Sabtu, 06 November 2021

Kita Yang Terlindas Zaman

Dunia (AS) Yang Macet

Tulisan ini berangkat dari analisa yang diketengahkan Alvin Toffler bersama istrinya; Heidi Toffler dalam buku berjudul Creating A New Civilization: The Politics of the Third Wave yang diterbitkan tahun 1995 dan diterjemah dalam Bahasa Indonesia pada tahun 2002 oleh penerbit Tera Litera dengan judul Menciptakan Peradaban Baru: Politik Gelombang Ketiga. Bukan tanpa cerita, benih buku ini berawal pada tahun 1975 dalam konferensi mengenai Futurisme dan demokrasi antisipatoris yang diinisiasi oleh Partai Demokrat dan diperuntukkan bagi senator serta anggota dewan AS. Hadir juga pada acara tersebut satu-satunya anggota Partai Republik; Newt Gingrich, yang kelak menjalin hubungan dekat dengan Toffler dan mendorong diterbitkannya buku ini. Oleh karenanya dapat dipahami jika buku ini diberi kata pengantar oleh Gingrich dengan tujuan mempercepat transformasi AS memasuki Gelombang Ketiga yang mensyaratkan perubahan kebijakan pemerintah. Untuk tujuan itu buku tersebut pada awalnya dicetak terbatas untuk dibaca dan dipelajari kalangan dewan perwakilan rakyat AS ketika Gingrich menjadi ketuanya pada tahun 1994 dan kemudian pada kesempatan yang lain dipresentasikan di kalangan Partai Demokrat.

Dalam buku tersebut Toffler bersama sang istri mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi kehidupan di Amerika Serikat yang tidak kunjung memasuki periode Gelombang Ketiga secara menyeluruh, sebagaimana ia prediksi pada buku-buku sebelumnya, seperti Future Shock dan The Third Wave. Secara khusus kekecewaan tersebut Toffler tujukan kepada pihak pemerintah yang dinilai olehnya enggan mengambil kebijakan strategis untuk mempercepat AS beradaptasi dengan zaman baru yang kedatangannya tidak dapat ditunda dan tidak mungkin dihindari, sebagaimana analogi gelombang yang digunakan Toffler yang jika tidak diantisipasi akan menyapu bersih dan menghanyutkan AS dan negara-negara maju lainnya. Singkatnya, Toffler hendak mengatakan AS dalam kondisi macet!

Toffler mengungkapkan arah kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan kebutuhan Gelombang Ketiga disebabkan kedekatan pemerintah dengan pihak swasta yang menguasai perekonomian Gelombang Kedua. Persekutuan kedua pihak tersebut menjadikan AS masih mengandalkan perekonomian pabrik yang disebut Toffler dengan istilah perekonomian cerobong asap, sehingga begitu lambat memasuki perekonomian fiber optik sebagai tulang punggung Gelombang Ketiga. Gelombang yang akan datang membawa perubahan pada alat produksi secara fundamental, dari mesin yang oleh Armahedi Mahzar (1993) disebut arkeo taknik karena memiliki artefak berukuran besar, beralih pada teknologi informasi yang disebut oleh Mahzar (1993) dengan meta teknik karena memiliki artefak yang jauh lebih kecil, namun memiliki kemampuan jauh lebih besar dengan membentuk ruang digital yang tidak berwujud fisikal, atau kita mengenalnya dengan istilah ruang maya atau ruang virtual. Maka Gelombang Ketiga tidak saja membawa teknologi baru, tetapi ruang kehidupan baru bagi manusia.

Penjelasan Mahzar di atas memiliki kesejajaran dengan uraian Toffler. Penguasaan perekonomian Gelombang Kedua dengan pabrik yang berceborong asap ditentukan dari jumlah produksi yang berkorelasi dengan luas ruang pabrik. Dengan kata lain penguasa ekonomi pada periode Gelombang Kedua ialah pemilik pabrik terbesar yang menandakannya memiliki jumlah mesin produksi terbanyak, sehingga memiliki kemampuan mencapai tingkat produksi paling tinggi. Dalam perekonomian cerobong asap, luas ruang pabrik juga berkorelasi dengan jumlah pekerja yang terlibat dalam produksi. Dengan demikian untuk mencapai tingkat produksi tertinggi, selain dibutuhkan mesin produksi yang mumpuni dari aspek kuantitas dan kualitas, juga membutuhkan sejumlah tenaga kerja untuk mengoperasionalkan mesin. Dapat disimpulkan dari penjelasan Toffler, perekonomian Gelombang Kedua membutuhkan segala sesuatu yang serba besar, mulai dari aspek ruang pabrik, mesin produksi, hingga jumlah tenaga kerja.