Selasa, 01 Februari 2022

Masjid Tanpa Ayat Kauniyah

Kesatuan Ayat Tuhan

Dalam pandangan seorang Muslim, tidak terdapat kontradiksi antara keberadaan alam dan Wahyu Tuhan yang disampaikan melalui manusia pilihan. Dalam keyakinan Islam, keduanya justru berposisi saling melengkapi dan menerangkan sebagai dua entitas yang diciptakan oleh Tuhan sebagai al-Khaliq dan bersumberkan dari Tuhan sebagai al-Haqq. Mengutip Ismail Raji al-Faruqi dalam bukunya berjudul Islamization of Knowledge, alam yang dalam khazanah intelektual Islam disebut ayat kauniyah dan Wahyu yang merupakan ayat qauliyah menunjukkan kesatuan alam secara ontologis dan kesatuan kebenaran secara epistemologis.

Kesatuan antara alam dan Wahyu memiliki implikasi metodologis. Pertama, Tuhan di dalam ayat qauliyah memerintahkan manusia untuk melakukan pengamatan, observasi, dan penelitian terhadap ayat kauniyah yang telah diciptakan oleh Tuhan dengan ukuran-ukuran tertentu. Salah satunya sebagaimana firman Tuhan dalam Surah Ali-Imran: 190-191 berikut:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yakni orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Perintah untuk mengamati alam menandakan kajian terhadap objek tersebut dapat diulangi kapan pun dan di mana pun dikarenakan ketepatan dan ketetapan ukuran-ukuran dari Tuhan yang dikenal oleh umat Islam dengan istilah sunnatullah, sebagaimana termuat dalam firman Tuhan dalam Surah Al-Fath: 23 berikut:

Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.

Kepastian sunnatullah yang berlaku sepanjang zaman sampai Tuhan menetapkannya berbeda sesuai kehendak-Nya, menjadikan manusia dapat mengilmui alam dan berbagai kajian yang dilakukan umat manusia di berbagai tempat dan waktu yang berbeda akan sampai pada temuan yang sama. Dengan demikian alam yang diciptakan Tuhan teruntuk manusia dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia untuk melangsungkan hidup dan membina kehidupan setelah memahami karakteristik, cara kerja, dan prinsip-prinsipnya, sebagaimana firman Tuhan dalam Surah Al-Baqarah: 29 dan Al-Mulk: 15 berikut:

Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menciptakan langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dialah Yang menjadikan bumi mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu kembali setelah dibangkitkan.

Kedua, upaya manusia mengkaji ayat kauniyah harus disandarkan pada ayat qauliyah agar dicapai pemahaman yang benar, terutama dalam ranah filosofis. Kesatuan ini akan membawa manusia pada pemahaman akan ke-maha-an Tuhan pada akhir upayanya mengilmui alam, sebagaimana firman Tuhan dalam Surah Ali-Imran: 191 yang telah dikutip di atas. Tuhan lah yang telah menciptakan segalanya, dan Tuhan pula yang menjadikan segala sesuatu ciptaan-Nya memiliki nilai guna, sehingga keberadaannya tidaklah sia-sia. Selain itu, dalam Surah Al-Mulk: 15 yang juga telah dikutip di atas didapatkan pemahaman bahwasanya penciptaan alam merupakan nikmat dari Tuhan teruntuk manusia.

Sebagai rangkuman dua poin di atas, pemahaman terhadap Wahyu akan mendorong manusia untuk melakukan kajian terhadap alam yang dengan hasilnya akan melengkapi pemahamannya terhadap firman Tuhan. Di sisi lain, pemahaman manusia terhadap alam diberi pondasi yang kokoh oleh Wahyu sehingga dicapai ilmu yang komprehensif, luas, dan benar, dan dengan begitu membebaskan manusia dari pemahaman yang salah terhadap alam ditinjau dari perspektif akidah Islam. Kesatuan ayat Tuhan menggambarkan ciri khas epistemologi Islam yang tidak memisahkan antara ilmu agama yang merujuk pada ayat qauliyah dan sains yang menjadikan ayat kauniyah sebagai objek kajian. Wahyu mendorong manusia untuk menguasai sains agar dapat mengilmui dan memanfaatkan alam, kemudian Wahyu mengokohkan pemahaman dan pemanfaatan alam di atas akidah Islam dan batas-batas yang telah ditetapkan Tuhan.

Melepaskan ikatan kesatuan antara alam semesta dan Wahyu akan menjadikan manusia tergelincir pada dua kesalahan, yakni (1) menempatkan alam sebagai benda mati yang sama sekali tidak memiliki nilai sakral, sehingga mendorong manusia melakukan eksploitasi alam secara brutal tanpa pedoman dan batas-batas; atau (2) menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, sehingga manusia beribadah kepada alam yang disangkanya sebagai Tuhan atau wadah bagi Tuhan untuk menampakkan diri dalam realitas kehidupan dunia. Dengan kesatuan ayat Tuhan dalam perspektif Islam, alam mendapatkan nilai spiritual sebagai ciptaan Tuhan yang dalam pemanfaatannya harus berdasar pedoman dan aturan dari Tuhan.

Dalam ranah praktik, salah satu kebutuhan manusia terhadap alam untuk melangsungkan hidup dan membina kehidupan ialah membangun ruang binaan. Manusia menyadari bahwa dirinya tidak mampu hidup di tengah alam terbuka. Namun demikian, ketidakmampuan manusia hidup di tengah alam tidak serta merta menjadikannya menjauhi alam dan melepaskan ikatan dengan alam. Manusia justru mendekati alam untuk mengilmuinya sebagai keniscayan dari kepastian sunnatullah alam, dan memanfaatkannya sebagai nikmat dari Tuhan yang disediakan bagi seluruh umat manusia.

Dalam proses mengilmui alam manusia membutuhkan kejelasan perihal posisi dirinya di antara alam dan Tuhan, selain kejelasan mengenai hakikat diri, alam, dan Tuhan sebagai asas penentuan posisi dan jalinan relasi. Di sinilah ayat qauliyah dibutuhkan manusia, karena pemikiran spekulatif semata tidak memadai untuk mengenal hakikat dan menetapkan relasi yang tepat. Pun dalam proses memanfaatkan alam, manusia membutuhkan ayat qauliyah yang memuat kehendak, aturan, dan pedoman dari Tuhan. Misal saja perintah dan peringatan dari Tuhan pada penggalan Surah Al-Baqarah: 60 dan Surah Ar-Ruum: 41 berikut:

Makan dan minumlah rizki yang diberikan Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Berbekal pedoman di atas, manusia akan memanfaatkan alam secara bertanggungjawab untuk kelestariannya. Setiap pohon yang ia tebang untuk mendirikan bangunan, akan ia ganti dengan menanam pohon baru agar ekosistem kehidupan tetap terjaga dan kelak dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang. Begitu pula setiap kali manusia mengucap doa saat hujan turun, sebagaimana doa yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, agar berbuah manfaat dan tidak berakhir menjadi bencana alam, ia akan tetap menyediakan ruang terbuka hijau setiap kali melakukan pembangunan. Mengabaikan batas-batas dari Tuhan akan menyebabkan kerusakan sebab pemanfaatan alam oleh manusia tidak selaras dengan karakter air hujan yang meresap ke dalam tanah untuk menyuburkan alam serta menjadi persediaan air minum bagi hewan dan manusia.

Dari perspektif Islam maka pembangunan dengan mengeraskan seluruh permukaan lahan menunjukkan tidak dipahaminya ayat kauniyah terkait sunnatullah alam, sekaligus tidak dipahaminya ayat qauliyah dari Tuhan. Akibatnya terjadilah berbagai bencana alam, di antaranya banjir, sebagai buah dari perbuatan manusia. Pada Surah di atas terdapat solusi yang diberikan Tuhan untuk keluar dari masalah yang disebabkan sendiri oleh tangan manusia, yakni dengan melakukan taubat kepada Tuhan yang mendorong dirinya memahami ayat qauliyah dan ayat kauniyah sebagai kesatuan ayat Tuhan dengan benar. Tanpa langkah ini kerusakan akan terus terjadi yang akan mengancam keberlangsungan hidup seluruh makhluk ciptaan Tuhan.

Masjid di Tengah Deras Hujan

Beberapa waktu belakangan ini Surakarta dan sekitarnya dilanda hujan deras hampir sepanjang hari tanpa jeda yang berarti. Matahari cenderung muncul hanya pada pagi hari, itu pun dengan sinar yang tidak terlalu terik, dan perlahan menghilang seiring memasuki waktu siang berganti awan berwarna hitam bergelantung tebal. Di tengah kerusakan ekologis yang terjadi, banjir tidak terhindarkan dan semakin memperburuk cobaan yang dialami masyarakat di tengah pandemi Covid-19 yang menunjukkan tanda-tanda meningkat kembali.

Yang menjadi perhatian saya dalam tulisan ini adalah fenomena kehadiran masjid yang turut menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan sekaligus turut memperluas dampak yang terjadi. Dua poin tersebut dapat saya jabarkan lebih lanjut. Pertama, masjid tidak menyediakan area resapan air yang memadai. Dalam pembangunan masjid cenderung ruang terbuka sebagai area sisa bangunan masjid dikeraskan dengan bahan paving block maupun aspal untuk digunakan sebagai parkir. Di tengah harga lahan yang terus mengalami kenaikan hingga tak wajar, tanpa sadar nalar efisiensi-ekonomis mempengaruhi kesadaran umat Islam dalam pembangunan masjid. Lahan yang telah dibeli tidak dibiarkan sejengkal pun kosong tanpa mewadahi fungsi, dikarenakan menyisakan lahan untuk ruang terbuka hijau dianggap tidak patut dan dilegitimasi dengan perangkat agama sebagai perbuatan mubadzir. Dampaknya masjid yang pada hakikatnya merupakan rumah Tuhan karena statusnya wakaf tidak terhindarkan dari bencana banjir. Masjid yang seharusnya menjadi teladan dan merupakan ruang menumbuhkan harapan bagi para korban, justru terlibat sebagai pelaku sekaligus korban.

Kedua, masjid menggunakan unsur arsitektural yang tidak konteks dengan karakter iklim tropis di Indonesia yang memiliki curah hujan terbilang tinggi. Preferensi penggunaan unsur arsitektur masjid di Indonesia cenderung diwarnai motif identitas, seperti penggunaan kubah sebagai penutup atap untuk menunjukkan identitas universal masjid yang merujuk pada jazirah Arab sebagai awal mula Islam maupun atap datar sebagai upaya modernisasi identitas masjid agar tidak terjebak pada tradisionalisme yang beku. Dua jenis atap tersebut tidak sesuai dengan karakter iklim tropis yang membutuhkan lebihan atap lebar untuk melindungi ruang dalam agar tidak terkena sinar matahari yang terik maupun tampias air hujan. Akibatnya ketika musim panas, ruang dalam terasa gerah yang diantisipasi dengan penggunaan teknologi penghawaan buatan semisal AC. Pada musim penghujan yang seringkali disertai angin kencang, dinding dan teras masjid, bahkan ruang utama masjid yang diperuntukkan untuk shalat bagi masjid yang tidak memiliki teras, terkena tampias air hujan. Akibatnya teras masjid tidak aman untuk digunakan karena riskan terpeleset, terlebih tekstur lantai teras terbilang licin dengan tidak mempertimbangkan aspek keamanan pada musim hujan karena faktor estetika belaka. Karpet shalat pun terpaksa digulung di area ruang utama yang terkena air hujan, sehingga mengurangi kenyamanan ibadah dan mengurangi kapasitas jama’ah. Selain itu anggaran perawatan bangunan masjid akan membengkak karena pengecatan ulang dinding masjid harus lebih sering dilakukan sebab terpapar terik matahari dan hujan. Belum lagi atap datar dan kubah riskan bocor yang menuntut disediakannya anggaran lebih untuk dilakukan perawatan rutin.

Dari aspek manajemen, dua poin di atas menunjukkan ketidakmampuan masjid mengelola dana umat. Di satu sisi, dana yang terkumpul di masjid digunakan untuk melakukan pembangunan yang tidak tepat sehingga berdampak negatif pada lingkungan dan jama’ah sebagai pengguna masjid. Di sisi lain, anggaran terbilang besar digelontorkan secara rutin untuk perawatan bangunan masjid akibat keputusan desain yang tidak sesuai dengan kondisi dan karakter iklim tropis di Indonesia. Dana yang seharusnya dapat dialokasikan untuk merealisasikan peran ijtimaiyyah, risalah, dan khidmat, pada akhirnya diorientasikan untuk menjaga kualitas tampilan bangunan masjid sepanjang tahun.

Mencari akar penyebabnya dengan merujuk pada bagian pembahasan sebelum ini tidak lain adalah pemahaman keagamaan umat Islam yang tidak integral. Dalam memahami ayat qauliyah sama sekali tidak melibatkan ayat kauniyah, sehingga sensitivitas umat Islam terhadap alam terbilang lemah yang dibuktikan dengan hampir tidak pernah diselenggarakannya program pendidikan di masjid yang spesifik mengulas permasalahan lingkungan maupun pengajian yang mengintegrasikan pembahasan agama dengan alam, apalagi kegiatan komunal yang berorientasi penjagaan terhadap alam, selain kegiatan bersih-bersih yang itu pun sebatas dilatarbelakangi kebutuhan akan kenyamanan dan keindahan.

Ironis memang, masjid yang merupakan simbolisasi iman yang merujuk pada ayat qauliyah mengancam keberlangsungan dan terancam dari ayat kauniyah, seakan antara kedua ayat Tuhan saling bertentangan dan meniadakan. Bagi umat Islam, masalah yang telah saya gelar, bukan semata persoalan teknis yang dapat diselesaikan dengan pendekatan teknologis, tetapi pertama-tama merupakan persoalan akidah dengan menyatukan kembali dua ayat Tuhan yang telah dipisahkan. Mengulangi kembali bagian sebelumnya dari tulisan ini, taubat merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dan ditindaklanjuti dengan memahami agama sebagai kesatuan ayat Tuhan. Terakhir, ilmu yang benar mengenai kesatuan ayat Tuhan menuntut amal yang tepat. Semoga ke depan, pembangunan maupun perbaikan masjid sebagai rumah Tuhan mengindahkan dan konteks dengan alam agar dapat menjadi rahmat bagi seluruh ciptaan dan tempat berlindung yang aman serta nyaman di kala hujan.

Allahu a’lam bishawab

Ditulis di Kartasura.

Jumadil Akhir 1443 H/Januari 2022

Daftar Rujukan:

Al-Faruqi. Ismail Raji, 2003, Islamisasi Pengetahuan (terj), Bandung: Penerbit Pustaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar