Kamis, 20 Agustus 2020

Mencari Masjid Pada Masa PJJ

 
Gambar di atas tersebar luas di media sosial sebagai ajakan kepada pihak takmir memasang perangkat Wifi di masjid untuk memudahkan anak-anak yang bermukim di sekitar masjid melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama masa pandemi. Saya amati di beranda Facebook, sebagian pertemanan yang membagikan gambar tadi menunjukkan sikap setuju dengan menuliskan status ajakan agar pihak takmir merealisasikan gagasan tersebut, sedangkan sebagian yang lain menunjukkan kekhawatiran dengan dipasangnya perangkat WiFi di masjid justru akan menyebabkan kalangan pemuda menyalahgunakannya untuk bermain game online, sehingga melalaikan dari aktivitas peribadatan di masjid.

Saya memiliki posisi yang berbeda di antara kedua sikap tadi, yakni tidak begitu saja menyetujuinya dan tidak perlu merasa khawatir jika saja pemasangan Wifi di masjid bukan hanya difahami secara teknis-instrumental sebatas instalasi perangkat, tetapi juga difahami dalam perspektif sosial dan kultural keagamaan. Sebelum membahas persoalan ini, tulisan ini akan terlebih dahulu mengupas peran masjid dalam bidang pendidikan dan akar asal muasalnya, yang ironisnya dari masa ke masa semakin menyempit sebatas pada pengajaran baca dan tulis Al-Qur’an bagi anak usia dini, sedangkan pendidikan selainnya telah diserahkan kepada institusi pendidikan formal sesuai jenjang pendidikan yang telah diatur oleh penyelenggara negara.

Penyempitan peran pendidikan tersebut menjadikan masjid tidak banyak memiliki andil dalam pembentukan intelektualitas jama’ahnya, terlebih dikaitkan dengan keimanan dan aktualisasinya dalam keberIslaman sehari-hari. Termasuk dampak dari penyempitan peran tersebut ialah kegagapan masjid dalam menghadapi permasalahan PJJ. Dalam konteks inilah ajakan di media sosial untuk memasang perangkat Wifi dapat difahami sebagai kegelisahan berbalut harapan umat Islam untuk mencari masjid yang mampu berperan menuntaskan permasalahan dan pemenuhan kebutuhan yang terbilang mendesak untuk ditangani. Pertanyaannya lalu, di manakah masjid tersebut berada? Sudahkan ditemukan?

Masjid Sebagai Rahim Pendidikan

Peran utama Masjid Nabawi yang merupakan cita ideal masjid pada masa awal pembinaannya oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersama para Sahabat ialah fungsi pendidikan, selain fungsi peribadatan maghdah, terutama penyelenggaraan shalat berjama’ah. Dalam kesejarahannya, tercatat ruang Shuffah yang berada di area belakang area masjid diperuntukkan oleh Rasulullah Muhammad untuk tempat bermukim sementara bagi kalangan Sahabat yang turut hijrah ke Madinah dan tidak memiliki kemampuan memiliki hunian, sekaligus sebagai ruang yang seringkali digunakan oleh beliau Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menyampaikan dan menjelaskan Wahyu dari Allah kepada umat Islam.

Praktik pendidikan di ruang Shuffah Masjid Nabawi yang telah berlangsung sejak masa generasi pertama umat Islam menandakan bahwa masjid merupakan rahim bagi tradisi pendidikan Islam yang diselenggarakan secara komunal karena melibatkan jama’ah dan penyelenggaraannya melibatkan sosok pemilik otoritas dengan materi kajian yang bermuatan keimanan. Dari tinjauan sejarahnya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Masjid Nabawi merupakan ruang pendidikan pertama yang dimiliki umat Islam sebagai kesatuan sosial.

Kerekatan antara fungsi utama masjid sebagai ruang peribadatan maghdah dengan fungsi pendidikan dapat dijelaskan secara konseptual-filosofis hingga dimensi antropologis. Menilik jejak antropologisnya, fakta sejarah sejak masa awal pembinaan masjid hingga hari ini dalam kadar tertentu menunjukkan bukti bahwasanya praktik kegiatan pendidikan dan peribadatan shalat merupakan rangkaian kegiatan yang telah hitungan puluhan abad dilakukan umat Islam di ruang masjid, sehingga telah membudaya karena telah lekat dalam kehidupan keseharian umat Islam. Sementara itu dalam ranah filosofis yang abstrak, kegiatan pendidikan yang berorientasi pada capaian ilmu, dalam perspektif Islam menempati kedudukan yang sangat penting sebagai seluruh landasan bagi amal shalih, tidak terkecuali untuk dapat dilaksanakannya peribadatan maghdah dengan benar. Sehingga pendidikan merupakan kegiatan yang mendesak untuk diselenggarakan di masjid yang oleh Sidi Gazalba dinyatakan sebagai pusat komunitas umat Islam, dan oleh Kuntowijoyo disebut sebagai pusat kehidupan umat Islam. Sebab tanpa ilmu sebagai buah dari proses pendidikan, umat Islam tidak akan mampu beribadah kepada Allah dan melaksanakan perannya sebagai wakil Allah. Dengan demikian, meminjam pemaknaan masjid oleh Sidi Gazalba, pada hakikatnya aktivitas pendidikan merupakan perwujudan sujud batin seorang hamba kepada Allah yang terikat erat dengan aktivitas sujud lahir sebagai simbolisasi dari peribadatan maghdah. Keduanya sebagai aktivitas sujud sejak awal mula sejarah umat Islam tidak dapat dipisahkan dari masjid sebagai tempat sujud.
 

Tradisi pendidikan Islam di masjid Bayt Al-Hikma di Niger

Memang berjalannya sejarah turut membawa perubahan. Kegiatan pendidikan di masjid perlahan memisahkan diri dari rahim yang melahirkan dan membesarkannya, karena kodifikasi ilmu yang beriringan dengan meningkatnya kompleksitas proses pendidikan menjadikan ruang masjid tidak lagi mampu mewadahi seluruh rangkaian kegiatannya. Untuk kebutuhan penyelenggaraan pendidikan, ruang Shuffah berkembang menjadi madrasah dengan masjid sebagai pusat dalam tata spasialnya yang luas maupun terintegrasi secara spasial dengan masjid yang bersebelahan posisi dengannya. Perjalanan sejarah ini dapat dimaknai, perkembangan pendidikan ternyata membawa pada penyempitan, bahkan penghilangan peran pendidikan masjid yang telah berdiri secara otonom sebagai institusi tersendiri. Walaupun tetap saja bagi seorang Muslim antara masjid dan pendidikan tidak dapat dipisahkan secara konseptual maupun dalam aktivitas keseharian. Keterpisahan keduanya yang tidak terjembatani secara konseptual maupun spasial mulai terjadi pada era modern dengan faham Sekularisme yang memisahkan ilmu pengetahuan dari bias keyakinan agama. Oleh faham ini, masjid yang berorientasi akhirat dipisahkan dari pendidikan yang dinilai merupakan aktivitas sekular karena berorientasi keduniaan.

Keterpisahan antara anak dan ibu sudah pasti menyebabkan berbagai dampak buruk yang tidak dapat dihindari. Masjid sebagai ibu yang ditinggalkan, bahkan dipisahkan dengan paksa dari anaknya menjadi tidak berdaya untuk mengarungi zaman yang terus bergerak maju ke depan. Indikasinya dapat dilihat dengan terang pada masa pandemi Covid-19 di mana masjid, terutama dalam skala permukiman, tidak mampu berperan dalam PJJ. Masjid menjadi beku setelah kegiatan shalat berjama’ah dan pengajian rutin ditangguhnya untuk beberapa waktu. Tidak salah memang jika dikatakan masjid lebih banyak diam dalam kesendiriannya pada masa pandemi di saat masyarakat sekitar justru membutuhkan peran dan keterlibatannya. Hanya saja perkataan tersebut terasa menyakitkan bagi kita sebagai umat Islam, sampai-sampai kita menolak untuk menggucapkan apalagi membenarkan.

Menyambung Tradisi di Masjid

Melihat kesejarahan praktik pendidikan Islam yang lahir dari masjid dan keterikatan konspetual yang erat antara pendidikan dan masjid, menjadi ironis jika masjid pada masa kini hanya mampu sebatas memasang perangkat WiFi untuk merealisasikan perannya di bidang pendidikan. Namun demikian, memperhatikan kondisi masjid-masjid kaum Muslim dari aspek peran dan fungsionalitasnya dalam menghadapi tantangan modernitas yang hingga kini belum mampu diselesaikan, pendekatan instrumentalistik dengan pemasangan perangkat WiFi sebagai upaya memudahkan masyarakat di sekitar masjid untuk melangsungkan PJJ, bagaimana pun harus diapresiasi. Walaupun solusi tersebut dapat dibilang merupakan skenario terburuk jika ditinjau dari kedudukan masjid dalam kehidupan umat Islam, ternyata tidak selalu menjadi solusi yang mudah direalisasikan karena tidak semua masjid memiliki kemampuan finansial yang mapan untuk memasang perangkat dan keberlanjutan operasionalnya. Ini menambah persoalan masjid untuk mampu berperan dalam penyelenggaraan PJJ.

Berpijak pada tradisi pendidikan Islam yang sejak awal bermula di masjid, idealnya peran masjid dalam penyelenggaraan PJJ sepanjang masa pandemi harus diselenggarakan dengan semangat komunalitas dan pengakuan terhadap otoritas. Komunalitas bermakna inklusivitas, yakni penyelenggaraan pendidikan yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat dengan tingkat perekonomian yang beragam. Sementara pengakuan terhadap otoritas bermakna penyelenggaraan pendidikan berada di bawah pengajaran, pendampingan, dan pengawasan oleh kalangan ahli ilmu yang dalam khazanah intelektual Islam disebut dengan ulama atau ulul-albab.

PJJ yang mensyaratkan dimilikinya gawai dengan spesifikasi tertentu dan dimilikinya akses internet untuk dapat melangsungkan proses pendidikan, pada kenyataannya tidak dapat dipenuhi oleh seluruh peserta didik yang berasal keluarga dengan tingkat ekonomi bawah. Gagasan dan dorongan untuk pihak pengelola masjid memasang perangkat WiFi, maupun program penggalangan dana yang diselenggarakan oleh Masjid Salman ITB untuk memenuhi kebutuhan gawai peserta didik dari kalangan ekonomi tidak mampu merupakan ikhtiyar untuk memenuhi prinsip komunalitas agar pendidikan dapat diakses masyarakat luas. Lalu bagaimana dengan prinsip otoritas? Di sinilah letak permasalahan yang hendak saya ulas dalam tulisan ini.

Penyelenggaraan PJJ di mana peserta didik didampingi oleh orangtua ternyata juga mengalami berbagai hambatan. Salah satunya ialah ketidakmampuan sampai ketidaksabaran orangtua untuk menemani anak menjalani PJJ dalam jangka waktu yang terbilang panjang dalam hitungan bulan. Fenomena ini menunjukkan pihak orangtua yang tidak memiliki otoritas sebagai pengganti guru di rumah bagi anak-anaknya. Jika ditelisik, ketiadaan otoritas pula yang menyebabkan munculnya kekhawatiran sekalangan umat Islam dengan dipasangnya perangkat WiFi di masjid karena tanpa pendampingan dan pengawasan berpotensi untuk disalahgunakan oleh anak-anak.

Pemenuhan prinsip otoritas dapat diupayakan dengan melibatkan Remaja Masjid (Remas) untuk mendampingi anak-anak yang memanfaatkan Wifi di masjid selama menjalani PJJ. Dengan demikian, yang tingkat pendidikannya lebih tinggi diberi amanah untuk mendampingi yang pendidikannya lebih rendah; tingkat universitas mendampingi tingkat SMA, tingkat SMA mendampingi tingkat SMP, tingkat SMP mendampingi tingkat SD. Khusus untuk pendampingan peserta didik di tingkat TK dapat melibatkan para guru/ustadzah yang selama ini terlibat dalam pengajaran di Taman Pendidikan Al-Qur’an di masjid setempat. Namun di sini pula letak permasalahan lainnya berkaitan kaderisasi jama’ah yang di banyak masjid tidak berjalan baik ditandai dengan tidak terbentuknya komunitas Remaja Masjid. Sehingga keterlibatan Remas sebagai pendamping dan pengawas penyelenggaraan PJJ di masjid menjadi tidak mungkin dilakukan.

Permasalahan absennya Remaja Masjid dapat diatasi dengan jejaring masjid, terutama antara masjid permukiman atau masjid kaum dengan masjid kampus yang merupakan basis kalangan intelektual Muslim di lingkungan perguruan tinggi. Pihak pengelola masjid permukiman dapat meminta bantuan kepada pihak pengelola masjid kampus, maupun sebaliknya, masjid kampus memiliki inisiatif untuk menyelenggarakan program pendampingan PJJ di masjid-masjid permukiman dengan mengerahkan jama’ah masjid kampus. Di lingkup perguruan tinggi Islam, program serupa dapat dilakukan lebih masif dengan menyesuaikan mata kuliah yang memungkinkan dilakukannya pengerahan mahasiswa untuk mendampingi PJJ di masjid permukiman, semisal mata kuliah magang, kuliah kerja nyata, maupun menggunakan mekanisme kampus merdeka yang digagas oleh pemerintah.

Gagasan di atas untuk memenuhi prinsip komunalitas dan otoritas memiliki dua kata kunci, yakni (1) masjid permukiman sebagai simbol dari masyarakat; dan (2) masjid kampus sebagai simbol dari intelektual Muslim. Pertama, penyelenggaraan PJJ dilakukan dalam lingkup permukiman yang diselenggarakan di masjid permukiman, tidak dalam lingkup perkotaan dengan keberadaan masjid jami’, dimaksudkan untuk kemudahan mematuhi protokol kesehatan selama pandemi Covid-19. Jumlah keterlibatan pengguna ruang saat penyelenggaraan PJJ di masjid permukiman, karena hanya diperuntukkan bagi warga permukiman, akan jauh lebih rendah dibandingkan masjid jami’, sehingga physical distancing lebih memungkinkan untuk diterapkan. Kedua, keterlibatan jama’ah masjid kampus atau civitas akademika perguruan tinggi untuk mendampingi penyelenggaraan PJJ di masjid permukiman merupakan panggilan bagi kalangan berilmu untuk mengamalkan ilmunya. Masa pandemi Covid-19 merupakan masa krisis yang menimpa masyarakat luas, sehingga sudah seharusnya ditetapkan sebagai masa pengamalan ilmu.

Dengan terpenuhinya prinsip komunalitas dan otoritas yang didukung perangkat pembelajaran daring yang mumpuni, maka masjid dapat berperan dalam bidang pendidikan sepanjang masa pandemi, sehingga selesai sudah pencarian umat Islam. Dari perspektif masjid, dua prinsip penyelenggaraan pendidikan Islam di masjid yang berdimensi sosial dan kultural keagamaan akan menyambung kembali tali pusarnya tradisi pendidikan Islam dengan rahim kelahirannya. Inilah yang dibutuhkan agar masjid mampu mengarungi kemelut zaman ke depan, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan yang sedang mengalami perubahan yang tak terhindarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar