Senin, 21 Juni 2021

Wajah Kota Islam

 Kota Sebagai Budaya

Kota merupakan artefak terbesar yang dicipta manusia hingga hari ini yang kehadirannya menunjukkan tingkat peradaban maju yang selalu dipertentangkan dengan desa apalagi cara hidup berpindah tempat (nomaden) yang menunjukkan tingkat pra peradaban dan awal peradaban manusia. Sebagai hasil kerja kreatif untuk memenuhi kebutuhan ruang kehidupan yang dapat ditinggali manusia dengan memanfaatkan dan mengolah alam, kota dapat dipandang sebagai budaya manusia yang terbentuk dari unsur gagasan, fungsi dan perilaku, artefak, serta bahasa.

Unsur gagasan merupakan pemikiran yang mendasari terbentuknya kota serta tujuan dibangunnya suatu kota yang menentukan maupun mempengaruhi unsur-unsur lainnya. Dengan kata lain, gagasan merupakan unsur petama yang dicipta manusia dalam proses kerja kreatif menghadirkan kota. Unsur kedua ialah perilaku dan fungsi kota meliputi perilaku perancangan kota terkait gagasan dan sumber inspirasi yang digunakan, perilaku pembangunan kota terkait cara manusia memanfaatkan dan mengolah alam dalam pembangunan kota, serta perilaku warga kota terkait cara hidup yang diamalkannya di ruang kehidupan kota. Sementara fungsi yang juga merupakan bagian dari unsur kedua merujuk pada kegiatan utama yang mendominasi denyut kehidupan kota dan kegiatan-kegiatan pendukung yang diwadahi maupun kegiatan yang dilarang keberlangsungannya di dalam kota.

Artefak sebagai unsur ketiga merupakan bentuk kota secara fisik sebagai konsekuensi logis dari gagasan pembangunannya dan kegiatan serta perilaku yang diwadahi meliputi zonasi kota, perwujudan arsitektur, garis langit (skyline), jaringan sirkulasi, dan sebagainya. Yang terakhir ialah unsur bahasa yang merupakan cerminan dari cara pandang manusia sebagai subyek pembangun kota terhadap realitas kehidupan merujuk pada istilah yang digunakan untuk menyebut gagasan kota yang ideal, penamaan suatu kota, hingga seluruh istilah dan penamaan yang ditujukan terkait lingkungan fisik kota, seperti nama jalan, nama zonasi, nama pusat kota, dan lain sebagainya.

Sebagai budaya yang dicipta oleh makhluk berakal, berlaku prinsip struktural dan prinsip koherensi terhadap empat unsur pembentuk kota. Pertama, yang dimaksud prinsip struktural ialah empat unsur pembentuk kota tidak berdiri sendiri dan tidak memiliki otonomi pada masing-masing unsurnya, tetapi saling berkaitan sebagai satu kesatuan sehingga dianalogikan membentuk suatu stuktur di mana antara satu unsur dengan unsur lainnya saling mendukung, menguatkan, dan berhubungan. Kedua, prinsip koherensi bermakna unsur gagasan merupakan landasan yang mempengaruhi unsur perilaku dan fungsi, unsur artefak, dan unsur bahasa. Dengan demikian, tiga unsur yang disebutkan terakhir merupakan terjemahan dari unsur gagasan, sehingga mencerminkan gagasan yang mendasari bentukan suatu kota beserta kehidupan yang berlangsung di dalamnya.

Secara praksis unsur pembentuk kota dengan menempatkan kota sebagai bagian dari budaya manusia dapat digunakan sebagai kerangka berpikir untuk merancang dan membangun suatu kota sekaligus sebagai variabel untuk menemukenali karakter suatu kota dan ciri khas yang membedakan suatu kota dengan kota-kota lainnya. Dengan variabel yang sama pula dapat dikenali wajah kota Islam serta pembedanya secara fundamental dengan kota-kota selainnya. Untuk tujuan itu bagian kedua dari tulisan ini akan mengulas ciri khas kota Islam sebagai bagian dari budaya Islam yang dicipta oleh manusia Muslim.

Ciri Khas Kota Islam

Menemukenali ciri khas kota Islam dengan menggunakan empat unsur pembentuknya mengandaikan bahwa pemahaman dan penilaian terhadap kota Islam tidak hanya merujuk pada unsur artefaknya yang bersifat fisikal dan konkret, tetapi juga harus merujuk pada manusia sebagai subyek perancang, pembangun, dan penghuninya dengan menyibak unsur gagasan yang tertanam di dalam kesadaran diri yang diaktualisasikan dalam cara hidup, kegiatan sehari-hari, serta bahasa yang digunakan dan disematkan pada kota sebagai ruang kehidupannya. Melihat sekilas gambar kota Solo dari ketinggian sebagaimana foto yang saya sematkan dalam tulisan ini, keberadaan minaret Masjid Sriwedari yang menjulang tinggi di antara bangunan lainnya tidak serta merta menjadikan kota Solo layak dinyatakan sebagai kota Islam tanpa meninjau unsur dan aspek lainnya dari kehidupan warga kota Solo.

Gambar 1. Garis langit kota Solo dengan minaret Masjid Sriwedari yang menjulang tinggi di antara bangunan-bangunan lainnya.

Pembahasan ini akan dimulai dari unsur gagasan kota Islam sebagai unsur yang pertama kali dicipta dan merupakan landasan bagi unsur-unsur lainnya. Ditinjau secara konseptual, model kota Islam merujuk pada Madinah sebagai ruang kehidupan di mana Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersama para Sahabat menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Merujuk pada Syed Naquib Al-Attas (2011: 65), Madinah bermakna suatu tempat di mana diin benar-benar tegak untuk manusia, di mana orang yang beriman menghambakan diri di bawah otoritas dan kuasa hukum Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, dan di mana kesadaran akan keberhutangan dengan Allah mengambil bentuknya yang pasti dengan tata cara dan kaidah pembayarannya yang disetujui mulai diterangkan dengan jelas. Sementara itu secara historis, Syed Naquib Al-Attas (2011: 65) menyatakan Madinah sebagai kota Nabi yang terwujud segera setelah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berhijrah dan bermukim di sana menandakan era baru dalam sejarah manusia. Dari dua perspektif ini, yakni konseptual dan historis, menjadikan Madinah sebagai gagasan ideal dalam perancangan dan pembangunan kota-kota oleh umat Islam di sepanjang sejarah Peradaban Islam hingga masa kini.

Walaupun bersifat abstrak, penetapan Madinah sebagai gagasan ideal kota Islam dapat dibuktikan secara psikologis dan sosiologis dengan menyaksikan geliat umat Islam sepanjang zaman untuk mewujudkan kualitas kehidupan yang merujuk pada generasi pertama umat Islam sebagai generasi terbaik sehingga menjadi model bagi generasi Islam yang hadir setelahnya hingga Hari Kiamat. Upaya ini oleh Ziauddin Sardar (1987) diteoritisasi dengan menyebutnya sebagai Madinah masa depan, yakni suatu kondisi kehidupan dengan kualitas manusia mendekati generasi terbaik Islam yang hidup dan berkehidupan di ruang kota kontemporer dengan berbagai capaian teknologi terkini. Sehingga Madinah masa depan yang dimaksud Sardar, jika dipahami dengan empat unsur pembentuk kota, menempatkan unsur gagasan, unsur perilaku dan fungsi, serta unsur bahasa bersifat statis yang memungkinkan dielaborasi secara terbatas seiring perubahan zaman karena merujuk pada diri manusia sebagai penghuni kota, sedangkan unsur artefak bersifat dinamis untuk terus adaptif seiring gerak laju peradaban manusia. Dengan begitu yang dimaksud Madinah masa depan sebagai gagasan kota Islam bukanlah kembali mewujudkan kota padang pasir sebagaimana ruang kehidupan yang dahulu ditempati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para Sahabat, tetapi dengan menelisik landasan filosofis, konsep, dan prinsip yang mendasari perwujudan artefaknya untuk dijadikan panduan dalam perancangan dan pembangunan kota Islam pada masa kini dan yang akan datang.

Dari gagasan Madinah beserta maknanya, kota Islam menampakkan cara hidup warganya yang berlandaskan pada pedoman dari Allah dan diteladankan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, meliputi kegiatan yang tergolong ibadah maghdah dan ibadah ghairu maghdah dengan status wajib hingga mubah. Untuk mewadahi kegiatan tersebut kota Islam menetapkan fungsi ibadah dalam skala kota, yakni masjid jami’ yang terintegrasi dengan universitas atau institusi pendidikan tinggi dan fasilitas pemerintahan sebagai pusat kota yang mencerminkan kedudukan manusia dalam perspektif Islam yang menempatkan orang-orang bertakwa dan berilmu di puncak struktur sosial masyarakat. Di lapisan kedua, pusat kota terintegrasi dengan fungsi publik yang bersifat komersial dan sosial, seperti rumah sakit, pasar, perkantoran, dan sebagainya. Di antara pusat kota dan lapisan kedua serta di luar lapisan kedua terdapat zona permukiman yang terintergasi dengan masjid permukiman, sekolah, dan area yang diperuntukkan untuk menghasilkan pangan.

Dilihat dari aspek artefaknya, keberadaan masjid jami’ dan universitas merupakan point interest dalam lingkungan kota Islam dengan skala yang monumental dan massa bangunan yang besar, sehingga membentuk garis kota (skyline) yang memperlihatkan minaret masjid jami’ sebagai artefak paling tinggi sebagai penanda status diri manusia sebagai hamba Allah dan orientasi hidup umat Islam yang hanya beribadah kepada Allah. Dalam skala manusia, di lingkungan kota Islam ditempatkan street furniture yang ditujukan untuk menguggah kesadaran spiritual warga kota, mengontrol perilaku warga kota, dan kemudahan untuk berkehidupan di lingkungan kota. Contoh yang dapat saya tampilkan ialah street furniture kota yang bertuliskan Asmaul Husna untuk menggugah dan menjaga kesadaran spiritual warga kota, sebagaimana terlihat dari foto salah satu sudut Kota Tuban yang saya sematkan di bawah ini.

Gambar 2. Street furniture di salah satu sudut Kota Tuban bertuliskan Asmaul Husna Yaa Lathiif; Allah Yang Maha Lembut.

Di dalam lingkungan kota Islam tidak disediakan ruang untuk mewadahi kegiatan yang tidak tergolong sebagai ibadah kepada Allah, yakni yang berstatus makruh dan haram. Oleh karenanya keberadaan lokalisasi, klub malam, produsen dan toko minuman keras, dan fungsi-fungsi terlarang lainnya tidak diafirmasi keberadaannya untuk tujuan apa pun, termasuk
tujuan ekonomi sebagaimana argumentasi yang seringkali digunakan untuk melegalkan fungsi-fungsi tersebut karena dinilai memberikan pendapatan bagi pemerintah dan membuka lapangan pekerjaan bagi warga kota.

Yang terakhir dari empat unsur pembentuk kota Islam, penamaan yang diberikan warga kota terhadap ruang kehidupannya mencerminkan pandangan-alam, tradisi, dan kesejarahan Islam maupun penamaan yang sifatnya pragmatis untuk menunjukkan posisi geografis suatu kota. Contoh saja penamaan kota Kudus terjalin kuat dengan keberadaan Al-Quds di Jerusalem yang merupakan salah satu kota suci bagi umat Islam selain Mekah dan Madinah. Begitu pula dalam pemberian nama zonasi, area, bangunan, dan jalan-jalan di kota Islam, seperti pemberian nama masjid dengan nama para Sahabat atau ulama, dan nama jalan dengan nama para tokoh Islam.

Demikianlah wajah kota Islam dilihat dari empat unsur pembentuknya. Dengan begitu suatu kota dapat dinyatakan sebagai kota Islam jika keempat variabel pembentuknya memuat pandangan-alam, nilai-nilai, tradisi, dan kesejarahan Islam. Lebih jauh lagi untuk kebutuhan panduan dan penilaian, empat variabel dan indikator kota Islam dapat dibobotkan, sehingga dapat diketahui tingkat penerapan Islam dalam suatu kota sebagai dasar penetapan rencana pengembangan kota tersebut agar mencapai predikat sebagai kota Islam yang paripurna. Langkah pertama untuk mencapai tujuan tersebut ialah dilakukannya penelitian guna merumuskan standar kota Islam untuk mewujudkan ruang kehidupan di mana rahmat Allah turun laksana hujan.

Allahu a’lam bishawwab

Referensi:

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 2011. Islam dan Sekularisme. Bandung: PIMPIN.

Sardar. Ziauddin, 1987, Masa Depan Islam, Bandung: Penerbit Pustaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar