Rabu, 06 Oktober 2021

Masjid Sebagai Ruang Komunal

Pusat Ruang Komunitas

Dalam magnum opus-nya berjudul Mesjid: Pusat Peribadatan dan Kebudayaan Islam yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1962, Sidi Gazalba (1994) menyatakan masjid ialah pusat bagi komunitas umat Islam. Pernyataan Gazalba tadi bermakna bahwasanya masjid merupakan tempat berkumpulnya umat Islam untuk melakukan kegiatan komunal. Pemahaman ini sangat penting terkait peran dan fungsi masjid dikarenakan menegaskan masjid sebagai ruang yang mengikat umat Islam dalam kesatuan sosial sekaligus tempat mewujudkan tujuan hidup bersama melalui keterlibatan seluruh unsur masyarakat Islam.

Keberadaan masjid dari perspektif sosiologis sebagaimana di atas mendapatkan landasan historis dari teladan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak menunggu waktu lama untuk mendirikan masjid begitu tiba di Yatsrib. Kuntowijoyo (2017) menjelaskan, Rasul Muhammad tidak mendirikan istana di tanah hijrah untuk mempersatukan manusia di bawah kekuasaan politik, pun tidak menguasai pasar untuk menghimpun manusia melalui kepentingan ekonomi. Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam justru mendirikan masjid untuk mengikat manusia dengan keimanan kepada Tuhan, sehingga terbentuk masyarakat Islam dengan karakternya yang egaliter sebagai perwujudan dari iman yang hanya mengakui Tuhan sebagai pemilik kekuasaan dan otoritas penuh atas diri dan hidup manusia. Masyarakat inilah yang disebut oleh Kuntowijoyo (2016) dengan istilah Humanisme Teosentris di mana hubungan antar anggota kepada sesamanya sebagai manusia dilandasi hubungan kepada Tuhan sebagai pemilik segala.

Namun demikian, masyarakat Islam bukanlah masyarakat tanpa kelas karena bagaimana pun juga hirarki merupakan sunnatullah alam semesta yang telah ditetapkan Tuhan, sehingga tak dapat ditiadakan dan penolakan terhadap hal tersebut justru akan menyebabkan kerusakan. Jika masyarakat yang berpusat pada istana menempatkan raja sebagai pemilik kekuasaan mutlak, dan pasar menempatkan para pemilik modal di posisi puncak struktur sosial, maka masyarakat Islam yang berpusat pada masjid menempatkan orang-orang bertakwa yang memiliki kedekatan dengan Tuhan sebagai pemimpin, sebagaimana ditetapkan Tuhan dalam Surah Al-Hujarat: 13 dan Surah An-Nisaa: 59 berikut:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Terjemah QS Al-Hujurat: 13)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya (Terjemah QS An-Nisaa: 59)

Dua ayat di atas menunjukkan dalam masyarakat Islam, kepemimpinan diberikan kepada anggota masyarakat yang paling bertakwa kepada Tuhan. Selain itu seorang pemimpin dalam Islam diberi kewenangan untuk mengambil keputusan bagi masyarakatnya berdasarkan petunjuk dari Tuhan dan pedoman serta teladan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dengan karakter kedua, yakni kepemimpinan spiritual yang juga bermakna intelektual, diharapkan masyarakat Islam dapat mencapai tujuan hidup bersama dalam rangka meneruskan tugas kenabian yang tidak lain menjadi rahmat bagi semesta alam. Catatan penting disampaikan oleh Gazalba (1994) perihal imam atau pemimpin masyarakat Islam yang otoritasnya tidak hanya terbatas pada lingkup masjid, sebagaimana persepsi kita terhadap imam pada hari ini yang sangat sempit hanya terkait pelaksanaan ibadah shalat jamaah. Seorang imam yang memimpin masyarakat Islam dalam shalat, jugalah memiliki wewenang di luar masjid dalam hal kepemimpinan terhadap umat Islam.

Konsep imam merujuk pada penjelasan Gazalba menegaskan kedudukan masjid sebagai pusat ruang secara teologis, sosiologis maupun spasial. Pertama, masjid merupakan pusat karena diperuntukkan untuk bersujud kepada Tuhan yang difungsikan salah satunya untuk melaksanakan ibadah shalat berjamaah di belakang satu imam sebagai kegiatan yang paling tinggi kedudukannya bagi umat Islam dalam kehidupan keseharian. Kedua, sebagai ruang komunal, masjid berperan dalam pembentukan masyarakat Islam berikut dengan struktur sosialnya yang berlandaskan ketakwaan dan keilmuan sebagai realisasi dari pelaksanaan ibadah shalat berjamaah. Yang terakhir, sebagai pusat spiritualitas dan sosial, maka tak dapat dielakkan masjid merupakan pusat ruang dalam kehidupan umat Islam yang terintegrasi dengan ruang-ruang di luar masjid secara fungsional maupun fisikal. Dengan demikian spiritualitas yang tertanam di masjid dan masyarakat Islam yang terbentuk pula di masjid dapat merembes dan memenuhi ruang-ruang lain dalam kehidupan umat Islam, di antaranya ekonomi, pendidikan, seni, dan sebagainya.

Karakter ketiga, sebagaimana disampaikan oleh Sidi Gazalba (1994), ialah bentuk masyarakat Islam sebagai Ummah dengan keanggotaan lintas geografis dan zaman. Dengan kata lain, Ummah bermakna kesatuan masyarakat yang menghimpun umat Islam sejak generasi pertama hingga generasi terakhir kelak, di mana pun umat Islam hidup dan berkehidupan. Keterkaitan konsep masjid sebagai pusat komunitas bagi umat Islam dengan Ummah dijelaskan oleh Sidi Gazalba (1994) melalui hirarki masjid dari lingkup mikro, meso, hingga makro. Pada tingkat paling bawah umat Islam dalam kehidupan kesehariannya menjadi bagian dari masyarakat Islam yang berpusat di masjid permukiman. Sepekan sekali, umat Islam berkumpul dalam lingkup kota yang lebih luas dari wilayah permukimannya untuk melaksanaan Shalat Jumat di masjid jami’, dan paling tidak sekali dalam seumur hidupnya umat Islam berkumpul dengan sesama saudara Muslim dari beragam ras dan etnis yang berasal dari berbagai penjuru dunia di Masjidil Haram dalam pelaksanaan ibadah Haji.

Tulisan ini yang berangkat dari pendekatan arsitektur hendak menunjukkan dan mengulas masjid sebagai ruang komunal bagi masyarakat Islam dengan mengidentifikasi ruang-ruang pembentuk masjid yang diperuntukkan untuk mewadahi kegiatan bersama sebagai realisasi dari kehidupan bermasyarakat. Tanpa keberadaan ruang tersebut, pembentukan masyarakat Islam yang bermula di masjid akan terhambat karena akan terhenti pada pembentukan jamaah shalat. Selain itu, masjid akan terputus dari kehidupan umat Islam yang dominan berlangsung di luar masjid dikarenakan tidak tersedianya ruang di masjid untuk mewadahi kegiatan komunal yang berdimensi keduniaan. Akibatnya, Islam tidak memiliki masyarakat dan Islam hanya akan terdapat di masjid tanpa memiliki saluran spasial untuk merembes memenuhi ruang profan.

Ruang Komunal di Masjid

Upaya mengidentifikasi ruang masjid yang diperuntukkan untuk mewadahi kegiatan komunal tidak bisa tidak harus merujuk pada kesejarahan masa awal Masjid Nabawi yang didirikan dan dibina oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam hingga wafatnya dan para Sahabat yang oleh Rasul Muhammad dinyatakan sebagai generasi terbaik umat Islam, sehingga oleh Abdul Rochym (1983) dan Achmad Fanani (2009) Masjid Nabawi masa awal dinyatakan sebagai pola dasar atau cetak biru masjid.

Pola dasar masjid dari aspek spasialnya merujuk pada masa awal Masjid Nabawi terdiri dari (1) ruang shalat merupakan ruang utama masjid yang berada di sisi dinding kiblat atau disebut haram karena mensyaratkan ruang ini selalu dalam kondisi suci untuk terpenuhinya syarat sah ibadah shalat; (2) ruang Shuffah yang merupakan cikal bakal serambi masjid; dan (3) halaman terbuka atau disebut sahn. Di antara tiga ruang tersebut, dua yang terakhir merupakan ruang komunal di masjid. Berkumpulnya umat Islam di ruang utama masjid dalam pelaksanaan ibadah shalat berjamaah ditindaklanjuti dengan berkumpul dan berkegiatan bersama di ruang serambi dan halaman terbuka masjid hingga terjalin ikatan sosial antar individu Muslim yang menandakan terbentuknya masyarakat Islam.

Pernyataan di atas dapat dijelaskan secara historis dengan mengungkap fungsi dan peruntukkan ruang Shuffah dan halaman terbuka pada masa awal Masjid Nabawi. Mengenai ruang Shuffah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberi teladan maupun persetujuan untuk digunakan mewadahi beragam kegiatan yang bersifat individual maupun komunal, di antaranya kegiatan pendidikan, makan bersama, sekedar berkumpul mengisi waktu luang, hingga sebagai tempat bermukim sementara bagi para Sahabat yang tidak memiliki hunian. Sementara itu kaitan erat ruang Shuffah dengan serambi yang lazim terdapat pada masjid-masjid di Nusantara dapat ditelusuri dari kesamaan fungsi yang diwadahi, walaupun terdapat perbedaan konfigurasi organisasi ruang antara Masjid Nabawi masa awal di mana antara ruang shalat dan ruang Shuffah dipisahkan halaman terbuka dengan masjid-masjid tradisional di Nusantara yang menempatkan serambi pada salah satu atau ketiga sisi ruang shalat. Kesamaan fungsinya dengan ruang Shuffah dapat diketahui berdasarkan hasil pengamatan G.F. Pijper (1984) pada masjid-masjid di Jawa dari tahun 1900-1950 yang memaparkan kegiatan umat Islam di serambi, di antaranya pengadilan agama, pertemuan para tokoh dengan masyarakat, pernikahan, hingga makan bersama.

Yang kedua ialah halaman terbuka masjid. Abdul Rochym (1983) menunjukkan nilai penting ruang ini dengan menggunakan istilah model masjid lapangan untuk merujuk pada Masjid Nabawi pada masa awal sebagai pola dasar masjid. Abdul Rochm (1983) menjelaskan keberadaan halaman terbuka di Masjid Nabawi pada masa awal yang selain secara fungsional merupakan lokasi untuk wudhu sebelum melangsungkan ibadah shalat, juga pada malam hari digunakan untuk kegiatan sosial berkumpul bersama di ruang terbuka sebagai tradisi masyarakat Arab pada masa itu. Penjelasan Rochym tadi penting karena bukan saja menunjukkan peruntukkan halaman terbuka masjid untuk mewadahi fungsi sosial, tetapi juga menunjukkan fleksibilitas masjid terhadap tradisi sosial masyarakat untuk diserap dan diwadahi di dalam masjid, sehingga menjadi tak terelakkan kedudukan masjid sebagai ruang komunal telah dimulai sejak generasi pertama masyarakat Islam.

Keberadaan dua ruang komunal di masjid, yakni serambi dan halaman terbuka memungkinkan masjid melangsungkan dan mewadahi kegiatan secara berkelanjutan sepanjang hari tanpa mengotori ruang utama yang diperuntukkan untuk ibadah shalat. Dengan begitu masjid tidak hanya didatangi oleh umat Islam pada waktu pelaksanaan shalat berjamaah, tetapi dapat digunakan sepanjang waktu untuk melangsungkan kegiatan yang dibutuhkan oleh umat Islam sebagai individu maupun masyarakat. Pada satu waktu kegiatan dapat dilangsungkan di ruang terbuka, dan pada waktu yang lain dapat dilakukan di serambi agar terlindung dari hujan maupun sengatan sinar mentari.

Gambar: Masjid Baitul Atiiq di Kartasura yang menerapkan pola dasar tata ruang Masjid Nabawi pada masa awal meliputi ruang utama, ruang serambi, dan halaman terbuka

Yang tidak kalah penting dari dimilikinya ruang komunal sebagai wadah pembentukan masyarakat Islam yang berpusat di masjid adalah kemudahan dan kenyamanan akses untuk berkegiatan di masjid. Masjid yang merupakan pusat bagi komunitas umat Islam, termasuk ruang komunal yang dimilikinya, harus dirancang dengan memperhatikan kebutuhan seluruh unsur masyarakat Islam yang terdiri dari laki-laki maupun perempuan, serta meliputi anak-anak, dewasa, hingga manula. Tidak boleh dilupakan pula bagian dari masyarakat Islam yang memiliki keterbatasan fisik untuk dapat mendatangi dan berkegiatan di masjid dengan aman, mudah, dan nyaman, seperti kalangan tuna rungu, tuna netra, dan tuna daksa. Demikianlah konsekuensi masjid sebagai pusat komunitas yang mengharuskannya bersifat inklusif, sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada masa awal Masjid Nabawi dengan melibatkan Abdullah bin Ummi Maktum yang tuna netra sebagai muadzin selain Bilal bin Rabbah untuk mengumandangkan adzan dari masjid, serta senantiasa mengajak dan membiarkan cucu-cucu beliau Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak lain adalah Hasan dan Husain bermain di masjid.

Memang harus kita akui masjid sebagai pusat ruang bagi komunitas umat Islam belumlah terwujud dengan terjadinya dua fenomena spasial yang hampir-hampir telah dimaklumi sebagian besar umat Islam. Pertama, dengan kemajuan teknologi modern masjid dibangun semakin besar dan megah, tetapi hanya memiliki ruang utama tanpa ruang komunal, sehingga secara fungsional masjid tidak dapat digunakan untuk tempat berkumpul bagi umat Islam melangsungkan berbagai kegiatan yang tergolong ibadah ghairu maghdah. Dampak dari ketiadaan ruang komunal ialah rendahnya intensitas kegiatan di masjid disebabkan pelarangan dilakukannya kegiatan selain ibadah maghdah di masjid maupun pelarangan keterlibatan anak-anak di masjid untuk menghindari terganggunya jamaah yang sedang shalat dan untuk menjaga kebersihan ruang shalat. Fenomena kedua, persepsi yang mendasari perancangan dan pembangunan masjid yang hanya diperuntukkan bagi laki-laki Muslim yang telah dewasa, sehingga desain masjid sama sekali tidak mempertimbangkan kebutuhan perempuan, anak-anak, dan manula. Selama dua fenomena ini terus terjadi dan tidak ditangani, maka selama itu masjid bukanlah pusat bagi komunitas umat Islam, dan selama itu pula masyarakat Islam yang bermula di masjid tidaklah terbentuk. Inilah tugas kita bersama yang nyata terlihat di depan mata untuk mengembalikan masjid sebagai Rumah Tuhan yang menghimpun seluruh hamba beriman!

Allahu a’lam bishawab

Ditulis di Kartasura, diselesaikan di Yogyakarta.
Safar 1443 H/Oktober 2021

Daftar Rujukan:

Fanani, Achmad. 2009. Arsitektur Masjid. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

Gazalba, Sidi. 1994. Mesjid: Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna.

Kuntowijoyo, 2006, Islam Sebagai Ilmu, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Kuntowijoyo, 2017, Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, Yogyakarta: MataBangsa.

Pijper, G.F. 1984. Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950 (terj). Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Rochym, Abdul. 1983. Sejarah Arsitektur Islam: Sebuah Tinjauan. Bandung: Penerbit Angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar