Senin, 19 April 2021

Arsitektur Serba Islami: Sebuah Tanggapan

Serba Islami Serba Teknologi

Pada suatu sesi perkuliahan Tipologi Morfologi Arsitektur Islam yang saya ampu, seorang mahasiswa menyampaikan pengalamannya berinteraksi dengan sebuah pemahaman dalam prosesnya mempelajari Arsitektur Islam yang menyatakan bahwasanya hampir kalau tidak dikatakan seluruh capaian arsitektur modern adalah Islami karena selaras dengan nilai-nilai Islam. Di antara contoh yang dapat disampaikan terkait pemahaman tadi ialah arsitektur hijau dan arsitektur berkelanjutan yang memiliki tujuan pembangunan arsitektur yang selaras dengan alam berkesesuaian dengan peran manusia sebagai khalifah Tuhan yang merupakan status manusia dalam pandangan Islam; idiom form follow function dalam arsitektur modern yang dimaknai sebagai anti kemubadziran sebagai salah satu konsep penting dalam cara hidup Islam; dan trinitas Vitruvius mengenai unsur pembentuk arsitektur meliputi utilitas, firmitas, dan venustas yang tidak terdapat pelarangannya dalam Islam. Mahasiswa yang sama pada akhir penjelasannya menanyakan pendapat saya perihal pemahaman tersebut.

Sebelum menanggapi pertanyaan itu, saya balik bertanya kepada mahasiswa bersangkutan. Jika hampir seluruh capaian arsitektur modern dinilai dan dimaknai sebagai Islami, lalu apa atau bagian mana yang tidak Islami dari arsitektur modern? Jika Arsitektur Islam selaras dengan arsitektur modern secara keseluruhan, sehingga capaian yang terakhir dinilai sebagai bagian dari yang pertama karena tidak bertentangan dengan Islam, lalu untuk apa pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam kalau sebenarnya arsitektur modern sudah lebih dari cukup bagi kita? Saya jelaskan kepada penanya, dua pertanyaan yang saya sampaikan tersebut merupakan salah satu permasalahan pelik dalam pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam sampai saat ini, yakni mengenai diferensiasi Arsitektur Islam. Jika ternyata tidak terdapat perbedaan fundamental antara Arsitektur Islam dengan arsitektur modern maupun arsitektur lainnya, maka pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam yang telah dilakukan selama ini adalah sia-sia karena tidak perlu untuk dilakukan.

Pemahaman sebagaimana disampaikan oleh penanya di atas yang melegitimasi sebagian besar atau bahkan keseluruhan capaian arsitektur modern sebagai Islami berangkat dari pandangan teknologis terhadap arsitektur, bahwa arsitektur tidak lebih dari persoalan praktik yang berpangkal dari kemampuan arsitek dalam merancang dan membangun. Ditinjau secara epistemologis dari perspektif ilmu pengetahuan, pemahaman tadi memiliki lingkup pandangan hanya dalam ranah konsep, prinsip, dan teknologi yang bersifat aplikatif. Konsekuensi logisnya pemahaman tadi menempatkan arsitektur sebagai ilmu pengetahuan terapan semata yang menitikberatkan pada praktik rekayasa. Dengan lingkup pandangannya tadi, pemahaman demikian tidak mampu menjangkau ranah ilmu pengetahuan yang abstrak dan fundamental, meliputi ranah teori dan landasan filosofis. Dengan kata lain tidak mampu melihat keseluruhan bangunan ilmu pengetahuan arsitektur. Di sinilah letak kesalahan paham yang ditanyakan oleh mahasiswa bersangkutan kepada saya.

Dengan hanya melihat arsitektur dalam ranah aplikatif, pemahaman tadi dalam menilai capaian arsitektur modern sebagai Islami hanya berdasarkan penjelasan yang bersifat deskriptif sebagaimana termuat dalam pertanyaan “Seperti apa?” dan “Bagaimana?”, tanpa melibatkan pertanyaan “Mengapa” yang hanya dapat dijawab dengan merujuk pada ranah teoritis maupun landasan filosofis dari bangunan ilmu pengetahuan arsitektur modern yang hendak dinilai. Sehingga penilaian terhadap bagian arsitektur modern yang bersifat aplikatif hanya melibatkan dimensi fisik dari arsitektur modern, tanpa melibatkan dimensi nonfisiknya yang bersifat abstrak dan filosofis.

Ranah aplikatif arsitektur memiliki jarak yang dekat dari realitas empirik, yang menjadikannya semakin bersifat universal dikarenakan muatan nilainya yang lebih rendah dibandingkan ranah teori maupun landasan filosofis. Tetapi tidak berarti ranah aplikatif sama sekali tidak bermuatan nilai atau bebas nilai karena sebagai bagian dari struktur bangunan ilmu pengetahuan, ranah aplikatif terikat dengan ranah teori dan landasan filosofis sebagai penjelas, pemberi makna, dan pemberi muatan nilai. Dengan begitu penilaian Islami yang memisahkan ranah aplikatif arsitektur modern dari ranah teoritis dan landasan filosofis adalah tidak tepat, tetapi memang mudah untuk dilakukan karena hanya mendasarkan penilaian pada unsur fisik dan penjelasan deskriptif yang hampir bersifat universal. Contoh saja indikator yang digunakan oleh Green Building Council untuk menilai tingkat penerapan arsitektur hijau merupakan ranah konsep dan prinsip yang paling dekat dengan realitas teknologi yang bersifat empirik, sehingga secara sekilas akan terlihat keselarasannya dengan Islam untuk menyatakannya sebagai Islami, tanpa melibatkan landasan filosofis maupun teori yang menaungi prinsip tersebut dalam proses penilaian yang dilakukan. Ini poin pertama keberatan saya terhadap pemahaman tadi yang bersifat reduktif.

Lingkup pandangan sempit yang berakibat pada pemahaman terhadap arsitektur sebatas sebagai fenomena teknologi adalah poin kedua dari keberatan saya dikarenakan lagi-lagi sifatnya yang reduktif. Padahal sebagai ruang kehidupan binaan bagi manusia, arsitektur merupakan realitas kebudayaan merujuk pada status diri manusia sebagai makhluk berakal. Mereduksi arsitektur dengan pandangan teknologis, tanpa meletakkannya di dalam struktur kebudayaan manusia yang menyeluruh, merupakan sumber berbagai kesalahan dalam perancangan yang mengakibatkan berbagai dampak buruk bagi manusia maupun alam, serta sumber kesalahan terhadap pemahaman Arsitektur Islam, dan sumber kesalahan dalam penilaian capaian arsitektur modern sebagai Islami dikarenakan arsitektur hanya dinilai berdasarkan berdimensi fisik, tanpa memperhatikan keterkaitannya dengan seluruh unsur budaya modern yang notabene lahir dari rahim Peradaban Barat. Sampai di sini patut dipersoalkan, bagaimana metode penilaian yang tepat terhadap arsitektur modern yang lekat dengan Barat berdasarkan perspektif Islam? Apakah memang secara keseluruhan adalah Islami? Lalu, pemahaman seperti apa yang tepat terhadap Arsitektur Islam dan kaitannya dengan arsitektur-arsitektur lainnya, terutama arsitektur modern.

Berpikir Paradigmatik

Sebagai ilmu pengetahuan di bidang arsitektur, Arsitektur Islam harus ditempatkan sebagai salah satu paradigma di antara beragam paradigma ilmu pengetahuan arsitektur, di antaranya arsitektur modern dan arsitektur posmodern. Oleh karena itu secara paradigmatik Arsitektur Islam memiliki tiga bagian yang membentuk bangunan ilmu pengetahuannya, terdiri dari bagian (1) landasan filosofis; (2) bangunan teori; dan (3) teknologi. Merujuk pada struktur tersebut, pemahaman yang memandang capaian arsitektur modern maupun arsitektur selainnya sebagai serba Islami hanya berkutat pada sebagian saja dari bangunan teori yang bersifat aplikatif, yakni konsep dan prinsip, serta bagian teknologi.

Dengan menempatkannya sebagai paradigma ilmu pengetahuan arsitektur, maka Arsitektur Islam memiliki struktur dan realitas yang otonom, dalam artian bukan merupakan bagian dari arsitektur modern, arsitektur posmodern, maupun paradigma arsitektur lainnya. Secara metodologis, perumusan Arsitektur Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan arsitektur meliputi (1) perumusan landasan filosofis yang bersumberkan dari Al-Qur’an, Hadits, ijma’ ulama, dan pengajaran dari ulama yang berwibawa; (2) perumusan bangunan teori dengan melakukan teorisasi Al-Qur’an dan Hadits maupun penelitian empirik terhadap objek arsitektur yang berkesesuaian dengan idealitas Islam, seperti Masjid Nabawi pada masa awal yang merupakan model bagi arsitektur masjid sepanjang zaman; dan (3) pengamalan bangunan teori dalam penciptaan teknologi arsitektur melalui kegiatan perancangan, pembangunan, dan penggunaan arsitektur.

Dalam perumusan Arsitektur Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan arsitektur, terjalin relasi dialogis antara Arsitektur Islam dengan paradigma arsitektur lainnya melalui mekanisme saling pinjam meminjam bagian dari bangunan ilmu pengetahuan masing-masingnya, yang dari perspektif Arsitektur Islam disebut mekanisme Islamisasi ilmu pengetahuan yang dilandasi dua prinsip. Pertama, pinjam meminjam hanya dapat dilakukan pada bagian bangunan ilmu pengetahuan yang bersifat aplikatif, yakni pada ranah konsep, prinsip, dan teknologi, karena bagian tersebut jauh dari landasan filosofis sehingga memiliki kadar universalitas yang lebih tinggi dibandingkan bagian lainnya. Kedua, mekanisme pinjam meminjam dikatakan berhasil jika bagian yang dipinjam dapat menyatu secara struktural dengan bagian lainnya berdasarkan indikator dapat diterima atau berkesesuaian dengan landasan filosofis, sehingga bagian yang dipinjam dari paradigma arsitektur lain memperkuat teori dari bangunan ilmu pengetahuan Arsitektur Islam. Dengan mekanisme ini Arsitektur Islam bersifat inklusif terhadap paradigma arsitektur lainnya, sekaligus dapat berkontribusi terhadap pengembangan paradigma arsitektur lain dengan meminjamkan bagian yang bersifat aplikatif dari bangunan ilmu pengetahuannya.

Memahami Arsitektur Islam secara paradigmatik menjadikan penilaian terhadap capaian paradigma arsitektur lain, tidak terkecuali arsitektur modern, sebagai Islami harus berdasarkan dua prinsip di atas. Dengan begitu, kembali mengutip contoh sebelumnya, indikator arsitektur hijau dari Green Building Council tidak dapat dinyatakan Islami hanya dengan melihatnya sebagai konsep, prinsip, maupun teknologi, tetapi harus dikaitkan dengan teori yang memayunginya dan landasan filosofis yang mendasarinya, untuk kemudian dipahami dan dinilai berdasarkan landasan filosofis Arsitektur Islam. Jika sesuai dengan landasan filosofis Arsitektur Islam, indikator arsitektur hijau menjadi bagian dari ranah prinsip bangunan ilmu pengetahuan Arsitektur Islam dengan mendapatkan penafsiran baru yang khas Islam, sehingga menjadikannya berbeda dengan indikator arsitektur hijau yang menjadi bagian dari paradigma arsitektur modern dan arsitektur lainnya, semisal yang berasaskan paham deep-ecology, monotheisme selain Islam, naturalisme, maupun paham-paham lainnya. Namun jika indikator arsitektur hijau yang merupakan bagian dari bangunan ilmu pengetahuan arsitektur modern tidak sesuai dengan landasan filosofis Arsitektur Islam, maka tidak dapat dinyatakan Islami, sehingga tidak dapat menjadi bagian dari bangunan ilmu pengetahuan Arsitektur Islam.

Untuk memudahkan memahami relasi antara Arsitektur Islam dengan arsitektur selainnya melalui mekanisme saling pinjam meminjam bagian dari bangunan ilmu pengetahuannya masing-masing yang bersifat aplikatif, dapat memperhatikan diagram 1 di bawah ini:

Gambar 1: relasi antara Arsitektur Islam (kiri) dengan arsitektur modern (kanan). Sumber: Analisa, 2021

Demikianlah seharusnya Arsitektur Islam dipahami, yakni sebagai paradigma ilmu pengetahuan, sehingga Arsitektur Islam dapat dibedakan dari arsitektur lain berdasarkan ranah teori dan landasan filosofisnya. Sementara untuk ranah konsep, prinsip, dan teknologi yang bersifat aplikatif merupakan keniscayaan terdapatnya kesamaan yang justru dibutuhkan agar beragam paradigma arsitektur dapat saling berinteraksi dalam rangka mengembangkan bangunan ilmu pengetahuannya masing-masing. Dengan lingkup pandangan yang luas dan menyeluruh tersebut, Arsitektur Islam dapat ditempatkan sebagai bagian dari kebudayaan Islam, tidak sekedar merupakan realitas teknologi yang hanya berdimensi fisik, sehingga Arsitektur Islam dapat berkontribusi dalam membentuk ruang dunia sebagai wadah bagi kehidupan yang penuh rahmat. Inilah cara pandang yang tepat!

Allahu a’lam bishawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar