik. Programatik spasial berkaitan dengan luasan ruang yang ditentukan berdasarkan sifat ruang, suasana ruang, kapasitas ruang, dan perabot ruang. Dengan diberlakukannya protokol physical distancing akan berpengaruh terhadap luasan dan kapasitas ruang. Luasan ruang yang sama tidak lagi dapat diperuntukkan untuk jumlah pengguna yang sama karena pada masa kehidupan normal-baru setiap pengguna ruang harus menjaga jarak dari sesamanya, sehingga akan terjadi penurunan kapasitas ruang. 

Dalam kegiatan perancangan arsitektur pada masa kehidupan normal-baru, penyesuaian terhadap programatik spasial akan merubah panduan dan kaidah perancangan yang selama ini menekankan pada efisiensi jika merujuk pada arsitektur modern, dan kebutuhan emosional jika merujuk pada arsitektur posmodern. Kehidupan normal-baru menuntut aspek kesehatan menjadi faktor utama yang mempengaruhi bentukan dan tata ruang arsitektur. Mulai kini, suatu ruang dirancang tidak lagi sebatas didasari nilai ekonomi berkaitan dengan kapasitas ruang, efektivitas melangsungkan kegiatan di dalam ruang, dan kemudahan mobilisasi antar ruang, maupun desain ruang yang mampu memberikan kepuasan emosional bagi pengguna berkaitan dengan identitas dan simbol-simbol pada ruang. Lebih penting lagi, kehidupan normal-baru menuntut ruang kehidupan yang sehat agar meminimalkan resiko terinfeksi virus Covid-19.


Gambar 3: Penyesuaian perabot di area restoran pada masa pandemi Covid-19 (atas), dan usulan desain perabot untuk masa kehidupan normal-baru (bawah)

Pada masa pandemi, upaya spasial yang terbilang darurat sudah banyak dipraktikkan dengan melakukan pembatasan dan penjarakkan pengunjung di ruang publik dengan mengatur tata ruang dan tata telak perabot yang menghalangi terjadinya kerumunan masa, seperti pengaturan jarak pengujung di area kasir tempat perbelanjaan, serta dengan penyesuaian desain perabot yang memungkinkan pengguna dapat menjaga jarak yang aman sesuai protokol kesehatan, seperti kursi single seater yang hanya diperuntukkan untuk 1 orang dengan jarak yang aman dari dudukan kursi lainnya atau dari jalur sirkulasi yang diperuntukkan bagi pengguna ruang untuk lalu lalang. Tentu solusi darurat ini yang merupakan solusi jangka pendek sebagai hasil dari tuntutan untuk dilakukannya tanggapan dalam waktu cepat tidak ideal dari perspektir arsitektur, terutama berkaitan dengan aspek estetika. 

Konsep Teknologi 

Teknologi arsitektur berkaitan dengan aspek kekuatan dan durabilitas ruang merujuk pada sistem struktur, konstruksi, dan bahan bangunan, serta aspek performa ruang merujuk pada sistem pencahayaan dan penghawaan. Dalam konteks kehidupan normal-baru, aspek teknologi arsitektur dituntut untuk mampu menghambat, hingga memutus penyebaran virus Covid-19 di dalam ruang. Pertama, dibutukan teknologi bahan baru yang tidak saja memiliki durabilitas yang tinggi terhadap penyemprotan disinfektan secara rutin, tetapi juga teknologi bahan dengan karakteristik tidak dapat dihinggapi virus Covid-19 dalam jangka waktu panjang, bahkan mampu membunuh virus Covid-19 yang menempel pada bahan. Dengan spesifikasi bahan demikian, potensi penyebaran virus Covid-19 melalui unsur arsitektural yang mudah dipegang dan digunakan secara komunal dapat ditekan, seperti railing, kusen, bukaan pintu, perabot, dan lain sebagainya. 

Kedua, cepatnya penyebaran virus Covid-19 di lingkungan urban kontemporer diduga salah satunya akibat aktivitas bersama di dalam ruang tertutup maupun transportasi umum dengan penghawaan buatan AC. Berkaitan dengan hal ini, Prof. Heri Kusnanto Josef yang merupakan ahli di bidang Epidemiologi Penyakit Infeksi dari Universitas Gadjah Mada, sebagaimana dikutip Kompas.com menyatakan bahwa pengaruh AC terhadap penyebaran virus Covid-19 merupakan persoalan yang belum teliti. Tetapi merujuk pada kasus SARS, Prof. Hari menyatakan memang terdapat pengaruh ruang dengan sistem penghawaan AC dengan penyebaran virus. Namun demikian, walaupun belum terdapat penelitian yang spesifik, Prof. Hari menyimpulkan resiko penyebaran virus Covid-19 akan meningkat di dalam ruang yang tertutup dengan bukaan yang minim dan tingkat kesesakan ruang yang tinggi, terlebih jika secara terus menerus hanya mengandalkan AC untuk sirkulasi penghawaan di dalam ruang. 

Dengan mengkaji dugaan di atas oleh kalangan ahli di bidang fisik bangunan bersama kalangan ahli di bidang kesehatan akan diketahui pengaruh sistem penghawaan serta pencahayaan alami terhadap penyebaran virus Covid-19 dalam ruang terkait dengan tingkat kelembaban ruang, hembusan angin yang mengalir masuk dan keluar ruang, tingkat cahaya matahari di dalam ruang, dan sebagainya, sehingga dapat diputuskan teknologi pencahayaan dan penghawaan yang tepat untuk memutus penyebaran virus di dalam ruang. 

Ketiga, memutus penyebaran virus Covid-19, terutama di ruang publik, juga sangat terkait dengan teknologi kebersihan agar pengguna ruang dapat membersihkan bagian tubuhnya dengan teratur, seperti dengan menyediakan wastafel publik yang dilengkapi dengan sabun maupun spot penyemprotan disinfektan untuk barang bawaan dan sanitizer untuk tangan yang disebar dalam radius tertentu dengan desain yang estetik dan mudah dikenali, sehingga lingkungan kehidupan manusia dapat tetap tampil dengan kualitas visual yang baik sesuai kaidah arsitektur sekaligus dapat memenuhi protokol kesehatan berkaitan dengan tingkat kebersihan ruang dan diri pengguna ruang selama berkegiatan di dalam ruang. 

Penyesuaian aspek teknologi arsitektur dalam rangka realisasi kehidupan normal-baru menuntut perubahan paradigma dalam penciptaan teknologi yang tidak lagi sebatas dipengaruhi nilai ekonomi, kenyamanan tubuh, keamanan pengguna, dan estetika, tetapi juga harus memenuhi standar kesehatan ruang sesuai protokol kesehatan yang telah ditetapkan untuk memutus penyebaran virus Covid-19 di dalam ruang. Lebih luas lagi perubahan dan penyesuaian konsep spasial dan konsep teknologi dalam arsitektur akan merubah paradigma perancangan arsitektur dengan mengedepankan kesehatan ruang dan kesehatan pengguna ruang. Permasalahan ini membuka lapangan baru dalam penelitian arsitektur yang menuntut untuk sesegera mungkin ditanggapi oleh kalangan ilmuwan dan praktisi di bidang arsitektur untuk mewujudkan ruang kehidupan yang sehat dalam kehidupan normal-baru demi keberlanjutan spesies manusia dan keberlangsungan kehidupannya. Dalam perspektif Arsitektur Islam, persoalan ini merupakan amanat dari Tuhan kepada manusia yang telah diberi keluasan ilmu untuk mampu memenuhi tanggungjawab sebagai wakil-Nya dalam kehidupan dunia.

1 komentar:

  1. pandemi ini sifatnya sementara,saya pikir tidak perlu tergesa gesa merubah paradigma para arsitek dalam merancang arsitektur.karena ini pasti akan membuat design yg tidak effisien lagi. Saya lebih condong menuntut para ilmuan virus untuk segera mnciptakan materi atau obat 2 an, yg bisa disinkronisasi dengan hembusan AC yg udaranya bisa membasmi virus.dan tetap aman dan sehat buat manusia di dalamnya.

    BalasHapus