Senin, 04 Mei 2020

Paradigma Rusydian: Urgensi, Konsepsi dan Metodologi

Ulil Abshar Abdalla dalam artikelnya yang berjudul Jangan Pertentangkan Agama dan Sains mengulas kesepaduan dalam relasi antara agama (Islam) dan ilmu pengetahuan dengan mengutip pandangan Ibnu Rusyd yang disebutnya dengan Paradigma Rusydian untuk menolak klaim bahwasanya pada masa Pandemi Covid-19 saat ini, sains telah mengalahkan agama dikarenakan sains lebih berperan dalam menghadapi permasalahan virus Corona, sementara agama pada beberapa kasus justru menyebabkan tersebarluasnya virus ini ketika diselenggarakan peribadatan dan perkumpulan massal umat beragama, sebagaimana terjadi di Korea Selatan, Malaysia, dan Indonesia.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk mempermasalahkan masing-masing kasus tersebut maupun membela peran agama dalam menghadapi Pandemi Covid-19. Tulisan ini hendak menggarisbawahi dan menjelaskan Paradigma Rusydian dalam konteks relasi antara agama (Islam) dan ilmu pengetahuan, terutama sains modern. Tulisan ini saya mulai dengan pertanyaan, seperti apa relasi antara agama dan ilmu pengetahuan dalam Paradigma Rusydian yang menentukan interaksi antara keduanya? Lalu sejauh mana urgensi diterapkannya Paradigma Rusydian bagi ilmuwan Muslim maupun umat Islam secara umum? 

Urgensi dan Konsepsi Paradigma Rusydian

Ulil Abshar Abdalla menjelaskan pandangan Ibnu Rusyd terkait relasi antara agama dan ilmu pengetahuan dengan merujuk pada karya Ibnu Rusyd berjudul Fashl al-Maqal, bahwasanya antara syariah dan hikmah atau filsafat terdapat hubungan yang erat, ittishal. Paradigma inilah, ditegaskan oleh Ulil, yang perlu digunakan oleh umat Islam pada masa kini dalam memahami relasi antara agama dan ilmu pengetahuan. Ulil menutup tulisannya dengan pernyataan, dengan paradigma Rusydian, iman bukanlah lawan dari pengetahuan, sehingga tidaklah tepat mempertentangkan antara agama dengan ilmu pengetahuan.

Salah satu tokoh ilmuwan Muslim yang dikenal di dunia internasional dan juga membela serta menerapkan Paradigma Rusydian dalam kerja keilmuannya ialah Prof. Nidhal Guessoum yang merupakan guru besar di bidang fisika dan astronomi. Secara konseptual, Prof. Nidhal Guessoum memandang Paradigma Rusydian sebagai jalan untuk menyelaraskan antara agama dan sains modern. Menurutnya, sains sebagaimana dipahami dalam dunia modern yang didefinisikan oleh Guessoum (2014: 155) secara metodologis sebagai seperangkat metode yang sistematis obyektif, kuantitatif, dan dapat difalsifikasi, dapat ditempatkan menggantikan filsafat dalam pandangan Ibnu Rusyd untuk dicapai kesimpulan bahwasanya tidak terdapat pertentangan antara agama dan sains modern. 

Secara konseptual, Guessoum memahami Paradigma Rusydian sebagai dua jalan mencapai kebenaran yang berasal dari Tuhan, yakni jalan agama dan jalan filsafat, atau sains modern dalam pandangannya. Di sinilah agama dan sains modern berjalan beriringan, selaras, sepadu, bahkan berpotongan karena keduanya mengarah pada kebenaran yang sama yang berasal dari Tuhan. Perbedaan kedua jalan tersebut terdapat pada aspek sosiologis, bahwasanya jalan agama diperuntukkan untuk seluruh manusia, sementara jalan filsafat atau sains diperuntukkan bagi kalangan elit, yakni filosof dan ilmuwan yang memiliki kemampuan akal lebih tinggi dibandingkan kalangan umum.

Sebagaimana Ulil Abshar, Guessoum memuji sosok dan pemikiran Ibnu Rusyd sebagai mutiara yang hilang di kalangan umat Islam karena pemikirannya tidak dikenal luas untuk dipelajari dan diterapkan di kalangan umat Islam pada masa kini. Oleh karena itu, Prof. Nidhal Guessoum (2014) selain hendak memperkenalkan kembali sosok Ibnu Rusyd di kalangan umat Islam, ia juga meyakini Paradigma Rusydian merupakan kerangka yang tepat dan relevan digunakan kalangan ilmuwan Muslim untuk mencari hubungan antara sains modern dengan iman Islam yang dianutnya. Dengan Paradigma Rusydian, Guessoum berkeyakinan prinsip-prinsip sains modern tetap terpenuhi sebagaimana termuat dalam definisi sains yang disampaikannya, sekaligus tidak bertentangan dengan keimanan.

Prof. Guessoum (2014) berpandangan diterapkannya Paradigma Rusydian merupakan agenda yang mendesak ditengah kesalahpahaman yang berlarut-larut di kalangan umat Islam bahwasanya sains modern secara inheren bersifat ateistik, sehingga bertentangan secara diametral dengan keimanan Islam dan karenanya tidak dapat didamaikan dengan Islam. Oleh karena pemahaman itulah, menurut Guessoum, kebanyakan umat Islam pada masa kini, terutama di Timur Tengah, meninggalkan sains modern demi menyelamatkan iman. Guessoum (2014, 2020) menjelaskan, watak sains modern adalah obyektif dalam arti tidak bermuatan nilai-nilai atau faham ideologi tertentu. Namun demikian, ditegaskan oleh Guessoum, tidak berarti seorang ilmuwan tidak beragama atau menanggalkan agamanya ketika melakukan aktivitas sains. Guessoum (2020) mengutip survei yang telah dilakukan oleh Profesor Elaine Howard Ecklund dari Rice University di Amerika Serikat untuk menunjukkan 40% ilmuwan di Amerika Serikat percaya Tuhan sedangkan 45% tidak percaya dan 15% mengaku Agnostik. Sementara itu survei yang sama dilakukan di Inggris dan India dengan kesimpulan 11% ilmuwan di India mengaku tidak percaya Tuhan, dan 38% ilmuwan di Inggris yang berpandangan agama bertentangan dengan sains modern. Dari berbagai survei ini Guessoum menunjukkan bahwa hanya minoritas ilmuwan saja yang tidak percaya Tuhan, dengan mayoritasnya merupakan kalangan beragama atau percaya dengan Tuhan, sehingga tidak tepat pandangan bahwasanya watak sains modern adalah ateistik.

Citra sains modern menjadi lekat dengan faham Ateisme dapat ditelusuri dari segelintir ilmuwan, terutama di Amerika Serikat, yang membajak sains modern untuk menyebarluaskan ideologi Saintisme, yakni faham yang berpandangan bahwa sains merupakan satu-satunya kebenaran ilmiah yang dapat menjelaskan seluruh realitas kehidupan, karenanya manusia tidak membutuhkan sesuatu selain sains untuk dapat hidup dan membina kehidupan. Oleh karena itu, Paradigma Rusydian menjadi dibutuhkan kalangan ilmuwan Muslim untuk meluruskan pemahaman mayoritas umat Islam terhadap sains modern sekaligus untuk mengimbangi pengaruh ilmuwan penganut faham Ateisme agar sains yang obyektif tidak disalahgunakan untuk kepentingan ideologi yang bertentangan dengan agama.

Metodologi Paradigma Rusydian

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana penerapan Paradigma Rusydian dalam aktivitas sains di kalangan ilmuwan Muslim? Guessoum (2014) menjelaskan dengan mengutip Ibnu Rusyd dalam karya yang sama sebagaimana dirujuk oleh Ulil Abshar Abdalla, bahwasanya Al-Qur’an memiliki makna yang berlapis-lapis. Makna tekstual atau makna umum diperuntukkan untuk kalangan awam agar dapat memahami dan mengerjakan perintah agama, sementara makna yang lebih dalam yang merupakan makna khusus Al-Qur’an membutuhkan kemampuan akal yang lebih tinggi, yang diperuntukkan bagi kalangan filosof dan ilmuwan. Di sinilah Guessoum (2014) menempatkan capaian sains modern yang telah mapan untuk membuka makna ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an agar berkesesuaian dengan sains modern. Untuk itu ayat-ayat Al-Qur’an harus senantiasa terbuka agar dapat diinterpretasikan secara terus menerus seiring capaian sains pada setiap zaman, tidak terkecuali pada zaman kontemporer.

Guessoum (2014, 2020) tidak saja menawarkan model penafsiran metaforik agar ayat-ayat Al-Qur’an sejalan dengan temuan sains modern, tetapi juga pembacaan hermeneutika sebagaimana ditawarkan oleh Muhammad Syahrur yang oleh Guessoum disebut sebagai Martin Luther-nya Islam dan Immanuel Kant-nya Dunia Arab karena merumuskan pendekatan baru yang revolusioner dalam memahami Al-Qur’an. Dengen pembacaan inilah, menurut Guessoum, agama dapat sejalan dengan sains modern, sekaligus agama dapat terus berkembang dengan meluaskan tafsirnya agar senantiasa selaras dengan capaian sains modern.

Sementara itu, agama berperan memberikan tujuan dalam kegiatan sains. Inilah keyakinan Guessoum (2014) bahwasanya alam semesta memiliki tujuan dalam penciptaannya, sehingga sains dan aktivitas sains pun sudah seharusnya memiliki tujuan. Bagi Guessoum (2014) yang merupakan seorang ilmuwan Muslim, tujuan sains tidak lain adalah mengungkap keteraturan dan ketepatan desain alam yang sangat rinci (fine tuning) sebagai tanda keberadaan Tuhan dan ke-Maha-an Tuhan sebagai Dzat Pencipta. Namun demikian, Guessoum (2020) menggarisbawahi, kerja sains ialah selangkah demi selangkah mencapai kebenaran, sehingga upaya sains untuk menjelaskan alam lebih tepat dikatakan sebagai upaya untuk memahami Sunnatullah, yakni hukum alam yang telah Allah tetapkan terhadap alam. Oleh karena itu apa yang termuat dalam capaian sains bukanlah Sunnatullah itu sendiri, tetapi hanya sebatas pemahaman manusia untuk mendekatinya. Dengan cara pandang demikian Guessoum hendak menghindarkan terjadinya pertentangan antara agama dan sains jika suatu saat temuan sains tidak mampu difalsifikasi maupun gugur dalam tahap falsifikasi untuk digantikan dengan temuan yang lebih baik. 

Menyambung pandangan Guessoum di atas, selain sebagai pemberi tujuan, agama juga menyediakan perangkat cara pandang untuk menginterpretasikan capaian sains modern. Dengan ini sains modern yang obyektif dan universal akan dapat diterima oleh seluruh umat beragama karena relevan dengan iman yang dianutnya. Bagi umat Islam, agama sebagai perangkat cara pandang dapat digunakan untuk menanamkan dimensi spiritualitas pada capaian sains modern, seperti teori penciptaan Bigbang dalam bidang astrofisika maupun evolusi dalam bidang biologi terkait dengan penciptaan manusia yang tidak dapat dilepaskan dari kehendak Tuhan sebagai Pencipta dan Pengatur alam. Perlu dicatat, agama sebagai perangkat cara pandang untuk memberi dimensi spiritualitas pada capaian sains modern beriringan dengan interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga kedua mekanisme ini berjalan beriringan agar agama dan sains modern dapat selaras. 

Bagi Guessoum (2014, 2020), tujuan dan perangkat cara pandang merupakan sisi subyektif seorang ilmuwan yang mempengaruhi aktivitas sains dan temuan sains yang dicapainya. Namun, Guessoum (2014) menegaskan, tujuan maupun perangkat cara pandang yang bersumberkan dari agama berada di luar struktur sains, sehingga bukanlah penentu validitas capaian sains. Hal ini berarti, digunakannya sains untuk tujuan yang salah, seperti dijadikan landasan pembuatan teknologi bom atom, bukanlah dikarenakan secara inheren sains buruk dan salah, tetapi dikarenakan aspek subyektif dari penggunanya, sementara sains itu sendiri tetapkan obyektif dan universal. Begitupula temuan sains tidak bergantung pada agama untuk menyatakanya sebagai temuan yang sah dikarenakan sains memiliki mekanisme internalnya sendiri untuk menjamin validitasnya, yakni metode ilmiah dan peer-review yang merupakan bagian penting dari sains modern.

Sebagai penutup, relasi antara agama dan sains modern yang oleh Guessoum disebutnya sebagai Paradigma Rusydian, sebagaimana penjelasan di atas, dapat ditampilkan dalam diagram di bawah ini:


Referensi: 
Abdalla. Ulil Abshar, 2020, Jangan Pertentangkan Agama dan Sains, www.mojok.co, diakses pada 3 Mei 2020. 
Guessoum. Nidhal, 2014, Islam dan Sains Modern (terj), Bandung: Penerbit Mizan. 
Guessoum. Nidhal, 2020, Memahami Sains Modern: Bimbingan Untuk Kaum Muda Muslim (terj), Jakarta: Qaf Media Kreativa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar