Selasa, 23 Maret 2021

Fenomena Masjid Restart

Bubarnya Modal Sosial Masjid

Sejak ditemukannya kasus pertama infeksi virus Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020 di wilayah Kemang, Jakarta Selatan, dan hanya dibutuhkan waktu sebulan, tepatnya 9 April 2020 untuk menyebar ke 34 provinsi di Indonesia, sejak saat itu kegiatan umat Islam di masjid mengalami perubahan. Dalam deskripsi kasar kita mendapati kombinasi dari 4 pola yang diterapkan pihak pengelola masjid untuk menghadapi penyebaran virus Covid-19, meliputi (1) penutupan masjid untuk seluruh kegiatan, terkecuali kegiatan shalat fardhu yang hanya diperbolehkan diikuti oleh pihak pengelola masjid; (2) pembatasan akses kegiatan di masjid, terutama shalat fardhu dan shalat Jumat hanya untuk umat Islam yang bermukim di sekitar masjid; (3) penurunan intensitas kegiatan masjid hanya sebatas pelaksanaan ibadah shalat fardhu dan shalat Jumat dengan peniadaan kegiatan selainnya, seperti pendidikan di masjid dan pengajian; dan (4) pelaksanaan ibadah shalat di masjid dengan menerapkan protokol kesehatan, yakni mewaijbkan jama’ah untuk mengenakan masker, penjarakan antar shaf shalat sejauh 1 meter, pengukuran suhu tubuh jama’ah sebelum memasuki area masjid, dan memastikan setiap jama’ah mencuci tangan maupun menggunakan hand sanitizer sebelum memasuki ruang utama masjid.

Gambar (atas-bawah): Penutupan dan penurunan intensitas kegiatan masjid pada awal pandemi. Masjid Istiqlal, Masjid Raya Bandung, Islamic Center Mataram, Masjid Agung Banten, dan Masjid Cut Meutia Jakarta.