Sabtu, 13 Juni 2020

Spiritualitas Dalam Arsitektur Islam

Rajutan Arsitektur Islam

Prof. Ali A. Allawi dalam bukunya berjudul The Crisis of Islamic Civilization yang telah diterjemah dalam Bahasa Indonesia dengan judul Krisis Peradaban Islam menganalogikan Peradaban Islam bagaikan rajutan yang terdiri dari sisi dalam dan sisi luar. Sisi dalam yang dimaksud oleh Ali A. Allawi (2005: 14, 21-22) adalah keyakinan, gagasan, dan tata nilai Islam yang membentuk dunia batiniyah Islam, yakni merujuk pada kesadaran moral dan kesadaran spiritual umat Islam. Sementara itu sisi luar Peradaban Islam diidentifikasi Ali A. Allawi (2005: 14, 21-22) meliputi lembaga, hukum, pemerintahan, dan budaya yang membentuk dunia lahiriyah Islam berupa aksi sosial, politik, hingga perwujudan ruang kehidupan umat Islam yang berdimensi fisik.

Dari pandangan di atas yang mengandaikan Peradaban Islam bagaikan sebuah rajutan yang tidak terpisahkan antara sisi dalam dan sisi luarnya, dapat ditarik dua pemahaman. Pertama, sisi dalam Peradaban Islam memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada sisi luarnya dikarenakan sisi dalam merupakan sumber sekaligus landasan dalam penciptaan sisi luar Peradaban Islam. Dengan kata lain tanpa sisi dalamnya, maka sisi luar Peradaban Islam tidak akan wujud. Dan suatu perwujudan sisi luar tidak dapat dinyatakan sebagai Peradaban Islam jika tidak bersumberkan atau dilandasi sisi dalam Peradaban Islam. Kedua, sisi dalam berperan sebagai kekuatan untuk membentuk dan mewarnai sisi luar Peradaban Islam. Dengan penalaran ini, semakin kuat sisi dalam, maka akan semakin kuat membentuk dan mewarnai sisi luar Peradaban Islam. Begitu pula sebaliknya, jika sisi dalam tidak memiliki kekuatan, maka tidak dapat berperan untuk membentuk dan mewarnai sisi luar Peradaban Islam. Kondisi ini disebut oleh Ali A. Allawi (2005: 21-22) sebagai suatu keadaan robeknya rajutan sisi dalam dan sisi luar Peradaban Islam, di mana sisi dalam tidak memiliki kekuatan untuk mempengaruhi bentukan sisi luarnya.