Sabtu, 31 Oktober 2020

Ruang Maya Sebagai Perluasan Ruang Fisik

Versi pdf tulisan ini dapat diunduh di sini.

Disintegrasi Spasial 

Segala dampak negatif dari teknologi informasi yang membentuk ruang maya atau ruang virtual berawal dari disintegrasi antara ruang maya yang dapat kita asosiasikan dengan media sosial dengan ruang fisik sebagai ruang kehidupan konkret yang sehari-hari kita hidup dan membina kehidupan di dalamnya. Mark Slouka; seorang ahli kajian budaya dari Universitas California, pada tahun 1995 dalam bukunya yang fenomenal berjudul War of the World: Cyberspace and the High-Tech Assault on Reality[1] telah mengulas masalah keterputusan ruang ini. Dari analisa yang dilakukan Slouka kita mendapati kesimpulan yang penting bahwasanya terdapat jarak psikologis antara avatar yang merupakan representasi seseorang di ruang maya dengan kepribadian orang tersebut di ruang fisik. Dalam kajian yang dilakukannya di Amerika Serikat, Slouka menemukan kecenderungan seorang pria di ruang fisik memiliki avatar seorang wanita dan seorang wanita yang telah berumur memiliki avatar seorang wanita berusia remaja. 

Beragam kasus yang menunjukkan jarak psikologis antara avatar dengan diri pemilik akun akibat disintegrasi antara ruang maya dengan ruang fisik saya dapati pula di media sosial. Salah satu kasus tersebut ialah seseorang yang gemar berdebat di media sosial dengan bahasa yang kasar dan intonasi yang keras, sebenarnya dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan santun dalam kehidupan sehari-harinya di ruang fisik. Atau dalam kasus lain seseorang yang di dalam ruang fisik dikenal sebagai pribadi yang taat beragama, tetapi di ruang maya seringkali menulis status dengan nada cacian maupun dengan konten fitnah, begitupula sebaliknya seseorang yang dalam kehidupan sehari-harinya jauh dari sosok pribadi yang alim tetapi di ruang maya menampilkan avatar selayaknya seorang ahli ilmu. Ragam kasus demikian yang pernah saya dapati memiliki ciri yang sama, yakni seseorang memiliki avatar dengan identitas dirinya yang sebenarnya, seperti nama, jenis kelamin, afiliasi, sehingga dapat kita katakan avatar tersebut merupakan akun asli, tetapi terdapat jarak, baik jarak psikologis maupun sosiologis antara pemilik akun di ruang fisik dengan avatar yang dimilikinya di ruang maya. 

Selain kasus di atas, seingat saya sejak Pilpres tahun 2014 merebak di ruang maya persoalan avatar palsu yang sama sekali tidak merepresentasikan diri pemiliknya dengan menampilkan nama samaran maupun foto diri palsu. Motif pembuatan avatar palsu sejauh dapat saya telusuri tidak jauh dari kepentingan politik salah satu calon presiden dengan cara membentuk dan memanipulasi opini publik di ruang maya yang hari ini kita mengenalnya dengan istilah buzzer, atau untuk melakukan perdebatan dengan topik yang sensitif. Yang terakhir ini saya dapati dari kalangan umat Islam yang memiliki avatar palsu untuk mendebat kalangan pengusung faham Feminisme, Liberalisme, dan Pluralisme di media sosial sebagai upaya menjamin keamanan dirinya di ruang fisik. Dengan kata lain, disintegrasi spasial antara ruang maya dan ruang fisik sengaja dilakukan, sementara pada kasus-kasus di paragraf sebelumnya bisa jadi disintegrasi spasial dilakukan secara tidak sadar oleh pemilik avatar. 

Mark Slouka dalam bukunya yang sama, begitupula Sherry Turkle; seorang ahli kajian sosial ilmu pengetahuan dan teknologi dari MIT, dalam bukunya berjudul Alone Together[2] berupaya melacak akar penyebab terjadinya fenomena disintegrasi antara ruang maya dan ruang fisik. Keduanya sampai pada kesimpulan yang sama, walaupun dengan pendekatan analisa yang berbeda karena Slouka berangkat dari kajian sosiologi sedangkan Turkle dari perspektif psikologi, bahwa fenomena tersebut dilatarbelakangi rasa kecewa pada kehidupan yang dialami seseorang di ruang fisik. Berbagai keterbatasan maupun tekanan hidup di ruang fisik, seperti ekonomi, pendidikan, sosial, dan kultural, diatasi dengan membentuk citra diri yang berbeda di ruang maya, sehingga disintegrasi spasial didasari motif mencari ruang pelarian diri. Singkatnya ruang maya menjadi ruang. pelarian diri, sementara di ruang fisik senantiasa seseorang merasakan kesendirian yang akut walaupun berada di tengah keramaian yang oleh Turkle disebutnya dengan fenomena alone together. Contoh mudahnya begini, seseorang yang mendapati konten yang tidak disukainya, seperti pencitraan salah satu calon presiden, menahan diri untuk tidak menyampaikan pandangannya yang negatif terhadap sosok tersebut di ruang fisik dikarenakan kondisi sosiologis maupun kultural yang tidak memungkinkan. Kondisi demikian mendorong dirinya melarikan diri ke ruang maya untuk meluapkan kekecewaan dengan berkomentar negatif terkait konten tadi di berbagai status orang lain yang tidak dikenalnya. 

Slouka tidak memberi solusi terhadap fenomena disintegrasi spasial antara ruang fisik dan ruang maya. Dalam bukunya, Slouka hanya menegaskan bahwasanya komunikasi tatap muka dan ikatan sosial di ruang fisik jauh lebih bermakna dibandingkan yang terjadi di ruang maya, tetapi di sisi lain Slouka bernada distopia dalam prediksinya bahwa fenomena ini akan terus berlanjut bahkan akan semakin buruk dengan disintegrasi total antara ruang maya dan ruang fisik ditandai dengan semakin menyempitnya ruang fisik akibat tidak lagi dibutuhkan oleh manusia untuk hidup dan membina kehidupan karena seluruh aspek kehidupan telah beralih ke dalam ruang maya. Pada masa pandemi ini kita memahami prediksi Slouka dengan beralihnya proses belajar mengajar secara penuh ke dalam ruang maya, sehingga keberadaan bangunan yang megah dan monumental di ruang fisik tidak lagi dibutuhkan untuk melangsungkan pendidikan. Sedangkan Turkle, berdasarkan perspektif yang digunakannya, menekankan pada aspek psikologis untuk mengatasi fenomena tersebut dengan memperkuat relasi sosial di ruang fisik sekaligus tetap menjaga keterjalinan sosial di ruang maya, tetapi patut disayangkan Turkle tidak menjabarkan solusinya hingga ranah teknis-operasional, sehingga pembaca bukunya akan mudah mengalami kebingungan dalam pertanyaan, “Bagaimana caranya menjalin relasi sosial yang baik di dalam ruang fisik dan ruang maya secara sekaligus, padahal ruang maya tak ubahnya sebagai tempat pelarian bagi tidak sedikit orang?” 

Integrasi Spasial 

Terhadap fenomena disintegrasi spasial antara ruang maya dan ruang fisik, melalui tulisan ini saya mengusulkan solusi yang menekankan pada aspek spasial, yakni ruang maya sebagai perluasan dari ruang fisik. Penekanan pada aspek spasial tidak dapat dilepaskan dari bias subyektif latarbelakang keilmuan yang saya geluti, yakni arsitektur. Oleh karenanya solusi yang akan saya sampaikan dalam tulisan ini menggunakan analogi dan istilah dari bidang keilmuan tersebut semata untuk memudahkan saya dalam menyampaikan gagasan dan argumentasi. 

Asumsi pertama yang mendasari gagasan ruang maya sebagai perluasan dari ruang fisik adalah avatar yang dimiliki seseorang merupakan rumah baginya di ruang maya, sebagaimana rumah yang dimiliki dan ditinggali olehnya di ruang fisik. Dengan analogi ini, integrasi spasial yang saya maksud ialah keterhubungan antara rumah di ruang fisik dengan rumah di ruang maya. Pernyataan ini bermakna dua hal. Pertama, pada masa kini akses ke ruang maya dalam jangka waktu panjang dominan dilakukan ketika seseorang sedang berada di rumah. Keterhubungan seseorang dalam jejaring global melalui ruang maya dari ruang rumahnya masing-masing merupakan prediksi pada masa awal diperkenalkannya komputer dan internet di mana pada masa depan manusia dapat melakukan aktivitas bekerja, belajar, dan lain sebagainya tanpa perlu meninggalkan rumah. Hampir seluruh aktivitas di luar rumah dapat dilangsungkan dari dalam rumah melalui keberadaan ruang maya yang pada hari ini kita menyebutnya dengan istilah mobile office, online university, online shop, dan sebagainya. Mark Slouka memberi istilah pada fenomena ini dengan gejala back to house. Sedangkan menurut Marshall McLuhan; seorang ahli komunikasi dari Kanada, keterhubungan global ini disebutnya dengan istilah global village yang menggambarkan tidak ada lagi tempat di berbagai penjuru dunia yang tidak terhubung dengan ruang maya, bahkan desa sekalipun yang dipersepsikan merupakan ruang kehidupan yang sederhana. 

Kedua, seseorang dapat mengakses rumah yang menjadi miliknya di ruang maya berbekal teknologi yang pada masa kini telah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi hampir seluruh manusia; komputer maupun smartphone dengan koneksi internet, kapan pun dan dari mana pun untuk mengekspresikan diri, berkomunikasi, dan menjalin relasi sosial. Kita dapat menamakan gejala ini dengan istilah mobile house. 

Asumsi kedua sebagai konsekuensi dari yang pertama ialah seluruh pihak yang terlibat di dalam ruang maya harus memandang suatu avatar sebagai layaknya rumah seseorang di dunia fisik. Dari dua asumsi yang mendasari gagasan ruang maya sebagai perluasan ruang fisik dapat diderivasi etika berkegiatan di ruang maya berlandaskan pada etika berkehidupan di ruang fisik yang saya simpulkan ke dalam 5 poin di bawah ini. 

Pertama, avatar yang dimiliki seseorang pada dasarnya merupakan rumah yang bersifat privat bagi dirinya. Sedangkan avatar yang dimiliki oleh tokoh masyarakat dan seringkalinya dikelola oleh tim informasi yang dipekerjakan dengan tujuan untuk berkomunikasi secara terbuka dengan masyarakat luas, maupun avatar yang dimiliki seseorang untuk kepentingan ekonomi, maka bersifat semi-publik layaknya fasilitas umum terbatas yang membutuhkan undangan atau izin untuk memasukinya seperti perkantoran, hingga bersifat publik yang dapat diakses dengan bebas oleh siapa pun layaknya taman kota. Dalam tulisan ini saya akan fokus pada avatar sebagai rumah pribadi di ruang maya yang bersifat privat, sementara dua lainnya akan saya singgung secara sekilas dikaitkan dengan yang pertama. 

Kedua, sebagai rumah miliknya, seseorang dapat memposting dan menyebarluaskan konten secara luas sesuai preferensinya dengan mensetting publik pada konten yang dibagikannya. Pun pemilik avatar memiliki hak sepenuhnya untuk membatasi keterjangkauan publik terkait konten yang dibagikannya hanya kepada kalangan pertemanan maupun teman dari pertemanannya, sebagaimana pada sekali waktu ia membuka pintu rumahnya untuk orang asing dan pada waktu yang lain hanya menghendaki rumahnya dikunjungi oleh kerabat dan kawan dekat. 

Ketiga, orang lain pada dasarnya merupakan orang asing yang tidak memiliki hak apa pun terhadap rumah pribadi seseorang. Dalam konteks kegiatan di ruang maya, seseorang yang tidak menjadi bagian dari pertemanan suatu avatar, maka tidak memiliki hak untuk meninggalkan komentar pada konten yang dibagikan pemilik rumah. Seringkali keributan di ruang maya terjadi karena pihak yang tidak menjadi bagian pertemanan turut menanggapi konten yang dibagikan pemilik avatar dengan muatan yang negatif diiringi penggunaan kata kasar bernada makian. Ditinjau dari poin ketiga ini, maka pihak pemberi komentar tersebut dinyatakan bersalah karena sebagai orang asing tidak memiliki hak untuk memasuki rumah seseorang tanpa izin. Persetujuan atau izin untuk memasuki rumah seseorang di ruang maya dapat dilihat dari dua sisi, yakni (1) menjalin pertemanan sehingga ia memiliki hak untuk menanggapi konten yang dibagikan pemilik avatar; dan (2) bagi pihak pemilik rumah dengan menerima permintaan pertemanan dari orang asing maka ia telah memberi izin kepada pihak tersebut untuk berkomunikasi dengannya melalui jalur pribadi, kolom komentar, maupun membagikan konten yang ditampilkan. 

Keempat, pemilik avatar memiliki otoritas penuh terhadap rumah yang merupakan ruang privat baginya. Otoritas ini dalam kehidupan di ruang fisik dapat dilihat dari penolakan bahkan pengusiran pihak asing yang berkunjung ke rumahnya jika dinilai akan atau telah melakukan perbuatan yang tidak berkenan bagi pemilik. Begitu pula di ruang maya, pemilik avatar memiliki otoritas penuh untuk menghapus komentar pihak asing pada konten yang dibagikannya jika tidak berkenan terhadap komentar tersebut maupun membatalkan pertemanan dengan avatar lain (unfriend) atau memblokir seseorang sebagai mekanisme memindahkan posisi seseorang dari pertemanan menjadi pihak asing, sehingga tidak lagi memiliki hak untuk terlibat dalam komunikasi dengan pemilik rumah tanpa izin. Hak otoritas inilah yang seringkali saya tegaskan dan gunakan dalam berkegiatan di ruang maya dengan menghapus komentar pihak asing pada konten yang saya bagikan. Bukan karena saya tidak berkenan atau tidak setuju terhadap komentarnya, tetapi saya tidak berkenan terhadap posisinya sebagai pihak asing yang memasuki rumah saya tanpa salam dan perkenalan layaknya ketika bertamu ke rumah saya di ruang fisik. 

Kelima, ruang maya sebagai ruang kehidupan yang merupakan perluasan ruang fisik bukanlah ruang tanpa kontrol sosial dan tanpa hukum. Merujuk pada poin ini, setiap pengguna ruang maya terikat dengan peraturan yang membatasi kebebasan untuk menyebarluaskan segala konten, di antaranya ialah pelarangan terhadap konten yang bermuatan ujaran kebencian, penghinaan, fitnah, dan berita palsu dikarenakan merugikan pihak lain yang dampaknya berpengaruh terhadap kehidupan seseorang di ruang fisik. Oleh karena itu pihak lain yang tidak berkenan terhadap konten salah satu pengguna ruang maya memiliki hak untuk melaporkannya kepada pihak pengelola media sosial untuk dilakukan penghapusan konten hingga pemblokiran avatar dan kepada pihak kepolisian yang dengan perangkat UU ITE dapat menjerat seseorang secara hukum akibat konten yang disebarluaskannya di ruang maya. 

Untuk memudahkan pembaca merangkai keterkaitan antara strategi, asumsi, dan derivasinya dalam ranah etika, maka solusi yang saya sampaikan dalam tulisan ini dapat disimpulkan dalam diagram berikut: 



Lima poin etika di atas menuntut setiap pengguna untuk berkegiatan secara bertanggungjawab di ruang maya sekaligus menyadari hak dan otoritasnya sebagai pemilik rumah, tak ubahnya melangsungkan kehidupan di ruang fisik. Diharapkan dengan etika ini kegaduhan yang hampir tidak pernah reda di ruang maya akibat perselisihan dan permusuhan dapat diatasi dan diminimalkan, sehingga ruang maya sebagai perluasan ruang komunikasi dapat terwujud, sebagaimana gagasan diciptanya teknologi informasi untuk menghubungkan manusia dari seluruh belahan bumi. Kita dapat menambahkan sekaligus menegaskan, dengan lima poin etika komunikasi yang dilakukan harus diupayakan dalam makna positif dan konteks yang konstruktif. 

Terakhir, dengan strategi ruang maya sebagai perluasan dari ruang fisik, kekhawatiran Slouka mengenai jarak psikologis antara avatar dengan diri pemiliknya dapat diatasi karena sebagai rumah di ruang maya yang merupakan perluasan dari rumahnya di ruang fisik, sebuah avatar sudah seharusnya mencerminkan identitas yang benar dari pemiliknya. Dengan strategi ini pula kekhawatiran lain Slouka mengenai hilangnya ruang fisik karena tidak lagi relevan dengan kebutuhan manusia dapat dicegah karena ruang maya untuk dapat dipertahankan kehadirannya dan digunakan secara konstruktif mutlak membutuhkan ruang fisik. Dan yang ketiga, permasalahan alone together yang diangkat oleh Turkle pun dapat diselesaikan karena perluasan ruang juga bermakna perluasan jaringan sosial. Dengan integrasi ruang, maka modal sosial seseorang dapat pula terintegrasi antara ruang fisik dan ruang maya melalui sikap selektif terhadap pertemanan sebagai pihak-pihak yang diizinkan untuk bertamu ke dalam rumah yang dimiliki. Semoga dengan strategi ini berikut dengan perangkat etikanya, ruang maya benar-benar dapat menjadi perluasan ruang kehidupan yang layak huni bagi seluruh manusia untuk mengekspresikan dirinya seutuhnya. 

Referensi 

[1] Slouka. Mark, 1999, Ruang Yang Hilang: Pandangan Humanis Tentang Budaya Cyberspace Yang Merisaukan (terj), Bandung: Penerbit Mizan. 

[2] Turkle. Sherry, 2012, Alone Together (versi pdf), Amerika: Basic Books.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar