Sabtu, 10 Juli 2021

Menggugat Nalar Penutupan Masjid

Dua Dimensi Fungsi Masjid

Aturan dari pemerintah untuk menutup masjid sepanjang pemberlakuan PPKM Darurat di Pulau Jawa dan Bali pada tanggal 3-20 Juli 2021 untuk menekan jumlah masyarakat yang terinfeksi virus Covid-19, sebagaimana persoalan lainnya, disikapi dengan pro dan kontra oleh umat Islam yang dapat kita saksikan di berbagai media sosial. Di tengah keributan tersebut, saya memilih posisi menolak diberlakukannya aturan penutupan masjid.

Namun begitu, posisi saya tidak dilandasi kesadaran mistik maupun ideologis, meminjam istilah yang digunakan Kuntowijoyo (2017) untuk menjelaskan tingkat dan perkembangan kesadaran umat Islam. Sejak awal, dua jenis kesadaran tersebut bersifat kontra produktif terhadap penanganan pandemi. Kesadaran mistik berpandangan bahwa pandemi cukup dihadapi dengan ibadah ritual, dzikir, shalawat, dan amalan-amalan lain untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah agar pandemi segera berakhir. Dari argumentasi yang disampaikan, kalangan ini terkesan menihilkan peran ikhtiar manusia melalui penguasaan IPTEK modern dengan menggantungkan sepenuhnya kepada kekuasaan Tuhan. Kesadaran jenis ini yang menempati kedudukan paling rendah, merujuk pada penjelasan Kuntowijoyo (2017), menyebabkan Islam dan umatnya terpisah dari realitas. Dalam kasus pandemi, pilihan terhadap solusi yang disediakan Islam secara epistemologis tidak sesuai dengan karakter virus yang merupakan makhluk biologis dan penyebarannya yang terkait erat dengan dimensi sosiologis dan antropologis yang seharusnya didekati dengan sains.

Begitu pula dengan kesadaran ideologis yang sejak awal tidak berfokus pada penanganan pandemi dengan mendayagunakan seoptimal mungkin capaian IPTEK modern karena berkutat dengan narasi konspiratif terkait penyebab pandemi hingga berbagai solusi yang ditawarkan kalangan ahli medis dan kesehatan, seperti vaksin yang dipandang merupakan makar para musuh Islam untuk melemahkan hingga membinasakan generasi kaum Muslimin. Penganut dua jenis kesadaran ini memiliki kesamaan sikap dalam menghadapi pandemi, yakni tidak bersungguh-sungguh bahkan abai dalam menerapkan protokol kesehatan, tidak terkecuali dalam berkegiatan di masjid dengan tidak mengenakan masker, tidak melakukan prosedur screening seperti cek suhu, tidak menjaga jarak shaf shalat, bahkan masih menerapkan manajerial masjid seperti pada masa normal sebelum pandemi.